Indofood (INDF) Bicara Risiko Kenaikan Harga Bahan Baku Akibat Perang AS-Iran

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Memanasnya konflik Iran-AS mulai memicu alarm bagi para pelaku usaha domestik. Sejumlah emiten kini mengantisipasi pembengkakan biaya bahan baku yang dipicu oleh melambungnya harga energi dunia akibat ketegangan tersebut.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Franciscus Welirang, menerangkan bahwa perang yang berkecamuk, telah mendorong biaya angkutan freight internasional naik sebesar 35%. Namun, Franky menegaskan bahwa kondisi pasokan bahan baku gandum Indofood masih tercukupi.

”Karena saya di divisi Bogasari, masalah bahan baku gandum saya kira sementara ini tidak bermasalah atas supply-nya. Khusus dalam negeri, jelas juga angkatan laut untuk ke daerah pasti naik, [tetapi] belum tahu berapa. Sedangkan pasar terigu dalam negeri mungkin mulai jelas dalam 2—3 minggu ke depan karena kita libur Paskah lagi,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (27/3/2026).

Franky menjelaskan bahwa ketersediaan bahan baku gandum biasanya akan ditentukan oleh hasil panen yang akan datang pada periode Juni—Juli untuk bagian dunia utara dan November—Desember untuk bagian dunia selatan.

Di tengah kondisi perang yang masih berkecamuk, Franky memprediksi bahwa kenaikan harga bahan baku tidak dapat terelakkan. Hanya saja, belum terang upaya Indofood untuk mengendalikan naiknya harga bahan baku ke depan.

”Khusus harga fluktuatif sementara ini. Jelas ada kemungkinan kenaikan [harga bahan baku]. Akibat dampak di luar kontrol, tidak mungkin kami kendalikan,” katanya.

Baca Juga

  • Saham Ramadan 2026: Emiten Konsumer Mercy Harga Bajaj (INDF, JPFA, SMAR, SIMP, ERAA, dan MPMX)
  • Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, Saham BRPT, TLKM dan INDF Tancap Gas
  • Indeks Bisnis-27 Dibuka Lesu: Saham MEDC, INDF & INCO Masih Melaju

Diberitakan sebelumnya, harga minyak dunia tercatat melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda tenggat untuk menyerang sektor energi Iran, memberi jeda sementara bagi pasar meski ketidakpastian perang diperkirakan berlanjut hingga April. Pelemahan itu terjadi setelah harga minyak mengalami rally belakangan akibat konflik tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Mei turun 1,4% menjadi US$106,55 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga merosot 1,4% menjadi US$93,20 per barel. 

Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh pernyataan Trump yang menyebut meskipun Teheran meminta waktu tujuh hari, pemerintah AS memberikan tenggat 10 hari. Dengan revisi tersebut, batas waktu baru diperpanjang hingga 6 April. Perpanjangan tenggat ini memberi ruang lebih besar untuk negosiasi sekaligus memungkinkan AS menambah kekuatan militernya di kawasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Samin Tan Tersangka, Kejagung Bakal Bongkar Jaringan Beking Tambang?
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
8 Juta Demo Presiden AS Donald Trump, Bagaimana dengan Balapan Veda Ega Pratama di Moto3 Amrika 2026?
• 24 menit laluharianfajar
thumb
Single Ticketing di Pelabuhan Bakauheni Berakhir Hari Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
SBY Kenang Juwono Sudarsono, Sebut Sosok yang Satukan Militer dan Sipil di Era Reformasi
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Kejagung: Kasus Pelanggaran Tambang Samin Tan Diusut Pakai KUHAP Baru
• 22 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.