Dokter ”Internship” di Cianjur Meninggal Diduga Campak, IDI Soroti Faktor Kelelahan sebagai Pemicu

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Seorang dokter internship atau dokter magang di Kabupaten Cianjur dilaporkan meninggal akibat komplikasi pneumonia dengan suspek campak. Ikatan Dokter Indonesia menyebut bahwa kematian tersebut dipicu pula oleh faktor kelelahan yang dialami.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto dihubungi di Jakarta, Sabtu (28/3/2026) mengatakan, kematian akibat campak pada usia dewasa merupakan kasus yang jarang terjadi. Karena itu, investigasi perlu dilakukan secara mendalam untuk memastikan penyebab dari kematian tersebut.

Meski begitu, risiko penularan campak pada tenaga kesehatan dan tenaga medis memang harus diwaspadai di tengah peningkatan kasus yang terjadi di masyarakat. Daya tahan tubuh yang rendah bisa meningkatkan risiko penularan.

Faktor kelelahan menjadi salah satu yang membuat daya tahan tubuh menjadi menurun.

“Faktor kelelahan menjadi salah satu yang membuat daya tahan tubuh menjadi menurun. Di lain sisi, virulensi (tingkat penularan) virus (campak) juga sedang meningkat. Hal itu yang membuat risiko paparan penyakit, termasuk campak semakin besar bagi para dokter,” kata Slamet.

Baca JugaCampak, Wabah Penyakit Menular, dan Peringkat Indonesia
Baca JugaCampak yang Terabaikan
Baca JugaCalon Dokter Spesialis Alami Kekerasan Seksual, dari Kelelahan sampai Keguguran

Ia menuturkan, laporan kematian ini sekaligus menjadi pengingat akan tingginya tekanan kerja pada dokter internship. Berdasarkan informasi yang diterima IDI, setidaknya ada tiga dokter internship yang dilaporkan meninggal dalam penugasan. Penyebab kematian dari dua dokter lainnya masih dalam tahap observasi lebih lanjut.

Menurut dia, peristiwa kematian tersebut harus menjadi alarm keras bagi pemerintah, khususnya terkait perlindungan pada tenaga kesehatan, beban kerja, dan sistem pengupahan pada dokter internship.

Saat ini, banyak dokter internship yang bekerja lebih dari delapan jam per hari sesuai aturan ketenagakerjaan. Waktu cuti pun diberikan kurang dari 12 hari. Bahkan, terdapat dokter internship yang harus mengganti waktu cuti melahirkan. Selain itu, upah dari dokter internship masih di bawah upah minimum regional (UMR).

“Kami akan kirim surat dalam waktu dekat ke Menteri Kesehatan agar segera merubah sistem internship pada dokter. Kami sangat prihatin dengan peristiwa ini. Kami juga mendorong agar masa internship dokter bisa dipersingkat jadi 3-6 bulan, tidak satu tahun seperti sekarang,” tutur Slamet.

Penularan campak

Slamet menyampaikan, risiko penularan campak dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni lingkungan, kondisi fisik, serta paparan virus. Faktor lingkungan meliputi kepadatan pendudukan, cuaca yang tidak mendukung, serta perlindungan yang kurang dari penggunaan APD (alat pelindung diri).

Sementara itu, dari kondisi fisik, kelelahan dan daya tahan tubuh yang rendah bisa meningkatkan risiko penularan. Adapun dari faktor paparan virus, tingginya angka virulensi juga turut berpengaruh.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, dokter internship di Kabupaten Cianjur dengan inisial AMW (26) telah terkonfirmasi meninggal dengan suspek campak. Dokter tersebut sebelumnya dilaporkan mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, dan sesak napas berat.

Baca JugaCampak Juga Terjadi pada Usia Dewasa, Gejala Tidak Khas dan Bisa Lebih Berat
Baca JugaPenularan Kian Meluas, Pastikan Cakupan Imunisasi Ulang Optimal
Baca JugaCampak dan Rubela Harus Dicegah sejak Dini

Hasil investigasi sementara menunjukkan bahwa dokter tersebut mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia. Komplikasi tersebut yang memperburuk kondisi pasien.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, campak dan pneumonia pada usia dewasa merupakan penyakit dengan dampak yang berat yang bisa menyebabkan komplikasi fatal hingga kematian. Pneumonia berat banyak ditemukan sebagai penyebab kematian utama dari infeksi virus campak.

Biasanya, beratnya penyakit pneumonia ditandai dengan demam tinggi, radang paru, dan gagal napas. Pengobatan pun diberikan secara suportif sesuai dengan gejala yang dialami. Selain itu, dosis tinggi vitamin A juga diberikan pada orang yang tertular campak.

Terkait dengan kerentanan penularan campak pada tenaga kesehatan, Tjandra mendorong agar vaksinasi campak juga bisa diberikan pada usia dewasa, terutama pada tenaga kesehatan. “Prioritas vaksinasi campak pada dewasa antara lain pada petugas kesehatan,” ucap dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menuturkan, vaksinasi campak saat ini baru dijalankan pada program Outbreak Response Immunization (ORI) dan imunisasi kejar di 102 daerah prioritas. Vaksinasi tersebut diberikan dengan sasaran anak balita.

“Belum ada program yang khusus untuk tenaga kesehatan ataupun tenaga medis atau kelompok dewasa,” katanya.

Aji menyebutkan, pada kasus kematian dari dokter internship AMW, penyelidikan epidemiologi sudah dilakukan. Tim kesehatan juga akan melakukan penelusuran kontak erat, mencari sumber penularan, serta melakukan penilaian risiko. Pemberian vitamin A juga dijalankan untuk mencegah penularan lebih luas di wilayah setempat.

“Kemenkes menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya tenaga medis tersebut. Kasus ini mengingatkan kita bahwa penyakit campak bukan hanya dapat menyerang anak-anak,” ujarnya.

Baca JugaWaspadai Campak dan Cedera pada Anak Selama Mudik dan Libur Lebaran
Baca JugaIndonesia Mencampakkan Campak
Baca JugaKasus Campak Sudah Menurun, Imunisasi dan Penanganan Tetap Digencarkan

Ia menyampaikan, orang dewasa yang belum pernah divaksinasi ataupun belum pernah terinfeksi campak tetap berisiko tinggi mengalami komplikasi serius dan fatal akibat campak. Untuk itu, masyarakat harus tetap waspada pada penularan campak.

Pastikan status imunisasi campak, khususnya pada usia anak sudah lengkap. Imunisasi merupakan upaya perlindungan yang paling efektif untuk mencegah gejala berat serta risiko kematian akibat campak.

Masyarakat diimbau pula untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, seperti demam tinggi dan ruam merah. “Untuk pencegahannya, tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan pakai air dan sabun, konsumsi makanan bergizi, serta menggunakan masker jika sedang sakit campak,” tutur Aji.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wapres Gibran Tekankan Pentingnya Keharmonisan Sosial saat Kunjungi Ponpes Annajah Dawar Boyolali
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Saling Sindir di Medsos, Salmafina Sunan Tantang Istri Taqy Malik Buat Ketemu
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Ramainya Aktivitas di Blok M, Menekraf Apresiasi Sebagai Pusat Aktivitas Ekonomi Kreatif
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Efektif Membersihkan Rumah dari Debu
• 12 jam lalubeautynesia.id
thumb
Wapres AS Mencak-Mencak ke Netanyahu, Kibuli Trump Soal Rezim Iran
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.