JAKARTA, KOMPAS-Rekayasa lalu lintas berupa one way dan contraflow masih diberlakukan di sejumlah ruas Tol Trans Jawa. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kemacetan di momen terakhir arus balik Idul Fitri.
Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan A. Purwantono ketika meninjau arus lalu lintas di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung Jalan Tol Batang-Semarang pada Sabtu (28/3/2026). Saat itu, Rivan mendampingi kunjungan kerja Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Berdasarkan data Jasa Marga hingga Jumat (27/3/2026), tercatat 2,5 juta kendaraan telah menuju wilayah Jakarta. Jumlah itu setara 75 persen dari proyeksi lalu lintas yang kembali ke Jakarta Bogor Tangerang Bekasi sebesar 3,39 juta pada periode 11-31 Maret 2026.
Hal ini menunjukkan masih ada 25 persen pengguna jalan masih akan melakukan perjalanan arus balik pada 28–29 Maret 2026. Seperti momen sebelumnya, perjalanan mereka harus dijamin aman dan nyaman.
Bekerjasama dengan polisi, Rivan mengatakan, rekayasa lalu lintas itu ditetapkan berdasarkan pemantauan lalu lintas melalui Jasa Marga Tollroad Command Center. Beberapa titiknya ada di Tol Batang-Semarang, Tol Semarang ABC, Tol Semarang-Solo hingga Tol Solo-Ngawi.
“Dengan dukungan layanan dan infrastruktur yang optimal, kami berupaya menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, lancar dan berkeselamatan selama di jalan tol,” ujar Rivan.
Rekayasa lalu lintas itu, kata Rivan, diimbangi kesiapan kondisi jalan dan rest area di sekitarnya. Pengguna jalan dapat mengoptimalkan rest area alternatif di sekitar akses keluar tol di sepanjang Tol Trans Jawa.
“Lokasinya dari Jalan Tol Semarang–Solo KM 444 hingga Jalan Tol Jakarta–Cikampek KM 72. Keberadaannya diharapakan meminimalkan kepadatan di rest area utama,” tambah Rivan.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, terus berusaha memastikan kualitas infrastruktur jalan tol tetap terjaga. Salah satu fokusnya, pengaruh hujan yang masih berlangsung.
Perbaikan jalan, kata Dody, telah diselesaikan sebelum H-10 Lebaran. Namun, curah hujan tinggi, peningkatan volume lalu lintas, serta masih ditemukannya kendaraan angkutan barang yang melintas saat masa pembatasan, berpotensi memicu jalan berlubang.
“Apabila ditemukan jalan berlubang, kami instruksikan agar segera dilakukan perbaikan maksimal dalam waktu 1x24 jam sehingga tidak mengganggu kelancaran arus balik,” kata Dody.





