The Wall Street Journal pada 26 Maret mengutip pejabat militer Ukraina yang mengungkapkan bahwa sekitar 200 personel pertahanan udara Ukraina telah dikerahkan ke Timur Tengah. Pengerahan ini bertujuan untuk membantu Amerika Serikat dan sekutu regional menghadapi serangan drone Iran.
Beberapa minggu sebelum kabar ini terungkap, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Kyiv atas permintaan Presiden AS Donald Trump, mengirim para ahli anti-drone ke Timur Tengah.
EtIndonesia. Saat ini, setelah “Operasi Epik Fury”, pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah bersama mitra regionalnya terus menghadapi serangan balasan sengit dari drone dan rudal Iran. Yang paling menjadi sorotan adalah drone seri “Shahed” milik Iran. Drone ini telah terbukti dalam pertempuran sebagai senjata yang sulit dicegat dan memiliki daya hancur tinggi. Pada awal konflik, drone jenis ini bahkan menyebabkan 6 tentara AS tewas di Kuwait serta merusak sejumlah infrastruktur penting setempat.
Alasan utama Ukraina dikerahkan ke Timur Tengah adalah karena mereka sangat berpengalaman menghadapi jenis drone ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah memasok drone serupa kepada Rusia untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina.
Dengan kata lain, Ukraina telah mengumpulkan pengalaman praktis jangka panjang dalam menghadapi drone Iran, dan kini pengalaman tersebut langsung diterapkan di medan perang Timur Tengah.
Perkembangan ini juga memicu perhatian apakah Amerika Serikat sedang mempercepat integrasi kemampuan tempur anti-drone Ukraina ke dalam sistem pertahanan udara di Timur Tengah, guna menghadapi ancaman Iran yang semakin intensif. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





