Grid.ID - Dedi Mulyadi beri sindiran keras soal pungli di tempat wisata Jawa Barat saat libur lebaran. Gubernur Jabar soroti fasilitas pantai sampai sampah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi akhirnya buka suara terkait maraknya pungutan liar (pungli) di area tempat wisata di Jawa Barat khususnya saat musim libur Lebaran 2026. Sebelumnya viral curhatan wisatawan asal Bandung, Rina (32) di Pantai Sayang Heulang atau pantai selatan Garut mengalami pungli.
Terbaru, sindiran Dedi Mulyadi soal pungli di tempat wisata Jawa Barat saat libur lebaran jadi sorotan. Gubernur Jabar soroti fasilitas pantai sampai sampah.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi melalui unggahan video terbaru di akun Instagram miliknya pada Sabtu (28/3/2026). Dalam momen libur Lebaran, berbagai destinasi wisata menjadi tujuan favorit dan dipadati oleh masyarakat.
Mulai dari objek wisata terkenal, pegunungan, kawasan perkebunan, pantai, hingga pusat kuliner dan area perbelanjaan ramai dikunjungi. Menanggapi kondisi tersebut, Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa para wisatawan yang datang ke tempat wisata merupakan tamu yang berpotensi membawa rezeki bagi masyarakat setempat.
“Ingat orang datang itu bisa membawa rezeki. Karena orang datang membawa rezeki jangan mempersulit kedatangannya,” ujar Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat itu menyinggung seringkali pengunjung dipersulit di perjalanan dan dipersulit masuk area wisata termasuk pantai karena pungli.
“Banyak sekali masyarakat di area pantai, sibuk sekali dengan pungutan yang pada akhirnya orang malas datang ke situ,” sambungnya.
Ia menegaskan bahwa praktik pungli dapat membuat wisatawan enggan berkunjung, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian. Menurunnya jumlah pengunjung juga bisa berdampak pada para pedagang di lokasi wisata yang menjadi sepi pembeli.
Karena itu, Dedi Mulyadi menyindir kebiasaan sebagian masyarakat yang ingin meraih keuntungan secara instan. Gubernur yang dikenal dengan sebutan KDM tersebut bahkan menilai sikap itu sebagai tindakan yang merugikan diri sendiri.
“Untuk itu semua pihak harus memahami, sikap-sikap yang selalu mengambil keuntungan pada setiap keramaian adalah sikap bunuh diri,” sindirnya.
Dedi Mulyadi juga menyoroti perilaku sebagian masyarakat yang mencari keuntungan hanya untuk kepentingan pribadi. Di sisi lain, saat diminta untuk ikut menata, merawat, serta menjaga kebersihan dan keamanan kawasan wisata, hal tersebut justru kerap diabaikan.
Dedi menegaskan bahwa sikap seperti ini justru dapat memicu kemiskinan, karena menurutnya keindahan tempat wisata tanpa didukung rasa aman dan nyaman akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat Jawa Barat agar tidak mempertahankan praktik pungli jika ingin daerahnya berkembang dan maju.
“Pariwisata hanya akan terbangun dengan citra yang baik, pariwisata bebas pungli adalah harapan karena orang datang ingin mendapat kenyamanan,” ujarnya.
Dedi Mulyadi meyakini bahwa wisatawan yang mengalami pungli bukan hanya soal kerugian uang atau materi melainkan juga karena intimidasi dan ketidaknyamanan.
Menanggapi keluhan wisatawan terkait dugaan pungli di Pantai Sayang Heulang, Garut, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut memberikan penjelasan mengenai tarif resmi yang berlaku.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga, menyampaikan bahwa besaran tarif resmi telah ditentukan dan dipasang di pos penjagaan sebagai pedoman bagi para pengunjung.
"Tarif resmi sudah kami tetapkan dan tempel di pos, mulai Rp10 ribu untuk dewasa di hari biasa, serta parkir motor Rp5 ribu," ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id.
Ia menegaskan, apabila ditemukan pungutan di luar ketentuan tersebut, masyarakat diminta untuk melaporkan. Bahkan, pihaknya mendorong agar oknum yang melakukan pungli direkam sebagai bukti untuk nantinya ditindak secara tegas.
"Silakan viralkan dan saya mohon nanti perlihatkan wajah yang melakukan pungli itu siapa," ungkapnya. (*)
Artikel Asli




