Serial Artikel
Prodi Informatika, Masihkah Menjanjikan di Era Kecerdasan Buatan?
Bagaimana pula masa depan prodi Sistem Informasi? Di zaman "big data", benarkah prodi Statisika dan Sains Data yang akan mengemuka?
Lebaran ini terasa berbeda bagi Malik Ghazy (17). Kalau biasanya ia bebas bercengkerama dengan sanak saudara, sekarang siswa kelas XII MAN 13 Jakarta ini harus menyempatkan diri membuka buku. Waktu ujian tulis berbasis komputer (UTBK) sudah di depan mata, tidak sampai sebulan. Ghazy tidak ingin cita-citanya masuk program studi impian kandas.
”Lebaran jadi bawa buku, tapi karena banyak acara ketemu keluarga, enggak selalu bisa buka bukunya, he-he-he,” kata Ghazy, Rabu (25/3/2026).
Saat duduk di kelas XI, ia pernah melihat konten di internet tentang gambaran pekerjaan di dunia pertambangan. Sejak itu, ia ingin mengambil kuliah di bidang perminyakan atau pertambangan.
”Walaupun kelihatan capek, kayaknya seru aja gitu pekerjaan sehari-harinya. Lagi pula, kayaknya aku lebih cocok kerja di lapangan daripada kerja kantoran,” ungkap Ghazy di sela-sela persiapannya pulang ke Jakarta seusai berlebaran di rumah keluarga sang ayah di Pontianak, Kalimantan Barat.
Ghazy melihat, prospek kerja di bidang ini kelak masih bagus mengingat Indonesia kaya akan hasil tambang. Banyak perusahaan tambang besar beroperasi di sini. Ia pun tertarik pada gaji besar yang ditawarkan. ”Setahu aku salary per tahunnya besar,” ungkap Ghazy.
Untuk pendaftaran seleksi nasional bedasarkan tes (SNBT), ia berencana memilih Program Studi (Prodi) Teknik Geomatika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang menurut dia merupakan campuran antara Geodesi dan Informatika. Pilihan lain ia jatuhkan pada prodi teknik perminyakan meski belum memastikan PTN-nya.
Rumpun prodi pertambangan secara konsisten menunjukkan peningkatan peminat. Jika pada 2021 jumlah peminatnya masih 13.296 orang, tahun 2025 sudah mencapai 30.587 orang. Jumlah peningkatan hampir sama terlihat pada teknik industri meskipun pada 2022-2023 pertambahannya sedikit melandai.
Menurut data Sakernas BPS Februari 2025, sektor dengan rata-rata gaji tertinggi adalah pertambangan dan penggalian, diikuti listrik dan gas, serta keuangan dan asuransi. Untuk sektor pertambangan, rata-rata upah bulanan di sektor pertambangan Rp 5,23 juta per bulan, jauh di atas rata-rata upah bulanan seluruh sektor sebesar Rp 3.094.818.
Pada UTBK SNBT 2026, ada empat PTN yang baru saja membuka penerimaan mahasiswa baru untuk teknik perminyakan dan teknik pertambangan, yakni Universitas Sam Ratulangi yang menawarkan 30 kursi, Universitas Syiah Kuala (21 kursi), Universitas Negeri Surabaya (20 kursi), dan Universitas Sumatera Utara (19 kursi). Data selengkapnya dapat dilihat di tabel bawah ini, termasuk untuk tingkat keketatan di PTN-PTN ternama.
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung yang menjadi salah satu favorit memiliki rasio 1:40, artinya satu peserta harus menyingkirkan 40 peserta lain untuk bisa mendapat kursi. Favorit lainnya untuk rumpun ini, UPN Veteran Yogyakarta, mempunyai rasio 1:27 untuk teknik pertambangan dan 1:17 untuk teknik perminyakan.
Rincian mengenai tingkat keketatan dan rasio penerimaan prodi rumpun teknik pertambangan dan perminyakan tersaji lengkap dalam tabel di bawah. Tersedia pula fitur “pencarian” berdasarkan PTN dan prodi serta sortir pada judul kolom, untuk mengurutkan data dari yang paling tinggi ataupun paling rendah.
Prodi di bawah payung STEM (science, technology, engineering, and mathematics) dipandang akan tetap bersinar dalam beberapa tahun ke depan. Peluang ini, menurut konsultan pendidikan dan karier Ina Liem, semestinya bisa ditangkap perguruan tinggi untuk membuka prodi yang lebih spesifik agar lebih selaras dengan perkembangan industri. Misalnya, prodi yang mendalami secara khusus masalah ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy). ”Pendidikan kita masih kurang cepat merespons kebutuhan,” kata Ina, Senin (16/3/2026).
Prodi untuk rumpun teknik energi sebenarnya sudah mulai ada di Indonesia, tetapi belum banyak, baru ada 23 prodi di PTN dan politeknik negeri. Tingkat keketatan masuknya terlihat lebih ”ramah” dibandingkan prodi teknik ”konvensional” lainnya.
