INDUSTRI pangan global kini dihadapkan pada tantangan ganda, yaakni krisis bahan baku akibat perubahan iklim dan meningkatnya standar kesadaran konsumen terhadap kesehatan. Menanggapi dinamika tersebut, penguatan strategi industri yang terintegrasi menjadi harga mati guna menjamin kualitas serta keamanan produk yang beredar di masyarakat.
Persoalan ini mengemuka dalam kuliah umum bertajuk "Food You Can Trust: Strategi Industri Pangan dalam Menjaga Kualitas dan Keamanan Produk untuk Meningkatkan Kepercayaan Konsumen" yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa di Denpasar pada Sabtu (28/3).
Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., dalam sambutanya pada pembukaan kuliah umum menekankan bahwa tema ini sangat mendesak untuk dibedah. Menurutnya, industri pangan saat ini harus mampu menghasilkan produk yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga memenuhi standar keamanan yang ketat.
Baca juga : BRIN dan FAO Perkuat Kolaborasi Transformasi Peternakan Berkelanjutan
"Perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan bahan baku menuntut industri pangan untuk mengembangkan strategi yang kuat dan terintegrasi," ujar Prof. Suriati.
Dalam konteks penguatan industri, Prof. Suriati menggarisbawahi tiga poin kunci sebagai landasan operasional. Pertama, penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) secara konsisten. Kepatuhan terhadap standar produksi ini ditegaskan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap keselamatan nyawa konsumen.
Kedua, penguatan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan melalui audit berkala serta investasi pada sumber daya manusia. Pelatihan tenaga kerja dianggap krusial untuk membangun budaya keamanan pangan (food safety culture) yang mendarah daging di lingkungan produksi. Ketiga, transparansi informasi produk. Kejelasan informasi dinilai akan membangun kepercayaan publik dan meningkatkan literasi konsumen.
Baca juga : Elon Musk Berambisi Mengatur Energi Matahari dari Luar Angkasa Dengan Satelit AI
Lebih lanjut, keberhasilan menjaga kualitas pangan memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, regulator, dan pelaku industri. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian memegang peran vital dalam menyediakan inovasi teknologi dan pengujian mutu. Sementara itu, pemerintah diharapkan menyediakan regulasi yang konsisten untuk memberi kepastian bagi pelaku usaha sekaligus perlindungan bagi masyarakat.
"Konsumen yang cerdas dan sadar akan standar keamanan pangan akan mendorong pelaku industri untuk terus memacu kualitas produknya. Oleh karena itu, kampanye literasi yang mudah diakses perlu terus dijalankan," tambahnya.
Sementara itu pakar keamanan pangan, Ir. Ni Made Aryagandhi, yang hadir sebagai narasumber, mempertegas urgensi isu ini dengan menyoroti tingginya kasus keracunan makanan di berbagai daerah. Menurutnya, keracunan sering kali dipicu oleh faktor biologis seperti bakteri Salmonella dan E. coli, faktor kimia akibat penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang tidak sesuai standar, hingga faktor fisik seperti cemaran pecahan kaca, besi, atau rambut.
"Isu keamanan pangan sangat krusial di tengah persaingan pasar global yang keras. Produk kita tidak akan bisa bersaing jika konsistensi mutu dan kandungan gizinya diabaikan, atau bahkan sampai memanipulasi konsumen," tegas Aryagandhi.
Ia menambahkan bahwa untuk meraih kepercayaan konsumen internasional, industri harus memastikan produknya benar-benar bebas dari tiga bahaya utama: biologi, kimia, dan fisik. Pengendalian ini dimulai dari pemilihan bahan baku yang berkualitas karena bahan baku yang buruk mustahil menghasilkan produk akhir yang aman dan bermutu.
Selain faktor teknis, Aryagandhi menyoroti tantangan terbesar dalam industri pangan adalah perilaku atau personal hygiene pekerja. Mengubah kebiasaan individu untuk disiplin mencuci tangan, menggunakan penutup kepala, hingga melapor saat sakit memerlukan waktu dan edukasi yang konsisten.
"Kebiasaan personal ini sangat vital karena risiko kontaminasi silang dari karyawan sangat tinggi. Ini tantangan besar yang saya hadapi selama berkecimpung di industri pangan," ungkapnya. (H-2)





