Turun! OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Organization for Economic Co-operation and Development alias OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,8% pada 2026, turun dari perhitungan sebelumnya.

Dalam laporan terbarunya bertajuk OECD Economic Outlook, Interim Report: Testing Resilience edisi Maret 2026, proyeksi produk domestik bruto (PDB) Indonesia di angka 4,8% turun sebesar 0,2 poin persentase apabila dibandingkan dengan perkiraan lembaga tersebut dalam laporan edisi Desember 2025 (5,0%).

Sementara itu, laju perekonomian nasional diestimasikan kembali menguat ke level 5,0% pada 2027.

Penyusutan proyeksi ini tidak terlepas dari tingginya dinamika eksternal. OECD secara spesifik menyoroti bahwa pertumbuhan di Indonesia diproyeksikan akan tetap stabil secara umum karena stimulus fiskal baru-baru ini mampu menopang pertumbuhan konsumsi swasta.

Di samping itu, kondisi pasar tenaga kerja di sejumlah negara berkembang skala besar, termasuk Indonesia dan India, dinilai masih menguntungkan dengan tingkat pengangguran yang berada pada level yang relatif rendah.

Dari sisi pergerakan harga, inflasi umum (headline inflation) Indonesia diramal akan berada pada level 3,4% di 2026, naik 0,3 poin persentase dari proyeksi periode sebelumnya. Tekanan harga ini diperkirakan bersifat sementara, karena inflasi diproyeksikan akan kembali mereda dan turun menuju level 2,6% pada 2027.

Baca Juga

  • Indonesia Eximbank dan IIF Kolaborasi Dukung Standar ESG dan Aksesi OECD
  • Percepat Aksesi OECD, BPK Gandeng Swiss Dorong Akuntabilitas Sektor Publik
  • Untung Rugi RI Aksesi OECD, Antara Biaya Tinggi hingga Potensi Naik Kelas
Moderasi Inflasi 

OECD juga menggarisbawahi bahwa moderasi inflasi pada 2027 akan dirasakan oleh beberapa negara ekonomi berkembang seperti Indonesia, Brasil, Meksiko, dan Afrika Selatan.

Tantangan inflasi dan pertumbuhan Indonesia ini tidak lepas dari tekanan yang terjadi di tingkat global. Secara agregat, OECD memproyeksikan pertumbuhan PDB global akan melambat menjadi 2,9% pada 2026 dibandingkan realisasi pertumbuhan 3,3 pada tahun lalu, sebelum sedikit merangkak naik ke posisi 3,0% pada 2027.

"Proyeksi ini bergantung pada asumsi teknis bahwa tingkat gangguan pasar energi saat ini akan mereda seiring waktu, dengan harga minyak, gas, dan pupuk menurun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026 dan seterusnya," tulis OECD dalam laporan, dikutip Minggu (26/3/2026).

Lembaga yang berbasis di Paris tersebut menekankan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu menyebabkan guncangan harga energi dan pupuk yang lebih tinggi. Akibatnya, inflasi global meningkatkan dan tingkat permintaan global tertekan.

Ketidakpastian geopolitik itu pun diperkirakan akan menahan daya ungkit dari momentum kuatnya produksi dan investasi yang berkaitan dengan teknologi, kebijakan moneter dan fiskal yang suportif, serta tingkat tarif efektif yang lebih rendah dari asumsi sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alasan Hindari Kamar Nomor Berakhiran 01 saat Menginap di Hotel Menurut Pakar
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ungkapan Gembira Warga Dapat Doorprize Motor Listrik di Pasar Murah Pemerintah: Senang Banget, Gak Mimpi!
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Donald Trump Incar Kuba usai Serang Venezuela dan Iran
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Percepat Sistem Satu Arah di Jalur Puncak untuk Antisipasi Lonjakan Kendaraan Wisatawan
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Karangan Bunga Berjejer di Rumah Eks Menhan Juwono Sudarsono
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.