Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi menjadi kunci utama dalam memperkuat ekonomi nasional, kemandirian energi, serta ketahanan pangan Indonesia di tengah dinamika global.
Potensi Besar Komoditas UnggulanAmran menyebut Indonesia tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah tanpa pengolahan karena nilai tambah justru dinikmati negara lain.
“Kelapa kita kuasai dunia, nomor satu dunia. Masalahnya adalah kelapa dikirim bulat-bulat. Kalau ini diolah menjadi virgin coconut oil, coconut milk, coconut water, nilainya bisa puluhan sampai ratusan kali lipat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti komoditas gambir yang menguasai sekitar 80 persen pasar dunia, namun masih diekspor dalam bentuk setengah jadi.
“Gambir itu 80 persen kita suplai dunia. Tapi yang dikirim setengah jadi. Kalau kita hilirisasi, nilainya ribuan triliun. Nilai tambah tertinggi itu ada di hilir, bukan di hulu,” ungkapnya.
Selain itu, hilirisasi kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dinilai berpotensi besar karena Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi dunia.
Dorong Swasembada dan Ketahanan PanganAmran menegaskan hilirisasi akan membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
“Tidak semua orang senang kalau kita swasembada. Tapi kita akan lanjutkan perjuangan ini. Kita akan jadikan Indonesia besar melalui pangan, energi, dan hilirisasi,” katanya.
Ia juga menyebut keberhasilan Indonesia menekan impor beras hingga 7 juta ton turut berdampak pada penurunan harga beras dunia dari 660 dolar AS per ton menjadi 340 dolar AS per ton.
Menurutnya, ketahanan pangan menjadi faktor strategis karena krisis pangan dapat memicu krisis sosial dan politik.
“Kalau krisis ekonomi, Indonesia mampu bertahan. Kalau krisis kesehatan, COVID-19, Indonesia mampu bertahan. Tapi begitu krisis pangan akan melompat krisis politik dan konflik sosial bisa terjadi,” ujarnya.
Sebagai penutup, Amran menegaskan pemerintah akan terus melanjutkan program hilirisasi dan swasembada pangan sebagai bagian dari visi besar pembangunan nasional.




