Kepergian mantan Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, pada Sabtu (28/3), meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak.
Sejumlah tokoh nasional mengenang almarhum sebagai sosok yang rendah hati, santun, sekaligus membawa pengaruh besar dalam dunia pertahanan Indonesia.
Mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie, mengaku telah lama mengenal Juwono, baik sebagai akademisi maupun rekan satu kabinet. Ia menilai almarhum sebagai pribadi yang hangat dan penuh kesederhanaan.
“Saya mengenal Pak Juwono lama sekali, dari beliau sebagai dosen, dan beliau sebagai menteri bersama-sama di dalam kabinet. Beliau orangnya sangat rendah hati dan sangat sopan, berbicaranya sangat kalem dan baik sekali orangnya,” ujar Aburizal usai melayat ke rumah duka di Pondok Indah.
Ia menambahkan, kesan tersebut bukan sekadar ungkapan duka, melainkan cerminan dari karakter Juwono semasa hidup.
“Baik sekali orangnya, benar-benar baik. Bukannya memuji karena beliau meninggal, tapi memang karena orangnya memang demikian,” lanjutnya.
Aburizal juga berharap kepribadian Juwono bisa menjadi teladan, khususnya bagi generasi muda.
“Mudah-mudahan itu menjadi contoh bagi yang muda,” ucapnya.
Sementara itu, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono, mengenang Juwono sebagai sosok penting dalam sejarah kepemimpinan di Kementerian Pertahanan.
Ia menyebut Juwono sebagai menteri pertahanan pertama dari kalangan sipil murni yang membawa perubahan signifikan.
“Juwono Sudarsono sebagai menteri yang pertama kali punya latar belakang sipil murni menjadi Menteri Pertahanan. Sebelumnya kan latar belakangnya militer, tapi pengaruh dari kepemimpinan beliau sangat terasa,” kata Hendropriyono.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Juwono, peran TNI mulai berkembang tidak hanya di bidang militer, tetapi juga di ranah intelektual dan akademik.
“Sejak beliau menjadi Menteri Pertahanan, banyak tentara yang berkiprah di bidang akademik, menjadi sarjana, pascasarjana, doktor, bahkan profesor. Saya termasuk pengikut beliau,” ujarnya.
Hendropriyono juga menilai, meskipun berlatar belakang sipil, Juwono memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan militansi tinggi.
“Beliau penjuru. Meskipun sipil penuh, tapi jiwanya sangat militan. Itu pelajaran kolektif buat kita semua,” tuturnya.
Kepergian Juwono, menurutnya, meninggalkan warisan pemikiran yang berharga bagi bangsa.
“Alhamdulillah kita semua banyak diberi warisan pemikiran beliau. Mudah-mudahan beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” pungkasnya.





