Arus balik Lebaran 2026 di Jalan Tol Cikopo-Palimanan atau Cipali di Jawa Barat menyisakan sejumlah catatan paradoks. Salah satunya, keluhan pemudik tentang kemacetan di Tol Cipali yang terjadi justru saat volume kendaraan melandai. Peristiwa ini perlu menjadi catatan berbagai pihak.
Setelah menikmati mudik Lebaran di kampung, Artantiani (34) memutuskan kembali ke perantauan di Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (26/3/2026). Warga Kota Cirebon, Jawa Barat, ini memilih hari itu bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan berbagai pertimbangan.
Salah satunya, hari itu bukanlah puncak arus balik Lebaran. Menurut Korps Lalu Lintas Polri, puncak arus balik terjadi dalam dua gelombang, yakni Selasa-Rabu (24-25/3/2026) dan Sabtu-Minggu (28-29/3/2026). Ratusan ribu kendaraan kembali ke Jakarta pada puncak arus itu.
Pemerintah pun kerap mengimbau pemudik untuk menghindari puncak arus balik, yang berpotensi menimbulkan kemacetan. Pertimbangan kedua, Artantiani memilih hari itu karena penerapan diskon tarif tol sebesar 30 persen untuk sejumlah ruas jalan tol pada Rabu dan Kamis.
”Rencananya balik ke Tangerang hari Kamis itu untuk menghindari puncak arus, eh malah kena macet,” ucap pekerja lepas ini. Ia justru terjebak dalam antrean kendaraan sejak memasuki Gerbang Tol (GT) Plumbon Kilometer (Km) 195, Tol Palimanan-Kanci, Cirebon, Kamis pukul 15.00 WIB.
Kemacetan yang ia maksud adalah saat laju kendaraan hanya berkisar 5-10 kilometer per jam. Tidak hanya itu, bahu jalan juga dipadati kendaraan. Mulanya, ia berpikir kepadatan tersebut hanya beberapa ratus meter. Namun, memasuki GT Palimanan, Tol Cipali, antrean belum reda.
Sebaliknya, jalur yang menuju arah Cirebon tampak lengang. Kendaraan melaju kencang, tanpa hambatan. Polisi tidak menerapkan sistem satu arah (one way) saat itu sehingga kendaraan yang mengarah ke timur tetap melintas. Padahal, dua hari sebelumnya, skema satu arah diberlakukan.
Artantiani tidak mengerti, mengapa skema satu arah tidak diterapkan meski antrean kendaraan memanjang. Ia juga tidak paham penyebab kepadatan tersebut. Namun, di sepanjang perjalanan, tidak sedikit mobil yang tampak berhenti di bahu jalan atau sebelah kanan, dekat median jalan.
Padahal, bahu jalan hanya digunakan saat kondisi darurat. Namun, boleh jadi pengendara itu dalam situasi ”terjepit”. Bagaimana tidak, ada pemudik yang berhenti untuk buang air kecil, beristirahat sejenak, meregangkan tubuh, hingga mendinginkan mesin kendaraan.
Pengendara beristirahat di bahu jalan di Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat, Kamis (26/3/2026). Sejumlah pengendara terpaksa berhenti di pinggir jalan karena kelelahan dan gangguan mesin akibat kepadatan menjelang tempat istirahat dan pelayanan.
Sejumlah pengendara berhenti di bagian kanan jalan dekat median di Tol Cikopo-Palimanan, Kamis (26/3/2026). Mereka berhenti di tengah kepadatan.
Sejumlah polisi dan petugas Tol Cipali mempersiapkan skema lawan arus atau contra flow di Kilometer 169-Km 162, Kamis (26/3/2026) petang.
Mereka terpaksa singgah di pinggir jalan karena tempat istirahat dan pelayanan (TIP) atau rest area terdekat berada di Km 164. TIP yang berada di wilayah Kabupaten Majalengka, Jabar, itu pun penuh dan diberlakukan sistem buka-tutup. Banyak kendaraan yang berhenti sebelum TIP.
”Tadinya, saya juga mau berhenti di jalan untuk ganti popok anak. Tapi, karena macet, jadi saya ganti popok di mobil saja,” ucap ibu dua anak ini. Kemacetan mulai terurai setelah TIP Km 164 pukul 17.30 WIB. Artinya, untuk melintasi jarak 31 kilometer, ia membutuhkan waktu 2,5 jam.
Padahal, dalam kondisi normal, hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk melalui jarak tersebut. Di Tol Cipali, batas kecepatan diatur minimal 60 kilometer per jam dan maksimal 100 km per jam. Kendaraannya baru bisa melaju dengan kecepatan normal setelah TIP Km 164.
Pada pukul 17.30, polisi juga menetapkan rekayasa sistem lawan arah atau contra flow menuju Jakarta di Km 169-Km 162 untuk mengurai kepadatan. ”Kenapa baru bikin contra flow? Kan, macetnya sudah dari tadi,” ucap Artantiani.
Kukuh Patria, pengendara lainnya, mengatakan, kemacetan sudah terjadi pada Kamis pagi. Karyawan swasta ini berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. ”Dari Cirebon ke Kilometer 144 saja butuh waktu hampir 4 jam. Sampai ke rumah di Tangerang butuh waktu 7 jam,” ujarnya.
Padahal, biasanya ia membutuhkan waktu 4-5 jam dari Cirebon ke Tangerang. Sejak memasuki Tol Cipali di Cirebon, ia tidak melihat adanya rekayasa lalu lintas, seperti skema lawan arus atau satu arah. Ia justru terjebak dalam antrean kendaraan.
