VIVA – Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah merusak berbagai fasilitas umun di Iran, merenggut ribuan nyawa hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara Timur Tengah dan membatasi perlintasan di Selat Hormuz.
Eskalasi ketegangan di sekitar Iran juga menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Blokade itu berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara di dunia.
Menyusul pembatasan tersebut, sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di Teluk Persia, sejak operasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.
Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.
Sementara, Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.
Berikut adalah daftar negara-negara yang kapal-kapalnya diizinkan oleh Iran untuk melintasi Selat Hormuz dikutip dari berbagai sumber.
1. Rusia, China, India, Pakistan dan Irak
Iran telah mengizinkan kapal-kapal dari beberapa negara sahabatnya, termasuk Rusia, untuk melewati Selat Hormuz.
"Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi seperti dilansir dari Antara, Minggu, 29 Maret 2026.
Araghchi menambahkan bahwa Teheran tidak punya alasan untuk mengizinkan "kapal-kapal musuh" melewati Selat Hormuz.
2. Malaysia
Selain beberapa negara sahabat tersebut di atas, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal tanker minyak Malaysia juga akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, menurut laporan Kantor Berita Anadolu pada 27 Maret 2026.





