Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) menyiapkan rencana akuisisi lahan perkebunan anyar sebagai strategi pengembangan bisnis perseroan pada 2026.
Dalam keterangan resminya, manajemen CSRA menilai peluang pertumbuhan emiten perkebunan kelapa sawit pada tahun ini cenderung terbuka. Kendati rencana penerapan B50 ditunda pada tahun ini, serapan energi berbasis CPO dinilai masih tinggi, dengan mandatori B40 menjadi jangkar permintaan.
Mengutip Laporan Outlook Industri Kelapa Sawit Q1 2026 yang dirilis oleh IPOSS, manajemen menilai bahwa penyerapan produk hasil kelapa sawit tidak hanya mengandalkan pasar ekspor, tetapi telah didominasi pasar dalam negeri.
Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis Cisadane Sawit Raya Seman Sendjaja, menerangkan bahwa CSRA berupaya memaksimalisasi peluang yang ada untuk mempercepat aksi ekspansi perusahaan, baik secara organik maupun investasi strategis.
”Perusahaan telah menerapkan strategi yang komprehensif untuk secara aktif meninjau dan mengidentifikasi berbagai peluang dalam mengakuisisi lahan baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Seman menerangkan, CSRA saat ini tengah membidik lahan anyar di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan yang berdekatan dengan area perkebunan yang telah dimiliki perseroan melalui entitas usaha PT Daya Agro Lestari.
Baca Juga
- Cisadane Sawit (CSRA) Bukukan Laba Bersih Tumbuh 25,09% pada 2025
- Laba Bersih Cisadane Sawit (CSRA) Naik 70,59% Kuartal III/2025
- Cisadane Sawit (CSRA) Tebar Dividen Interim Rp12,20 per Saham, Cek Jadwalnya
Pengembangan ini dinilai sebagai langkah strategis dan dilakukan guna mempermudah proses integrasi operasional, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, hingga optimalisasi infrastruktur dan sistem logistik yang telah tersedia.
”Sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Nantinya lahan baru tersebut akan dikelola oleh entitas perseroan yaitu PT Bintang Kenten Lestari,” katanya.
Hanya saja, belum terang kapan aksi pengambilalihan lahan baru itu akan berlangsung dan kesiapan dana CSRA dalam melakukan aksi akuisisi itu. Namun, 2026 dinilai menjadi tahun yang penting bagi perseroan untuk melaksanakan tujuan strategis dan percepatan kemajuan di seluruh lini perusahaan.
”Penguatan arus kas menjadi salah satu fokus utama perseroan dalam menjaga stabilitas keuangan, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan tersedianya sumber pendanaan internal yang memadai untuk mendukung berbagai program pengembangan usaha,” katanya.
Kinerja CSRA 2025
Melansir laporan keuangan perseroan, CSRA mampu membukukan pendapatan senilai Rp1,88 triliun sepanjang tahun lalu. Realisasi itu mencerminkan pertumbuhan pendapatan hingga 77,10% year-on-year (YoY) dibandingkan Rp1,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan CSRA besar didorong oleh penjualan minyak dan inti sawit yang telah tumbuh 109,86% YoY menjadi Rp1,71 triliun dari Rp814,95 miliar pada periode Januari—Desember 2024. Sementara itu, segmen pendapatan dari industri perkebunan justru susut 18,00% YoY menjadi Rp206,45 miliar pada 2025.
Manajemen dalam keterangan resminya, mengatakan naiknya pendapatan perseroan terutama didorong oleh tingginya kuantitas penjualan CPO yang memiliki nilai tambah dan dikombinasikan dengan tingginya harga jual rata-rata yang didapatkan CSRA.
Sejalan dengan melesatnya pendapatan perseroan, CSRA juga membukukan beban pokok pendapatan yang membengkak hingga 111,36% YoY menjadi Rp1,23 triliun pada 2025, dari Rp582,89 miliar pada periode yang sama 2024.
Membengkaknya beban pokok pendapatan CSRA terutama disebabkan oleh beban pokok produksi minyak sawit dan inti sawit yang tumbuh menjadi Rp1,16 triliun pada tahun lalu, dibandingkan Rp448,55 miliar pada 2024.
Alhasil, CSRA hanya mampu membukukan laba bruto senilai Rp657,22 miliar pada 2025. Realisasi ini mencerminkan kenaikan 35,82% YoY dari Rp483,86 miliar pada periode yang sama 2024.
Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, CSRA akhirnya mampu membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk atau laba bersih senilai Rp268,77 miliar atau bertumbuh 25,09% YoY dari Rp214,85 miliar pada 2024.
Dari sisi neraca, CSRA membukukan total aset senilai Rp2,52 triliun per Desember 2025, naik dari Rp2,25 triliun pada Desember 2024. Kenaikan terutama disebabkan oleh kenaikan total aset tidak lancar menjadi Rp1,96 triliun pada tahun lalu.
Sejalan dengan meningkatnya aset, liabilitas perseroan turut membengkak menjadi Rp1,05 triliun per Desember 2025, dari Rp952,71 miliar pada periode yang sama 2024. Namun, ekuitas perseroan turut naik menjadi Rp1,46 triliun per Desember 2025 dari Rp1,29 triliun pada 2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





