Liputan6.com, Jakarta - Tumpukan sampah dalam jumlah besar terlihat di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Tumpukan sampah itu sontak menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Volume sampah itu diperkirakan mencapai sekitar 6.970 ton atau setara dengan 410 truk tronton.
Menanggapi kondisi tersebut, Perumda Pasar Jaya menyatakan telah bergerak cepat untuk menangani penumpukan sampah yang terjadi sejak awal Maret 2026 akibat kendala teknis dalam penyediaan armada pengangkutan.
Advertisement
"Kami terus berkoordinasi intensif dengan instansi terkait untuk memastikan seluruh tumpukan sampah dapat segera terangkut sepenuhnya," kata Manager Humas Perumda Pasar Jaya, Topik Hidayatulloh dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (29/3/2026).
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kondisi tersebut. Pasalnya, tumpukan sampah disebut sempat mengganggu aktivitas pedagang, pengunjung, dan warga sekitar pasar.
Topik menyampaikan, Perumda Pasar Jaya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk mengerahkan tambahan armada. Dia bilang, dalam dua hari terakhir, proses pengangkutan dilakukan dengan mengerahkan 33 truk tronton.
"Perumda Pasar Jaya juga melakukan penertiban dan penyaringan (screening) untuk memastikan alur pembuangan sampah tetap terkendali. Langkah ini penting agar penanganan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu mencegah penumpukan berulang," ucapnya.
Selain itu, guna memperkuat sistem pengelolaan, Perumda Pasar Jaya juga menyiapkan langkah jangka pendek dan panjang. Dalam waktu dekat, Pasar Jaya akan memproses pengadaan lima unit truk sampah mandiri berkapasitas 16 meter kubik per unit yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir April 2026.
Selain itu, optimalisasi kerja sama dengan pihak ketiga juga dilakukan guna mempercepat distribusi dan pengangkutan sampah.
Sementara dalam jangka panjang, Perumda Pasar Jaya mulai mengarah pada penerapan teknologi pengolahan sampah berkelanjutan. Menurut Topik, uji coba teknologi thermal hydrolysis serta sistem MASARO (Manajemen Sampah Zero) disiapkan sebagai solusi untuk mengolah sampah langsung dari sumbernya.
"Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan yang ada, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik," tandasnya.




