Dilema Remaja dalam Menemukan Jati Diri di Sekolah

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Seperti yang kita tahu, pagi di Tangerang selalu dimulai dengan langkah-langkah tergesa. Anak-anak berseragam berjalan cepat, memanggul tas yang tampaknya biasa saja, padahal isinya lebih dari sekadar buku. Ada harapan, tuntutan, dan ketakutan yang tak terlihat. Dari kejauhan, pemandangan ini tampak seperti potret masa depan yang rapi dan menjanjikan. Namun jika kita cukup jujur untuk mengenal lebih dalam, ada kelelahan yang tidak seharusnya hadir di usia semuda itu.

Kita belum lupa bagaimana pada akhir tahun lalu, seorang remaja di kawasan Tangerang memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Cisadane. Ini bukan sekadar tragedi tunggal, melainkan juga alarm keras bagi kita semua. Ditambah laporan ratusan kasus kekerasan psikis terhadap anak di Banten, dengan itu terlihat jelas bahwa ada yang retak dalam cara kita mendidik generasi muda.

Masalah ini bukan lagi soal nilai rapor atau ranking di kelas. Ini soal kewarasan—lebih dari itu, ini adalah soal nyawa. Jika sekolah hanya menjadi mesin pencetak angka tanpa menyentuh batin manusia, kita sedang membangun generasi yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.

Ketika Eksplorasi Ditekan oleh Standar yang Sempit

Masalah utama kita berakar pada cara pandang yang keliru. Sekolah masih diperlakukan seperti pabrik. Anak-anak dianggap bahan mentah yang harus dicetak seragam, dipaksa unggul di semua bidang tanpa melihat perbedaan bakat dan minat.

Cara pikir ini sudah lama dikritik oleh Ken Robinson dalam bukunya Creative Schools: Revolutionizing Education from the Ground Up. Ia menegaskan bahwa sistem pendidikan yang terlalu menekankan keseragaman justru membunuh kreativitas. Banyak anak berbakat akhirnya merasa bodoh hanya karena keahliannya tidak sesuai dengan standar sekolah. Tentu sekali lagi, ini bukan hanya kegagalan anak, melainkan juga kegagalan sistem.

Di usia remaja, tekanan ini bisa menjadi jauh lebih berbahaya. Pada fase ini, manusia sedang berada dalam proses paling penting, yaitu pencarian jati diri. Erik Erikson—dalam bukunya Identity: Youth and Crisis—menjelaskan bahwa fase remaja sejatinya berada dalam krisis identitas, sebuah fase antara menemukan siapa dirinya atau justru tenggelam dalam kebingungan peran. Untuk keluar dari fase ini, mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, gagal, dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Masalahnya, ruang itu hampir tidak ada. Remaja hari ini dipaksa menukar proses eksplorasi dengan tuntutan nilai. Mereka tidak diberi waktu untuk mengenal dirinya karena terlalu sibuk mengejar angka. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh bukan sebagai individu yang paham arah hidupnya, melainkan sebagai produk sistem yang patuh tanpa tujuan.

Tekanan ini semakin diperparah oleh metode belajar yang masih kaku. Di banyak kelas, guru masih menjadi pusat segalanya, sementara murid hanya mendengar dan mencatat. Pola ini sudah lama dikritik oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed. Ia menyebutnya sebagai “pendidikan gaya bank”, di mana murid diperlakukan seperti celengan kosong yang hanya diisi informasi. Dalam sistem ini, tidak ada ruang untuk bertanya, apalagi berbeda pendapat. Padahal, saat anak tidak diberi ruang berpikir, yang mati bukan hanya kreativitas, melainkan juga harga dirinya sebagai manusia.

Dampak dari semua ini menemukan sebuah fakta. Data Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Itu berarti lebih dari lima belas juta anak muda hidup dengan kecemasan, tekanan, dan rasa tidak cukup. Bahkan, sekitar dua juta di antaranya mengalami gangguan serius seperti fobia sosial dan kecemasan berlebih. Ini bukan angka kecil. Ini adalah krisis nasional yang sering kita abaikan.

Tekanan akademik bukan satu-satunya faktor. Media sosial juga memperparah keadaan. Remaja terus membandingkan dirinya dengan standar kesempurnaan palsu yang mereka lihat setiap hari. Ketika kehidupan nyata mereka tidak sesuai dengan ilusi tersebut, rasa gagal semakin dalam. Mereka merasa tertinggal, padahal sebenarnya mereka hanya tidak diberi ruang untuk tumbuh dengan cara mereka sendiri.

Kenyataan pahit ini pernah digambarkan dengan sangat kuat oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Pelajaran Mengarang. Tokoh Sandra diminta menulis tentang keluarga bahagia, padahal hidupnya jauh dari itu. Ia tidak mampu menulis, tentu bukan karena tidak bisa, melainkan karena sekolah tidak mampu memahami realitas batinnya. Ini adalah cermin dari pendidikan kita: selalu sibuk menuntut hasil, tetapi buta terhadap luka.

Padahal, jauh sebelum semua kritik modern ini muncul, Ki Hadjar Dewantara sudah mengingatkan bahwa anak harus tumbuh sesuai kodratnya. Pendidikan bukan soal memaksakan bentuk, melainkan merawat potensi. Guru bukanlah seorang pencetak, melainkan seorang penuntun. Sayangnya, prinsip ini sering kali hanya menjadi slogan, tanpa pernah dimuat pada praktik nyata.

Mengembalikan Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri

Kalau kita ingin jujur, masalahnya bukan pada anak yang tidak kuat. Masalahnya ada pada sistem yang terlalu sempit untuk menampung keberagaman manusia. Kita menuntut semua anak berjalan di jalur yang sama, lalu heran ketika banyak yang tersesat.

Membiarkan remaja mengeksplorasi dirinya bukan berarti membiarkan mereka tanpa arah. Justru itu adalah cara agar mereka menemukan arah yang benar. Tanpa proses ini, mereka hanya akan menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, bukan pilihan sadar dirinya sendiri.

Sekolah harus kembali pada fungsinya sebagai ruang aman. Tempat di mana anak bisa bertanya tanpa takut salah, mencoba tanpa takut gagal, dan jatuh tanpa merasa hancur. Pendidikan sejatinya harus membangun manusia, bukan sekadar menghasilkan angka.

Sekarang pertanyaannya sederhana: Ketika anak-anak pulang dari sekolah setiap hari, apakah mereka pulang dengan semangat untuk menjadi dirinya sendiri? Atau justru mereka pulang dengan rasa lelah karena harus terus berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya?

Kalau jawabannya adalah yang kedua, berarti kita tidak sedang mendidik. Kita sedang perlahan menghancurkan identitas mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Diharapkan Jaga Pasokan Gas Domestik di Tengah Krisis Global
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Lonjakan Penumpang di 37 Bandara, Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai Paling Ramai
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Daftar Negara yang Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, kecuali AS dan Israel
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pembacokan di Dupak Surabaya, Beraksi Saat Malam Idulfitri
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Seharusnya Berulang Tahun pada 29 Maret, Penggemar Gelar Pengajian secara Daring untuk Kenang Vidi Aldiano
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.