Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam perilaku regional Iran yang disebutnya sebagai "bully" sejak lama di kawasan Timur Tengah. Trump kemudian mengklaim bahwa pengaruh Teheran di kawasan tersebut kini semakin berkurang di bawah operasi militer Washington.
AS, bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
"Selama 47 tahun, Iran dikenal sebagai bully di Timur Tengah, tetapi mereka bukan lagi bully. Mereka sedang dalam pelarian," kata Trump saat berbicara dalam forum Future Investment Initiative (FII), konferensi bisnis Arab Saudi yang digelar di Miami, Florida, AS, seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (28/3/2026).
Trump berargumen bahwa "agresi teror" dan "pemerasan nuklir" Iran telah mendefinisikan sikap negara itu selama beberapa dekade. Dia memuji operasi militer AS, yang diberi nama Operation Epic Fury, yang disebutnya telah melemahkan kemampuan Teheran.
"Seperti yang Anda ketahui, kita berkumpul pada saat tindakan berani dan keputusan bersejarah untuk membuat Amerika dan sekutu-sekutu kita lebih aman dan lebih kuat, lebih makmur, lebih sukses dari sebelumnya. Itulah yang sedang terjadi," sebutnya dalam konferensi bisnis pada Jumat (27/3).
"Malam ini, kita lebih dekat dari sebelumnya pada kebangkitan Timur Tengah yang akhirnya terbebas dari agresi teror dan pemerasan nuklir Iran," ucap Trump.
(nvc/imk)





