Minat warga Amerika Serikat terhadap mobil listrik dengan harga terjangkau terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Namun di tengah tren tersebut, pilihan kendaraan listrik asal China justru belum bisa diakses secara luas karena berbagai regulasi yang membatasi.
Berdasarkan laporan Reuters, salah satu calon konsumen, Sooren Moosavy, mengaku tertarik memiliki mobil listrik karena alasan lingkungan dan kenyamanan berkendara. Ia bahkan sudah mengincar beberapa model dari pabrikan seperti BYD, Geely, dan Zeekr.
“Saya ingin sekali punya kesempatan untuk membeli atau sekadar test drive,” ujarnya disitat dari Reuters.
Ketertarikan terhadap mobil listrik China bukan tanpa alasan. Selain desain yang kompak dan interior yang dinilai mewah, harga menjadi faktor utama yang membuat kendaraan tersebut menarik di tengah mahalnya harga mobil baru di Amerika Serikat.
“Teknologi yang mereka tawarkan dengan harga segitu sangat mengejutkan,” kata Clint Simone, editor senior Edmunds.
Di pasar global, mobil listrik China memang dikenal menawarkan fitur melimpah dengan harga kompetitif. Di Eropa misalnya, sejumlah model bahkan dijual di bawah USD 30 ribu dengan fitur sistem bantuan berkendara canggih, hingga hiburan kabin yang unik.
Namun, situasi berbeda terjadi di Amerika Serikat. Pemerintah setempat menerapkan tarif impor tinggi, bahkan melebihi 100 persen, terhadap kendaraan asal China. Kebijakan ini didorong oleh kekhawatiran terkait keamanan data serta perlindungan industri otomotif domestik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat membuka peluang bagi produsen China untuk masuk, dengan syarat membangun pabrik lokal dan menyerap tenaga kerja domestik. Meski begitu, penolakan dari pelaku industri dan sebagian politisi masih cukup kuat.
“Selama saya masih bernapas, tidak akan ada kendaraan buatan China yang dijual di Amerika Serikat,” ujar Senator Bernie Moreno.
Di sisi lain, survei menunjukkan adanya minat yang cukup besar dari konsumen. Hampir separuh responden menilai mobil China memiliki value yang sangat baik, sementara sekitar 40 persen mendukung kehadirannya di pasar Amerika.
Meski demikian, kekhawatiran tetap ada, terutama terkait standar keselamatan dan keamanan data. Bahkan dari sisi diler, dukungan terhadap masuknya merek China masih tergolong rendah.
“Banyak orang hanya butuh kendaraan yang efisien, senyap, dan murah,” kata Rich Benoit.





