Giliran Thailand yang mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal tanker minyak dari negara tersebut untuk melintasi Selat Hormuz secara aman. Sebelumnya kapal milik China, Rusia, Pakistan, Irak, India hingga Malaysia telah diizinkan melintas.
Dirangkum detikcom, Minggu (29/3/2026), Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret. Hal tersebut memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Kesepakatan antara Bangkok dan Teheran ini, seperti dilansir AFP, Sabtu (28/3), diumumkan oleh Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3) waktu setempat.
"Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz," kata Anutin, sembari menambahkan bahwa perkembangan ini akan mengurangi kekhawatiran tentang impor bahan bakar.
"Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali," sebutnya.
Menurut Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dibawa ke kawasan Asia. Sebagian besar negara Asia Tenggara menanggung dampak kesulitan pasokan bahan bakar dan antrean panjang di pom bensin di Thailand semakin sering terjadi.
"Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat," ucap Anutin dalam konferensi pers.
Awal bulan ini, sebuah kapal jenis bulk carrier milik Thailand yang berlayar di jalur perairan strategis itu diserang dan tiga awak kapal dilaporkan hilang.
Pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, menurut platform pelacakan Kpler, dilaporkan anjlok 95 persen antara 1 Maret hingga 26 Maret setelah dimulainya perang.
Garda Revolusi Iran mengatakan pada Jumat (27/3) bahwa pasukan mereka telah memaksa mundur tiga kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan-pelabuhan milik "musuh" Iran.
Laporan badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, menyebut bahwa sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau dilaporkan mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini.
(lir/lir)





