Krisis geopolitik akibat perpecahan perang Amerika Serikat dengan Iran tak semata soal ancaman meningkatnya harga minyak dunia. Konflik tersebut ternyata berimbas pada industri lain yang bergantung pada jalur laut yakni Selat Hormuz sebagai bagian nadi aktivitas bisnis.
Dilansir Reuters, industri ekspor mobil bekas global ikut terkena efek berantai akibat perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Gangguan jalur pelayaran membuat ribuan kendaraan tertahan di laut dan memukul pelaku usaha otomotif lintas negara.
Salah satu bisnis yang terdampak adalah milik Hyder Ali, seorang pria dari kawasan Asia Selatan yang telah tinggal di Jepang lebih dari dua dekade. Ia menjalankan jual beli mobil bekas ke Timur Tengah hingga benua Afrika.
Mobil-mobil bekas yang dipakai di Jepang memang menjadi favorit di negara-negara Asia Selatan hingga Afrika karena harga serta keandalan dan kualitas yang telah teruji. Karena konflik ini, sebanyak 500 unit mobil yang ia kirim tak dapat merapat ke Sri Lanka.
Pelabuhan tujuan mendadak penuh akibat pengalihan kargo dari Dubai yang terdampak gangguan jalur pelayaran di dekat perairan negara Iran yang sedang bergejolak. Ali bilang, kargonya itu baru bisa dibongkar setelah mengalami keterlambatan lebih dari 10 hari.
“Mobil-mobil yang sudah kami kirim ke Sri Lanka seperti terombang-ambing di laut, menunggu untuk masuk karena tidak ada ruang,” ujar Hyder Ali sembari menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat biaya operasional melonjak dan jadwal distribusi berantakan.
Ternyata tidak hanya mobil reguler, logistik kendaraan mewah turut terdampak konflik perang tersebut. Sebut saja merek-merek Rolls-Royce, Lamborghini, hingga Ferrari yang lama terdampar di lautan karena kapal yang memuatnya tak dapat bersandar di Dubai.
Pengiriman mobil bekas eks Jepang dan Korea Selatan merupakan bisnis miliaran USD. Didominasi beberapa perusahaan kecil, rantai perdagangan ini menyumbang sekitar USD 19 miliar atau setara Rp 304 triliun hanya untuk sepanjang tahun lalu.
Uni Emirat Arab (UEA) bahkan menjadi tujuan ekspor terbesar Jepang dengan total hingga 224 ribu unit atau sekitar 15 persen total pengiriman. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital pengiriman menuju Dubai.
Kemacetan pelabuhan bahkan memicu kepanikan di kalangan perusahaan pelayaran Jepang. Beberapa operator memilih membatalkan pengiriman, sementara lainnya mengusulkan pengalihan kargo ke Pakistan atau China.
Hyder Ali mengaku ada perusahaan yang meminta deposit tambahan hingga USD 5.000 per mobil atau sekitar Rp 80 jutaan (asumsi kurs lebih kurang Rp 16.000). Perusahaannya, Kobe Motor yang berbasis di Yokohama biasanya mengirim sekitar 18 ribu mobil setiap tahun
Opsi pengiriman udara sebenarnya tersedia, tetapi biayanya sangat mahal. Hyder Ali mengatakan hanya pelanggan kelas atas yang mampu menggunakan metode tersebut. Bagi mayoritas pembeli, menunggu situasi stabil menjadi satu-satunya pilihan realistis.
Dampak serupa juga terasa bagi Korea Selatan. Konflik justru terjadi saat periode tersibuk diler mobil bekas yakni Maret-September ketika permintaan Timur Tengah biasanya meningkat. Aktivitas di kompleks penyimpanan kendaraan Pelabuhan Incheon disebut melambat drastis.
Kang Tae-yang, pejabat perusahaan pelayaran setempat, menyebut lebih dari 70 persen kendaraan kini tertahan di area penyimpanan. Beberapa kapal memilih berhenti di tengah perjalanan atau mengubah rute demi menghindari wilayah konflik.
Salah satu perusahaan pengiriman mobil bekas asal Korea Selatan, Ventus Auto sangat bergantung pada pasar UEA. Ketidakpastian posisi kargo di laut membuat risiko bisnis meningkat drastis.
“Saat ini praktis tidak ada solusi,” ujar Presiden Ventus Auto, Yun Seung-hyun yang menggambarkan situasi industri mobil bekas global yang kini ikut terseret pusaran konflik geopolitik.





