Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Bandung
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat melaporkan kematian dua anak harimau benggala koleksi Eks Kebun Binatang Bandung, yakni Hara dan Huru, yang masing-masing berusia delapan bulan.
Pelaksana Tugas Kepala BBKSDA Jawa Barat Ammy Nurwaty menyampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, kedua satwa tersebut mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV), penyakit virus yang sangat menular dengan tingkat kematian tinggi pada satwa famili Felidae, terutama usia muda.
Ammy menjelaskan kasus ini bermula pada 22 Maret 2026 ketika tim medis melaporkan kondisi Hara yang mengalami penurunan aktivitas, muntah, dan diare. Dari pemeriksaan awal, ditemukan parasit cacing sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin.
Sebagai langkah pencegahan, Huru yang berada dalam satu kandang turut diberikan vitamin dan obat cacing, serta keduanya dipisahkan untuk mencegah potensi penularan.
BBKSDA Jawa Barat kemudian berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan penanganan terpadu.
“Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan bersama instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal,” ujar Ammy dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Sabtu, 28 Maret 2026.
Pada 23 Maret 2026, kondisi Hara memburuk dengan gejala diare disertai darah. Pemeriksaan lanjutan menggunakan rapid test menunjukkan hasil positif FPV. Tim medis kemudian memberikan terapi intensif, namun Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB.
Hasil nekropsi menunjukkan perdarahan masif pada saluran pencernaan, kerusakan vili usus, serta ditemukan parasit cacing.
Sementara itu, Huru yang menunjukkan gejala serupa mendapat penanganan intensif sejak 25 Maret 2026. Kondisinya sempat membaik, tetapi pada 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB, Huru juga dinyatakan mati.
Hasil nekropsi terhadap Huru menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, serta luka pada lambung. Uji diagnostik juga mengonfirmasi infeksi FPV.
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan nekropsi, disimpulkan bahwa kedua anak harimau tersebut mati akibat infeksi FPV.
Virus ini diketahui menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara.
Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola Eks Kebun Binatang Bandung akan meningkatkan langkah biosekuriti, termasuk desinfeksi lingkungan secara intensif, memperketat pengawasan lalu lintas orang dan peralatan, serta meningkatkan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae.
Editor: Redaktur TVRINews





