JAKARTA, KOMPAS.com - Pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) mendapat dukungan dari sejumlah orangtua, termasuk Muhammad Ryan (42), warga Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara.
Ryan menilai pembatasan akses media sosial bagi anak merupakan langkah tepat untuk melindungi mereka dari paparan konten negatif.
“Alhamdulillah bagus sekali ini untuk memperketat penyebaran aplikasi terhadap anak-anak. Memang perlu pembatasan terhadap media sosial di kalangan anak-anak,” ujarnya saat ditemui Kompas.com di Kalibaru, Cilincing, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Aturan Pembatasan Medsos Anak Dinilai Efektif, Tapi Lingkungan Jadi Tantangan
Tantangan Pengawasan di RumahMeski mendukung kebijakan tersebut, Ryan mengakui penerapannya di lingkungan keluarga tidak mudah. Ia menyebut orangtua kerap menghadapi dilema saat membatasi penggunaan gawai.
Menurut dia, anak-anak cenderung menjadi lebih tenang saat memegang ponsel, sehingga orangtua terkadang menyerah dan memberikan akses.
“Orangtua juga kadang berpikir akhirnya menyerahkan ponselnya agar anak tenang, karena anak kalau sudah pegang ponsel mereka anteng,” ungkapnya.
Ryan juga mengungkapkan anak-anak sering mencari celah saat pengawasan lengah, bahkan hingga mengetahui kata sandi ponsel orangtua.
“Begitu ketika lengah, ponsel kita diambil dan diam-diam anak sudah hafal password handphone kita,” jelasnya.
Ia menambahkan, orangtua juga dituntut memberi contoh dengan tidak menggunakan ponsel di depan anak.
“Kalau orangtua pegang handphone, anak juga ikutan mau pegang,” tuturnya.
Baca juga: PP Tunas Mulai Belaku, Sekolah di Jakarta Perketat Pembatasan Gawai Siswa
Dialihkan ke Aktivitas Luar RuangUntuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai, Ryan bersama istrinya mulai menjadwalkan berbagai aktivitas alternatif bagi ketiga anaknya yang masih berusia 7, 5, dan 4 tahun.
Ia mengarahkan anak-anak untuk mengaji di madrasah, belajar di rumah, serta memanfaatkan fasilitas publik seperti RPTRA.
“Sebagian ada aktivitas bermain di RPTRA untuk menghabiskan waktu, agar tidak terfokus dengan ponsel,” ucapnya.
Menurut Ryan, keterlibatan orangtua menjadi kunci agar pengalihan aktivitas tersebut berjalan efektif.
“Memang peran orangtua juga harus full bermain dengan anak di rumah, agar anak lupa bermain handphone,” ujarnya.
Baca juga: Pemprov DKI Siapkan Sosialisasi dan Aturan Sekolah soal Pembatasan Medsos Anak





