Jakarta, CNBC Indonesia - Blokade de facto Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat-Israel telah menyebabkan salah satu krisis energi terburuk dalam beberapa dekade. Saking buruknya, para ahli memperingatkan potensi resesi global.
Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, Tehran masih gigih memblokir Selat Hormuz - menghalangi jalur yang biasanya mengangkut 20 juta barel minyak per hari.
Selat Hormuz berperan penting dalam stabilitas ekonomi global. Ketegangan di jalur ini dapat memicu inflasi dan dampak signifikan bagi banyak negara yang bergantung pada selat tersebut.
Mengutip Al Jazeera, hampir 2.000 kapal terdampar di dekat selat sempit tersebut, yang terletak di antara Iran di sisi utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Pada Kamis, media Iran melaporkan bahwa parlemen berupaya mengesahkan undang-undang untuk memungut biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi Hormuz.
"Menurut rencana ini, Iran harus memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz," kata seorang pejabat seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (28/3/2026).
"Hal ini sepenuhnya wajar. Sama seperti di koridor lain, ketika barang melewati suatu negara, bea masuk dibayarkan. Selat Hormuz juga merupakan koridor. Kami memastikan keamanannya, dan wajar jika kapal dan tanker membayar bea masuk kepada kami," tambahnya.
Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak global melonjak di atas US$100 per barel - lonjakan sekitar 40% dari sebelum perang - memaksa negara-negara, khususnya di Asia, untuk melakukan penjatahan bahan bakar dan memangkas produksi industri. Negara-negara yang terdampak telah melobi Iran untuk mengizinkan kapal melewati selat tersebut, yang merupakan satu-satunya jalur untuk mengekspor minyak dan gas dari sebagian besar produsen Teluk.
Iran telah menuntut pengakuan internasional atas haknya untuk menjalankan otoritas atas Selat Hormuz sebagai salah satu dari lima syaratnya untuk mengakhiri perang.
Pada Minggu, anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi mengatakan kepada saluran TV satelit berbahasa Farsi yang berbasis di Inggris, Iran International, bahwa negara tersebut telah mengenakan biaya sebesar US$2 juta atau sekitar Rp33 miliar kepada beberapa kapal untuk melewati selat tersebut.
"Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja, kita harus melakukan ini dan memungut biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa saat ini hampir 2.000 kapal menunggu di kedua sisi selat untuk berlayar melewatinya.
Dinas intelijen maritim Windward mengatakan penumpukan ini menunjukkan bahwa "banyak operator telah memilih untuk mempertahankan posisi di luar Hormuz daripada segera berkomitmen untuk melakukan pengalihan rute jarak jauh."
(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google




