Bisnis.com, JAKARTA - Keterbatasan pasokan dan lonjakan harga minyak untuk pesawat mengancam perjalanan di Asia dan segera menyebar ke Eropa.
Perang Amerika-Israel Vs Iran telah membuat jumlah bahan bakar jet hilang dari pasaran akibat sejumlah kilang mengalihkan prioritas memproduksi energi di dalam negeri masing-masing negara di dunia.
Dalam catatan Bloomberg yang dikutip Minggu (29/3/2026), maskapai penerbangan dari Vietnam hingga Selandia Baru telah mulai membatalkan penerbangan karena harga melonjak ke rekor tertinggi, sementara China telah membatasi ekspor bahan bakar untuk mengamankan pasokan.
Uni Eropa dan Inggris diperkirakan dalam beberapa minggu lagi akan mengalami kondisi serupa karena sangat bergantung pada pasokan dari kilang-kilang di Teluk Persia. Kondisi ini membuat sejumlah maskapai mengantisipasi dengan menjual tiket dengan harga yang mahal. Beberapa rute yang tidak komersil juga telah dihentikan.
“Anda tidak bisa menerbangkan jumlah penerbangan yang sama tanpa jumlah bahan bakar jet yang sama,” kata Vikas Dwivedi, ahli strategi energi global di Macquarie Group.
Dia menekankan jika Selat Hormuz tetap tertutup, akan terjadi peningkatan jumlah pesawat yang tidak beroperasi dalam beberapa minggu mendatang.
Sementara itu, sekalipun jalur 20% minyak dunia yang menghubungkan pemasok minyak di sekitar Teluk Persia dengan seluruh dunia dibuka Iran, kerusakan yang terjadi pada rantai pasokan global baru akan pulih dalam hitungan bulan.
Dalam catatan Bloomberg, total permintaan bahan bakar avtur untuk pesawat mencapai 7,8 juta barel per hari tahun lalu. Jumlah ini termasuk minyak tanah yang juga digunakan untuk pemanasan.
Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin harga bahan bakar jet di Eropa mencapai US$1.713,50 per ton setara dengan sekitar US$215 per barel.
“Ketika Anda melihat lonjakan tiba-tiba, itu merupakan tantangan besar. Maskapai penerbangan harus meneruskan hal itu kepada konsumen dalam bentuk tarif yang lebih tinggi. Itu tak terhindarkan," kata Willie Walsh, direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional.
Pada bulan Maret, produksi kilang global untuk bahan bakar jet dan kerosin diperkirakan turun sekitar 600.000 barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun penurunan tersebut hanya sekitar 7% namun terjadi ketika permintaan penerbangan meningkat menjelang puncak perjalanan musim panas.
Yang sedikit meredakan krisis saat ini adalah penurunan permintaan sebesar 400.000 barel per hari sepanjang Maret dari Timur Tengah, di mana maskapai negara teluk seperti Emirates, Etihad Airways , dan Qatar Airways telah membatalkan penerbangan karena perang. Maskapai penerbangan Teluk itu kini telah mulai melanjutkan penerbangan dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan bahan bakar untuk pesawat.
Eugene Lindell, kepala produk olahan di perusahaan konsultan FGE NexantECA memperkirakan sekitar 37 juta barel bahan bakar jet dan minyak tanah akan hilang bulan ini dan bulan depan jika Hormuz tidak dibuka kembali.
Di Asia, pemerintah telah mengambil langkah-langkah defensif untuk mencegah kekurangan. Selain langkah China untuk membatasi ekspor, Korea Selatan sedang membahas apakah akan mengalihkan bahan bakar jet yang seharusnya diekspor ke pasar lokal. Di Vietnam, badan penerbangan memperingatkan potensi kekurangan sejak awal April dan akibatnya mengurangi jumlah penerbangan.
Saat Filipina berupaya mengamankan pasokan dari negara-negara seperti China dan Rusia, Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa penghentian operasional pesawat karena kekurangan pasokan adalah kemungkinan yang nyata. Maskapai penerbangan nasional negara itu, Philippine Airlines Inc., mengatakan telah berhasil mengamankan bahan bakar hingga akhir Juni, tetapi tidak memiliki kepastian setelah itu.
Maskapai penerbangan Asia lainnya, Vietnam Airlines JSC telah menangguhkan penerbangan di beberapa rute domestik, sementara maskapai penerbangan murah VietJet Aviation JSC mengurangi frekuensi di beberapa penerbangan internasional. Air New Zealand Ltd. membatalkan 1.100 penerbangan domestik.
Sementara itu, Bandara Sydney memperingatkan bahwa tidak ada jaminan akan menerima bahan bakar penerbangan bulan depan.
“Kekurangan saat ini bersifat tidak merata dan bukan sistemik,” kata Sumit Ritolia, analis riset utama untuk penyulingan dan pemodelan di perusahaan analitik Kpler Ltd. Ia mencatat bahwa kekurangan paling akut terjadi di wilayah yang bergantung pada impor seperti Asia Tenggara.
Meskipun Eropa biasanya tidak mengimpor minyak mentah sebanyak dari Teluk Persia, Eropa adalah importir utama bahan bakar jet dari kawasan tersebut. Pasokan tersebut mencakup sekitar setengah dari impor Uni Eropa dan Inggris, menurut data Vortexa yang dikumpulkan oleh Bloomberg News.
Thomas Thessen, kepala analis maskapai penerbangan Skandinavia SAS AB mengatakan dampak dari perang Iran telah meningkatkan biaya penerbangan transatlantik sekitar US$300 per penumpang. Sejak perang dimulai, Cathay Pacific Airways Ltd. Hong Kong telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar pada penerbangan jarak jauh menjadi sekitar US$400 per perjalanan pulang pergi.
Bahkan bagi maskapai penerbangan yang telah melakukan lindung nilai harga bahan bakar untuk mengantisipasi lonjakan harga, masih ada risiko. Jika Hormuz tetap tertutup, kekurangan pasokan akan mulai muncul di Eropa pada bulan Mei, menurut Philip Jones-Lux, analis minyak senior di perusahaan analisis energi Sparta Commodities.
Apa pun tindakan yang diambil oleh kilang-kilang Eropa seperti meningkatkan kapasitas produksi, menunda perawatan, dan mengalihkan hasil produksi ke arah bahan bakar jet dan kerosin itu tidak akan mampu menggantikan kerugian yang disebabkan oleh penutupan Hormuz.
Di luar Timur Tengah, pemasok utama Eropa lainnya adalah India, tetapi untuk mendapatkan minyak pesawat itu tersebut berarti berpotensi mengalahkan harga penawaran pembeli Asia. Beberapa kapal tanker yang membawa bahan bakar jet/kero baru-baru ini melakukan putar balik di laut dan menuju ke timur.
Ada juga potensi gangguan di AS, di mana sebagian besar maskapai penerbangan tidak melakukan lindung nilai (hedging) seperti yang dilakukan oleh maskapai lain di Eropa dan Asia. Hal itu membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan harga.
Dari segi pasokan, Pantai Barat, Hawaii, dan Alaska secara gabungan mengimpor lebih dari 18% bahan bakar jet yang mereka gunakan pada tahun 2025. Impor tersebut sebagian besar berasal dari Korea Selatan, sehingga wilayah-wilayah AS tersebut lebih rentan terhadap guncangan pasokan.