Tingkat keketatan paling tinggi pada UTBK 2025 dipegang Prodi Teknik Konservasi Energi Politeknik Negeri Bandung dengan rasio penerimaan 1:24, disusul teknologi rekayasa konversi energi di Institut Sepuluh Nopember Surabaya dengan rasio 1:22. Prodi energi lainnya memiliki rasio di bawah 1:20.
Kondisi lingkungan dan perubahan cuaca mendorong kebutuhan terhadap sumber daya manusia di bidang lingkungan dan energi terbarukan meningkat. Laporan ”Future of Jobs Report 2025” oleh Forum Ekonomi Dunia menyebutkan, insinyur energi terbarukan dan insinyur lingkungan termasuk dalam daftar 15 pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat.
Meski demikian, kebutuhan tenaga di bidang teknik ”tradisional” seperti teknik elektro, sipil, dan mesin, diprediksi masih akan tumbuh positif dan stabil. Peminat prodi teknik sipil sempat merosot pada UTBK 2023. Namun, masih di atas prodi teknik elektro, mesin, industri, dan pertambangan.
Penurunan ini sesaat saja karena pada UTBK 2024 sudah naik kembali, bahkan sedikit melampaui angka pada 2022. Pada UTBK 2025, peminatnya sudah di atas 40.000 orang, paling tinggi dibandingkan teknik lainnya.
Prodi teknik industri menunjukkan peningkatan drastis jumlah peminat sejak 2021 hingga 2025, yakni dari 20.007 peminat menjadi 37.302 peminat. Sementara daya tampungnya mengalami peningkatan meskipun tidak besar, yakni rata-rata 139 kursi per tahun.
Dalam laporan ”Future of Jobs Report 2025”, insinyur industri dan produksi diperkirakan akan memegang peranan penting, seiring adopsi teknologi baru dalam transformasi sektor manufaktur global pada tahun 2030.
Selain manufaktur, keahlian yang juga dibutuhkan dalam industri yang bergantung pada rantai pasok global adalah di bidang otomotif, dirgantara, elektronik, pertambangan, dan logistik.
Pada tahun 2030, lanskap sektor elektronik diperkirakan dibentuk meningkatnya upaya mitigasi terhadap perubahan iklim, keberlanjutan ekonomi digital, serta menyusut dan menuanya tenaga kerja.
Dengan adopsi teknologi, seperti akal imitasi (AI), robotika, dan energi, pertumbuhan pekerjaan di bidang elektronika diperkirakan akan mengarah pada spesialis AI dan machine learning serta insinyur elektroteknologi, bukan sekadar lagi insinyur elektro. Jika teknik elektro fokus mengenai kelistrikan, elektroteknologi merupakan penerapan praktis disiplin ilmu teknik elektro pada berbagai perangkat teknologi modern.
Hingga kini, prodi teknik elektro masih melimpah peminatnya, meskipun di bawah teknik sipil, industri, pertambangan, dan mesin. Kurva tren peminatnya secara umum masih terus naik dalam lima tahun terakhir meskipun sempat melandai bahkan sedikit turun pada tahun 2023.
Di jenjang S-1, prodi teknik elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) paling tinggi tingkat keketatannya dibandingkan prodi yang sama di Universitas Padjadjaran dan Universitas Gadjah Mada.
Sebaliknya, ada beberapa PTN yang belum lama membuka prodi ini kelebihan kursi karena peminatnya masih sangat sedikit. Kemungkinan besar, keberadaan prodi di PTN-PTN tersebut belum banyak diketahui banyak orang.
Teknik arsitektur tampak paling banyak kehilangan peminat meskipun rata-rata peminatnya dalam lima tahun terakhir masih tinggi, 14.655 orang. Prodi ini mengalami pertumbuhan minus 3,8 persen.
Penurunan minat diduga karena pengaruh naik daunnya pekerjaan di dunia teknologi, seperti spesialis AI, mahadata, dan teknologi keuangan. Fenomena ini mengalihkan minat orang dari bidang teknik atau arsitektur tradisional ke bidang digital yang menawarkan pertumbuhan gaji lebih cepat.
Sumber daya manusia di sektor ini perlu rajin meningkatkan keterampilannya agar tidak mudah tergusur. Meskipun keterampilan arsitektur sangat mengandalkan kreativitas dan inovasi, kemampuan ini kerap kali ”kurang terlihat” yang membuat bidang ini kehilangan peminat, sekaligus dirasa terlalu berat untuk ditekuni.
Dengan dominasi peran AI dan energi terbarukan, teknik mesin tidak termasuk dalam 15 besar pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat, menurut ”Future of Jobs Report 2025”. Meski demikian, perannya diperkirakan terus dibutuhkan dalam peta tenaga kerja global, terutama terkait mekanik dan perbaikan mesin yang butuh kemahiran manual tingkat tinggi yang hingga kini belum mampu dilakukan oleh AI.
Insinyur mekanik masa kini perlu memiliki kemampuan menggabungkan keahlian teknik tradisional dengan kecakapan digital. Secara umum, dengan serbuan teknologi otomatisasi dan AI, insinyur teknik perlu meningkatkan kemampuannya dalam berpikir analitik dan sistemik, kreatif, resilien, serta terliterasi dengan teknologi dan AI.





