Forum Praksis ke-18: Sosialisme Abad 21 Dinilai Gagal di Tengah Tekanan Global

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Gagasan “sosialisme abad ke-21” dinilai mengalami kegagalan setelah melalui berbagai dinamika politik dan ekonomi di Amerika Latin. Hal ini mengemuka dalam Forum Praksis seri ke-18 yang digelar oleh PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) ke-18 di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Dalam forum bertema “Berakhirnya Sosialisme Abad ke-21” tersebut, dosen Program Studi Ketahanan Nasional SKSG UI, Nur Iman Subono, menjelaskan bahwa konsep ini awalnya hadir sebagai alternatif dari kapitalisme neoliberal maupun sosialisme klasik. Model tersebut menekankan peran negara yang kuat, namun tetap menjaga demokrasi partisipatif serta keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial.

Menurut Subono, sosialisme abad ke-21 memiliki tiga pilar utama, yakni kepemimpinan populis berbasis gerakan massa, program sosial komunitas seperti kesehatan dan pendidikan, serta penguasaan negara atas sumber daya alam. Dalam praktiknya, pendekatan ini diterapkan secara berbeda di sejumlah negara Amerika Latin seperti Venezuela, Bolivia, dan Ekuador.

Ia menyebut implementasi paling radikal terjadi di Venezuela pada era Hugo Chávez, yang mengadopsi konsep ini sebagai respons terhadap krisis ekonomi akhir 1990-an. Namun kebijakan nasionalisasi yang luas justru berujung pada krisis ekonomi berkepanjangan, hiperinflasi, hingga eksodus besar-besaran warga. Situasi tersebut diperparah dengan intervensi Amerika Serikat, termasuk penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.

Sementara itu di Bolivia, model ini dijalankan secara lebih pragmatis di bawah kepemimpinan Evo Morales. Negara tersebut tetap melakukan nasionalisasi sumber daya alam, namun secara bertahap membuka kompromi dengan pihak Barat. Adapun di Ekuador, perubahan arah terjadi setelah masa pemerintahan Rafael Correa, ketika kebijakan sosial progresif beralih menjadi lebih pro-bisnis di era penerusnya.

Subono juga menyoroti faktor eksternal yang mempercepat kegagalan model ini, termasuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kembali menghidupkan semangat Doktrin Monroe melalui pendekatan yang disebut sebagai “Trump Corollary”. Kebijakan ini bertujuan membatasi pengaruh Tiongkok dan Rusia di Amerika Latin, sekaligus memperkuat dominasi AS di kawasan tersebut.

Selain itu, faktor internal seperti krisis ekonomi, korupsi sistemik, lemahnya institusi negara, serta ketergantungan pada komoditas turut memperburuk kondisi. Penurunan harga komoditas global sejak 2014 juga disebut menjadi salah satu pemicu melemahnya fondasi ekonomi negara-negara yang menerapkan model ini.

Dalam paparannya, Subono menegaskan bahwa kegagalan sosialisme abad ke-21 tidak semata-mata disebabkan oleh ideologinya, melainkan oleh dinamika geopolitik global yang kompleks. Ia menyebut bahwa kepentingan strategis negara besar lebih dominan dibandingkan tujuan keadilan sosial yang diusung model tersebut.

“Kisah tentang gagalnya sosialisme abad ke-21 bukan kisah tentang berakhirnya sosialisme, melainkan cerminan dari geopolitik abad ke-21 yang tidak mengenal pemenang permanen,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Klaim Serang Hotel di Dubai yang Menampung Personel Militer AS
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Sebut Jumlah Kecelakaan Selama Lebaran 2026 Turun 7,8 Persen
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan BBM di Inggris, Harga Melonjak
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Film Aku Harus Mati Sindir Gaya Hidup Mewah Semu
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Malam Bersejarah Reijnders Bersaudara: Tijjani Menangkan Belanda, Eliano Bela Indonesia
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.