Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) berpotensi meningkat, seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Namun, pasar low cost green car (LCGC) berisiko kian tertekan.
Pakar Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, perang antara Iran dengan AS-Israel memicu tekanan ekonomi global, yakni lonjakan harga minyak Brent ke kisaran US$100–117 per barel, depresiasi rupiah ke level sekitar Rp16.900, serta kenaikan biaya logistik global.
“Kombinasi faktor tersebut memicu cost-push inflation yang menekan daya beli kelas menengah sebagai tulang punggung pasar entry-level, termasuk LCGC. Kondisi ini mendorong sebagian konsumen menunda pembelian mobil baru dan mengalihkan prioritas pengeluaran ke kebutuhan pokok," ujar Yannes kepada Bisnis, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Adapun, pasar LCGC masih melemah sejalan dengan melambatnya daya beli masyarakat kelas menengah. Data Gaikindo mencatat, pada Januari-Februari 2026, penjualan wholesales LCGC nasional sebesar 22.106 unit, atau turun 21,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya 28.147 unit.
Kendati demikian, Yannes menilai perilaku konsumen tidak sepenuhnya melemah karena segmen kelas menengah atas justru menunjukkan respons yang lebih rasional. Pada Januari–Februari 2026, penjualan mobil listrik murni atau BEV meningkat hingga empat kali lipat secara tahunan menjadi 22.508 unit dengan pangsa pasar sekitar 15%.
Sebagian besar penjualan kendaraan listrik nasional tersebut ditopang oleh model dengan harga relatif terjangkau dari pabrikan asal China, seperti BYD, Wuling, Changan, hingga Jaecoo. Tren ini menunjukkan meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan listrik di tengah tekanan biaya operasional kendaraan konvensional.
Baca Juga
- CIMB Finance (CNAF) Catat Pembiayaan LCGC Rp18 Miliar per Januari 2026
- Adu Laris Penjualan LCGC Februari 2026: Brio Geser Sigra & Calya
- Perang Timur Tengah Picu Risiko Impor Pupuk, Mendag: RI Siapkan Diversifikasi
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan bahwa efisiensi biaya kepemilikan (total cost of ownership) kendaraan listrik mulai jadi pertimbangan utama, karena bisa lebih hemat sekitar 60%–70% dibandingkan kendaraan konvensional. Pertimbangan efisiensi tersebut dinilai semakin relevan seiring potensi peningkatan biaya operasional kendaraan.
"Artinya, secara struktural BEV akan muncul sebagai pemenang jangka panjang dalam lanskap industri. Jadi, konflik di Timur Tengah ini tidak hanya menjadi risiko, tetapi juga secara tidak langsung mempercepat transisi energi domestik, bukan lagi sekadar instrumen lindung nilai bagi segmen tertentu saja," jelasnya.
Sebagai catatan, Yannes menilai Indonesia perlu memperkuat ekosistem kendaraan listrik, sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan impor BBM di tengah ketidakpastian global.
Adapun, sejumlah jenama mobil listrik telah membangun pabriknya di Indonesia. Misalnya, BYD asal China saat ini tengah mempersiapkan pengoperasian fasilitas produksi mobil listrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas terpasang mencapai 150.000 unit per tahun yang ditargetkan mulai produksi dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, pabrikan asal Vietnam, VinFast juga telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit per tahun. Pabrik VinFast yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, berdiri di atas lahan seluas 171 hektare.
Dalam jangka menengah, VinFast menargetkan peningkatan investasi hingga mencapai US$1 miliar. Seiring dengan itu, kapasitas produksi direncanakan meningkat hingga 350.000 unit kendaraan per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.





