FAJAR, SURABAYA — Dalam sepak bola, ketajaman seorang striker tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu sistem yang tepat untuk kembali muncul.
Dan dalam konteks itu, nama Ramadhan Sananta kembali menjadi bahan perbincangan.
Penyerang yang kini membela DPMM FC itu tengah berada dalam fase yang “menggantung”. Secara jam bermain, ia stabil. Secara peran, ia masih dipercaya. Namun dari sisi produktivitas, grafiknya belum benar-benar meyakinkan.
Dua gol dari 18 pertandingan bukanlah angka yang mencerminkan reputasinya sebagai predator kotak penalti.
Antara Potensi dan Sistem yang Tak Selaras
Sananta bukan striker biasa. Ia pernah menunjukkan kapasitasnya sebagai finisher tajam saat membawa PSM Makassar juara Liga 1 musim 2022/2023.
Di bawah tangan dingin Bernardo Tavares, ia berkembang bukan hanya sebagai pencetak gol, tetapi juga sebagai striker yang memahami ruang dan timing.
Artinya, masalahnya bukan semata pada kualitas individu.
Melainkan konteks permainan.
Di DPMM FC, Sananta terlihat belum sepenuhnya mendapatkan ekosistem yang mendukung karakter bermainnya. Ia kerap terisolasi, minim suplai bola matang, dan dipaksa bermain lebih jauh dari area idealnya.
Bagi striker tipe poacher, itu adalah kondisi yang mematikan.
Persebaya dan Krisis yang Terbuka Lebar
Di sisi lain, Persebaya Surabaya justru berada dalam situasi yang berkebalikan: mereka punya aliran serangan, tetapi tidak memiliki eksekutor utama.
Kekalahan telak dari Borneo FC menjadi potret paling jelas. Bukan hanya soal kebobolan lima gol, tetapi tentang betapa tumpulnya lini depan Green Force.
Tanpa kehadiran striker murni—terutama setelah absennya Mihailo Perovic—serangan Persebaya kehilangan titik akhir.
Permainan terlalu bergantung pada Bruno Moreira dan Paulo Henrique. Ketika dua nama ini dimatikan, alur serangan ikut terhenti.
Dalam sepak bola modern, itu adalah kelemahan fatal.
Mengapa Sananta Masuk Akal?
Di sinilah nama Sananta menjadi relevan.
Ia adalah tipe striker yang dibutuhkan Persebaya: kuat di kotak penalti, agresif dalam duel, dan punya insting gol yang terbukti. Lebih penting lagi, ia sudah mengenal filosofi bermain Bernardo Tavares.
Koneksi ini bukan hal kecil.
Dalam banyak kasus, pelatih cenderung mencari pemain yang sudah memahami sistemnya. Itu mempercepat adaptasi dan meminimalkan risiko kegagalan transfer.
Jika reuni ini terjadi, Persebaya tidak hanya mendapatkan striker—tetapi juga mendapatkan “pemahaman taktik instan”.
Soal Timing: Gratis atau Cepat?
Kontrak Sananta bersama DPMM FC yang berakhir pada Juni 2026 membuka dua skenario:
Menunggu hingga kontrak habis → gratis, minim risiko finansial
Datang lebih cepat → solusi instan untuk krisis lini depan saat ini
Ini menjadi dilema klasik dalam manajemen klub: efisiensi atau urgensi.
Namun melihat kondisi Persebaya saat ini, kebutuhan striker sudah berada di level darurat. Menunggu terlalu lama bisa berarti kehilangan momentum kompetisi.
Lebih dari Sekadar Transfer
Jika transfer ini terjadi, dampaknya tidak hanya pada lini depan.
Ia bisa mengubah struktur permainan Persebaya secara keseluruhan.
Dengan adanya target man:
Bruno Moreira bisa bermain lebih bebas
Lini tengah punya opsi distribusi yang lebih jelas
Pola serangan tidak lagi mudah ditebak
Dan yang paling penting: tekanan terhadap lini belakang bisa berkurang, karena tim tidak terus-menerus kehilangan bola di fase akhir.
Momentum yang Menentukan Arah
Di level tim nasional, Sananta masih harus bersaing di bawah John Herdman untuk membuktikan dirinya layak menjadi pilihan utama.
Namun di level klub, peluang untuk “lahir kembali” justru terbuka lebih lebar.
Sepak bola sering kali bukan tentang siapa pemain terbaik, tetapi siapa yang berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.
Dan jika Persebaya benar-benar serius membangun ulang ketajamannya, maka satu pertanyaan layak diajukan:
Apakah ini saat yang tepat untuk memulangkan Ramadhan Sananta ke sistem yang pernah membuatnya bersinar?





