Jakarta, VIVA – Gangguan mata kering masih kerap dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, kondisi ini diperkirakan dialami oleh sekitar 27,5 persen populasi Indonesia atau lebih dari 76 juta orang. Minimnya kesadaran membuat banyak kasus tidak terdiagnosis sejak dini, sehingga berpotensi mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Gejala mata kering sendiri bisa beragam, mulai dari rasa perih, mata lelah, sensasi seperti berpasir, hingga penglihatan yang kabur. Karena sering muncul ringan dan hilang timbul, kondisi ini kerap diabaikan dan tidak segera ditangani secara medis. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Fenomena ini menjadi perhatian dalam dunia kesehatan mata, termasuk melalui berbagai upaya peningkatan diagnosis dan edukasi publik. Salah satunya dilakukan melalui program Integrated Dry Eye Standardisation and Awareness Programme yang menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan terstandarisasi.
Direktur Pengembangan & Pendidikan JEC Group, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menekankan bahwa pendekatan terstruktur sangat penting dalam menangani kondisi ini.
“Penghargaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi JEC Eye Hospitals and Clinics, tetapi juga merupakan validasi atas pendekatan kami dalam membangun layanan kesehatan mata yang terstandarisasi, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Prof Tjahjono dalam keterangannya, dikutip Minggu 29 Maret 2026.
Melalui pendekatan tersebut, proses skrining kini dapat dilakukan lebih mudah, salah satunya dengan penggunaan Dry Eye Questionnaire-5 berbasis digital. Alat ini memungkinkan masyarakat mengenali gejala lebih awal sebelum berkonsultasi ke tenaga medis.
Hasilnya, dalam satu tahun implementasi, terjadi peningkatan angka diagnosis mata kering rata-rata hingga 30 persen. Bahkan di beberapa fasilitas layanan, peningkatan tersebut mencapai hingga 80 persen setelah penerapan protokol yang lebih seragam.
Tak hanya dari sisi diagnosis, metode penanganan juga terus berkembang. Terapi seperti penanganan kelenjar meibomian hingga penggunaan teknologi intense pulsed light mulai dimanfaatkan untuk memberikan hasil yang lebih optimal bagi pasien.
Di sisi lain, efisiensi layanan kesehatan juga menjadi faktor penting dalam memastikan pasien mendapatkan penanganan yang cepat tanpa mengorbankan kualitas. Sistem alur pasien yang terstruktur dan dukungan teknologi digital dinilai mampu meningkatkan efektivitas layanan secara signifikan.





