SURABAYA, KOMPAS - Jumlah kendaraan yang masuk ke Surabaya, Jawa Timur, pada masa arus balik Lebaran 2026 tercatat masih tinggi pada H+7 Hari Raya Idul Fitri atau Sabtu (28/3/2026). Pemerintah Kota Surabaya pun mengantisipasi gelombang kedatangan penduduk dari luar daerah.
Menurut data PT Jasamarga Surabaya-Mojokerto, jumlah kendaraan yang masuk ke Surabaya melalui Gerbang Tol (GT) Warugunung sejak H-10 Idul Fitri sampai Sabtu ini tercatat hampir 460.000 unit. Jumlah itu setara dengan kendaraan yang meninggalkan Surabaya melalui GT Warugunung.
”Pergerakan kendaraan selama hari raya naik sekitar 40 persen dibandingkan situasi normal atau bukan musim liburan,” kata Direktur Utama PT Jasamarga Surabaya-Mojokerto Dominikus Hari Pratama dalam keterangan tertulis, Sabtu.
Hari melanjutkan, berdasarkan data harian, puncak arus balik sebenarnya sudah terjadi yakni pada Selasa (24/3/2026) atau H+2 Idul Fitri. Pada hari itu, GT Warugunung dilintasi 46.000-47.000 kendaraan menuju Surabaya. Kenaikannya hampir 160 persen dibandingkan dengan situasi normal.
Pada Sabtu ini dan Minggu (29/3) besok, jumlah kendaraan yang menunju ke Surabaya masih cukup banyak dan diperkirakan secara harian mencapai 36.000-37.000 kendaraan. Arus balik diprediksi berlangsung sampai Minggu besok mengingat hari berikutnya para pelajar mulai bersekolah.
Arus balik yang terus berlangsung itu berdampak pada meningkatnya kepadatan lalu lintas di Surabaya. Pada Jumat (27/3) malam, sejumlah jalan arteri, yakni Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Darmo, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Diponegoro, dan Jalan Gubernur Suryo, cukup padat. Mulai ada kemacetan, terutama di persimpangan, meskipun tidak akut.
Menurut Kepala Polda Jatim Inspektur Jenderal Nanang Avianto, lalu lalang kendaraan di provinsi dengan 38 kabupaten/kota itu selama musim liburan Nyepi dan Idul Fitri meningkat 20 persen dibandingkan dengan situasi normal.
”Peningkatan tentunya terjadi karena ada mobilitas mudik dan balik. Selain itu, mobilitas merayakan hari raya dengan silaturahim dan menuju objek wisata,” kata Nanang. Pergerakan kendaraan pribadi di wilayah Jatim diperkirakan mencapai 2-3 juta unit.
Mobilitas di provinsi berpopulasi 41 juta jiwa ini berdampak pada kepadatan lalu lintas di jalan utama. Salah satu contohnya, terjadi kemacetan di jalan raya nasional yang melintasi Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.
Kemacetan ini dampak dari lonjakan volume kendaraan dan ketiadaan prasarana lanjutan, yakni jalan layang atau simpang susun di wilayah Mengkreng. Simpang ini menghubungkan wilayah Jombang-Nganjuk ke Kediri-Tulungagung-Trenggalek.
Tingginya mobilitas masyarakat dengan kendaraan pribadi juga berdampak terhadap terjadinya kecelakaan. Mengutip data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, pada 14-27 Maret 2026, tercatat 488 kecelakaan di wilayah Polda Jatim. Akibat kecelakaan ini, sebanyak 16 orang meninggal, 58 orang luka berat, dan 788 orang luka ringan.
Pergerakan kendaraan selama hari raya naik sekitar 40 persen dibandingkan situasi normal atau bukan musim liburan
Sementara itu, jumlah penumpang kapal yang datang melalui Pelabuhan Tanjung Perak juga masih tinggi. Sampai Jumat (27/3), jumlah penumpang yang turun di pelabuhan itu mencapai 121.000-122.000 orang. Jumlah ini meningkat 3.000-4.000 orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya pun mengalami situasi serupa. Pada 11-26 Maret 2026, ada 356.000-357.000 penumpang yang turun di seluruh stasiun wilayah Daop 8. Beberapa stasiun besar di wilayah itu ialah Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, dan Malang Kota.
”Dari sisi penjualan tiket, sudah tercapai 85 persen dari kapasitas yang disediakan sampai 1 April 2026,” ujar Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono.
PT KAI Daop 8 Surabaya menyediakan sekitar 561.000 kursi untuk angkutan Lebaran 2026. Sampai saat ini, telah terjual 472.000 kursi. Pergerakan arus balik dari dan menuju Surabaya dengan kereta api diperkirakan masih akan terjadi sampai tiga-empat hari mendatang.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.12.2/7333/436.7.11/2026 tentang Antisipasi dan Pengendalian Mobilisasi Penduduk setelah Libur Hari Raya Idul Fitri Tahun 2026/1447 Hijriah.
Warkat yang ditujukan kepada 154 lurah dan 31 camat ini bertujuan mengantisipasi dan mengendalikan migrasi penduduk dari luar Surabaya.
”Camat dan lurah patut lebih selektif menerima permohonan pindah datang dari luar kota,” kata Sekretaris Kota Surabaya Lilik Arijanto. Para lurah dan camat dapat meminta pengurus RT/RW untuk melakukan verifikasi lapangan dan pemantauan permohonan pindah datang penduduk.
Warga dengan kartu tanda penduduk luar Surabaya, kata Lilik, dikenai wajib lapor ke RT/RW. Langkah ini diklaim untuk menjaga stabilitas sosial dan ketertiban administrasi kependudukan.
Lilik menambahkan, pengawasan mobilitas penduduk dari luar kota ini penting sebagai mitigasi terhadap potensi beban sosial dan masalah sosial. Surabaya berkepentingan menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat dari masalah sosial, seperti kejahatan.