Tidak hanya Kukuh dan Artantiani, keluhan warga tentang kemacetan di ruas tol, seperti Cipali, juga terdengar di media sosial. Di platform X, beberapa warganet menyuarakan sulitnya masuk TIP hingga menempuh perjalanan 15 jam dari Semarang-Jakarta.
Bahkan, di akun Instagram korlantaspolri.ntmc, sejumlah warganet mempertanyakan penghentian sistem satu arah pada Kamis dan lambatnya penerapan skema lawan arus menjelang area istirahat. Ada juga yang mengeluhkan tidak optimalnya pemberlakuan sistem lawan arus.
Ardam Rafif Trisilo, Sustainability Management dan Corporate Communications Department Head Astra Tol Cipali, mengatakan, rekayasa lalu lintas, seperti sistem lawan arus, merupakan diskresi kepolisian. Pertimbangannya, antara lain, melihat volume kendaraan yang melintas.
Pada Kamis pukul 00.00-17.00 WIB, tercatat 48.000 kendaraan yang melintasi eks GT Cikopo di Cipali menuju Jakarta. ”Angka ini menunjukkan lebih rendah 37 persen dibandingkan dengan periode yang sama kemarin dengan rata-rata volume mencapai 2.800 kendaraan per jam,” ujar Ardam.
Artinya, jumlah kendaraan saat itu lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan saat sistem satu arah diberlakukan pada Rabu. Meski volume kendaraan melandai, kepadatan justru terjadi di Cipali. Ardam menyebut, penyebab utama perlambatan karena banyak kendaraan berhenti di bahu jalan.
”Baik karena gangguan mesin ataupun faktor kelelahan pengemudi yang telah menempuh perjalanan panjang dari arah timur,” ucapnya. Ia mengimbau pengendara agar keluar di gerbang tol terdekat jika area istirahat penuh. Keluar masuk Tol Cipali, katanya, tidak menambah biaya.
Menghindari kemacetan berulang, polisi memberlakukan sistem satu arah lokal pada Jumat (27/3/2026) pukul 09.15 WIB dari Km 263 Tol Pejagan-Pemalang hingga Km 70 GT Cikampek Utama. Sistem lawan arus di Km 70 sampai Km 47 pada Tol Jakarta-Cikampek juga diterapkan.
Skema satu arah berlanjut pada Sabtu ini hingga Minggu, yang merupakan puncak arus balik. ”Kami akan mencoba memberlakukan one way lokal tahap III presisi sebelum menuju one way nasional arus balik tahap kedua,” ucap Kepala Korlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho, Sabtu siang.
Sistem satu arah lokal tahap III berlangsung pada Km 390-Km 70, sedangkan one way nasional berlaku dari Km 414 GT Kalikangkung hingga Km 70. Penerapan skema itu berdasarkan volume kendaraan. Hingga Sabtu siang, sekitar 78 persen kendaraan dari sekitar 3,3 juta unit telah kembali ke Jakarta. Sisanya diprediksi bergerak pad akhir pekan ini.
Meskipun rekayasa lalu lintas telah disiapkan untuk puncak arus balik, keluhan pemudik terkait kemacetan pada Kamis patut menjadi pelajaran. Sony Sulaksono Wibowo, anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), menilai, terdapat beberapa catatan evaluasi terkait kepadatan di jalan tol.
Penyebab utama kepadatan adalah penumpukan kendaraan di area istirahat.
Pertama, penyebab utama kepadatan adalah penumpukan kendaraan di area istirahat. Area itu tidak mampu menampung volume kendaraan saat arus mudik dan balik. Pengelola jalan tol, katanya, perlu memperbesar TIP untuk menambah kapasitas penampungan kendaraan.
Namun, hal itu membutuhkan investasi yang besar. ”Kalau tidak bisa diperbesar, minimal fasilitasnya dilengkapi. Ruang tempat istirahat dibuat lebih efektif, efisien, dan fasilitas pendukungnya diperbanyak,” ungkap Sony.
Kedua, pengendara sebaiknya tidak memaksakan diri masuk ke TIP jika telah penuh. Pemudik bisa keluar di gerbang tol terdekat, bukan berhenti di bahu jalan. Sebelum TIP Km 164, misalnya, pengendara dari arah Jawa Tengah bisa keluar di Km 188 atau Km 175.
Jika mengandalkan area istirahat di tol, pemudik dari Jawa akan kesulitan masuk TIP Km 164. Apalagi, area istirahat ini berjarak 44 km dari area istirahat sebelumnya, yakni Km 208 di Tol Palikanci. Itu sebabnya, pemudik perlu sejenak keluar dari tol jika area istirahat telah penuh.
”Kami tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan informasi atau memberikan petunjuk kalau keluar tol bisa makan di mana? Pom bensin di mana?” katanya. Di jalur arteri tersedia banyak tempat istirahat dan makanan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah setempat.
Catatan ketiga adalah kondisi Cipali yang masih didominasi dua lajur. Ini berbeda dengan Tol Jakarta-Cikampek yang mencapai empat lajur. Penambahan lajur ketiga di Cipali terdapat dari arah Cikopo ke Subang. Ketika volume kendaraan meningkat dan pengendara berhenti di bahu jalan, kemacetan tak terhindarkan.
Menurut Sony, saat arus mudik atau balik, tetap terdapat potensi kepadatan seiring meningkatnya volume kendaraan. Itu sebabnya, polisi perlu membuat rekayasa lalu lintas, seperti sistem satu arah atau lawan arus. Namun, pengendara juga harus mengatur perjalanannya, termasuk tidak memaksakan masuk TIP saat penuh.





