JAKARTA, KOMPAS – Peningkatan produksi sektor peternakan terus didorong untuk mewujudkan ketahanan pangan serta pemenuhan gizi masyarakat. Meski begitu, prinsip keberlanjutan harus dipastikan untuk menekan dampak pada lingkungan.
Asisten Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Thanawat Tiensin dalam diskusi pada pertemuan “International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry” di Jakarta, Sabtu (28/3/2026) mengatakan, hasil produksi pada sektor peternakan harus terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Produk peternakan seperti daging, susu, dan telur menjadi sumber protein berkualitas tinggi yang diperlukan untuk meningkatkan gizi masyarakat.
Meski begitu, ia menyampaikan, sektor peternakan punya dampak buruk pada lingkungan, khususnya dari limbah yang dihasilkan. Sektor peternakan turut berkontribusi pada emisi gas rumah kaca yang berasal dari kotoran ternak. Itu sebabnya, produksi peternakan harus dijalankan secara berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan.
“Pada akhirnya, peternak dan produsen harus sejahtera. Konsumen pun harus mendapatkan manfaat kesehatan dari produk peternakan tersebut,” ujar Thanawat.
Ia menyebutkan, sektor peternakan di Asia telah mengalami transformasi yang signifikan. India bahkan saat ini telah menjadi produsen susu terbesar di dunia. Sejumlah negara lain juga terus meningkatkan produksinya, termasuk China. Susu dinilai menjadi salah satu sumber gizi yang baik.
Peternak dan produsen harus sejahtera. Konsumen pun harus mendapatkan manfaat kesehatan dari produk peternakan tersebut.
Menurut dia, kolaborasi lintas sektor pada skala regional dan global harus dilakukan untuk mewujudkan keberlanjutan sektor peternakan. Sebagai langkah konkret, FAO bersama para mitra telah menyusun Rencana Aksi Global untuk Transformasi Peternakan Berkelanjutan.
Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi panduan peningkatan produksi sektor peternakan dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan. FAO pun mendorong penerapan Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP) sebagai pedomanan dan penilaian penerapan peternakan yang berkelanjutan.
Selain itu, FAO juga terus mengembangkan kerangka One Health untuk memastikan keseimbangan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Penyakit pada hewan serta zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia masih menjadi tantangan besar yang dihadapi.
“Oleh karena itu, kerja sama sangat penting untuk mengurangi wabah dan meningkatkan kesehatan hewan,” ucap Thanawat.
Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sondang Widya Estikasari menyampaikan, keamanan pangan menjadi salah satu faktor yang juga tidak kalah penting dalam keberlanjutan sektor peternakan. Hasil produk peternakan yang beredar harus dipastikan aman dan berkualitas.
“Keberlanjutan sektor peternakan harus dimulai dari aspek paling mendasar yaitu keamanan pangan. Tanpa keamanan, tidak akan ada kepercayaan dari masyarakat yang akan mengonsumsi produk tersebut,” tuturnya.
Sondang menyebutkan, pengawasan terus diperkuat untuk memastikan keamanan pangan di masyarakat. BPOM menerapkan pendekatan berbasis sains dan risiko dalam pengawasan produk pangan, termasuk produk hasil peternakan seperti susu. Pengawasan tersebut dilakukan mulai dari pre-market atau sebelum produk beredar sampai post-market saat produk sudah beredar.
Dalam pengawasan juga sudah dilakukan dengan sistem berbasis teknologi. Digitalisasi digunakan untuk meningkatkan penelusuran dan deteksi risiko terkait keamanan pangan. Lewat teknologi, deteksi bisa lebih cepat sehingga respons yang dilakukan bisa lebih baik.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nunung Nuryartono mengatakan, produk susu menjadi salah satu hasil peternakan yang cukup krusial sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Inovasi dan riset pun terus didorong untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk susu nasional.
Ia menyebutkan, ketergantungan impor pada produk susu masih sangat tinggi yang mencapai 80 persen. Saat ini, produk susu masih didominasi oleh peternak kecil. Selain itu, produktivitas dari peternak sapi perah masih rendah serta akses terhadap pakan berkualitas juga terbatas. Tekanan pada lingkungan pun cukup besar dihasilkan dari sektor peternakan.
Nunung menyampaikan, sejumlah inovasi telah dihasilkan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas produk susu dalam negeri. Hal itu mulai dari perbaikan genetik untuk menghasilkan bibit sapi unggul, peternakan cerdas berbasis IoT (internet of things), serta inovasi pada pakan. Sejumlah inovasi sudah siap untuk diterapkan di masyarakat.
“Inovasi harus terjangkau dan dapat diakses oleh peternak skala kecil. Ini penting untuk turut meningkatkan kesejahteraan para peternak,” ujarnya.




