FAJAR, SOLO — Dalam sepak bola, momentum sering kali menipu. Di satu sisi, ada tim yang sedang goyah karena isu internal. Di sisi lain, ada tim yang justru sedang membangun ritme. Namun satu hal tetap sama: tidak ada ruang untuk meremehkan.
Itulah sikap yang dipegang Persis Solo jelang duel krusial melawan PSM Makassar.
Meski lawan tengah diterpa isu potensi ditinggal sejumlah pemain andalan, Laskar Sambernyawa memilih fokus pada diri sendiri—bukan pada ketidakpastian lawan.
“Reset” Usai Lebaran: Bukan Sekadar Latihan
Libur panjang kerap menjadi titik rawan bagi banyak tim. Ritme hilang, fokus menurun, dan kebugaran tidak selalu terjaga.
Namun Persis mencoba mengantisipasi itu.
Melalui pemusatan latihan di Yogyakarta, tim asuhan Milomir Šešlija melakukan semacam “reset”—mengembalikan kondisi fisik sekaligus menyatukan kembali fokus tim.
Asisten pelatih Milos Durovic menegaskan bahwa jeda lima hari sudah cukup untuk menyegarkan mental pemain. Kini, saatnya kembali ke mode kompetitif.
Bukan hanya fisik yang diasah, tetapi juga detail permainan.
Menjaga Tren Positif yang Rapuh
Dalam lima laga terakhir, Persis menunjukkan grafik yang menjanjikan: tak terkalahkan dengan dua kemenangan dan tiga hasil imbang.
Namun dalam kompetisi yang ketat, tren positif bisa runtuh dalam satu pertandingan.
Karena itu, TC ini bukan sekadar menjaga performa—tetapi memperkuat fondasi permainan. Kekompakan tim, transisi antar lini, hingga efektivitas di sepertiga akhir menjadi fokus utama.
Persis tahu, konsistensi adalah mata uang paling berharga di fase akhir musim.
PSM: Lemah di Atas Kertas, Berbahaya di Lapangan
Isu potensi “eksodus” pemain di tubuh PSM Makassar memang menciptakan persepsi bahwa tim ini sedang tidak stabil.
Namun sepak bola tidak dimainkan di atas kertas.
PSM tetaplah tim dengan struktur permainan yang kuat dan pengalaman di level kompetitif. Justru dalam situasi tertekan, tim seperti ini sering tampil lebih solid—bermain dengan determinasi tinggi untuk membuktikan diri.
Inilah yang diwaspadai Persis.
Sembilan Laga, Sembilan Final
Dengan sembilan pertandingan tersisa, posisi Persis di klasemen belum sepenuhnya aman.
Setiap laga kini bernilai seperti final.
Tidak ada lagi ruang untuk kehilangan poin, apalagi melawan tim yang secara langsung berada dalam jalur persaingan yang sama. Duel melawan PSM bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga soal menjaga jarak dari zona berbahaya.
Fokus ke Dalam, Bukan ke Luar
Di tengah berbagai dinamika—baik di internal tim maupun lawan—Persis memilih satu pendekatan sederhana: fokus pada apa yang bisa mereka kontrol.
Latihan, taktik, dan mentalitas.
Karena dalam sepak bola, tim yang terlalu sibuk membaca kelemahan lawan sering lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Penutup: Ujian Kedewasaan
Laga melawan PSM akan menjadi ujian, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental.
Apakah Persis mampu menjaga konsistensi?
Atau justru terjebak dalam euforia tren positif?
Satu hal yang pasti, di fase ini, bukan tim terbaik yang bertahan—melainkan tim yang paling siap.
Dan kesiapan itu, kini sedang dibangun di Yogyakarta.




