Harga emas dunia mulai bangkit usai mengalami aksi jual terbesar dalam beberapa tahun terakhir karena perang di Iran. Mengutip Bloomberg, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (27/3) di New York sempat menguat ke level USD 4.949,09 per troy ounce pada pukul 16.59 waktu setempat, atau naik 2,70 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Harga emas tercatat turun sekitar 15 persen sepanjang bulan ini, yang menjadi ujian kepercayaan bagi para pelaku pasar yang bullish terhadap emas. Kondisi ini membuat sebagian pihak mulai mempertanyakan kembali status emas sebagai aset safe haven, di tengah perang Iran yang berpotensi mengguncang perekonomian global.
Penurunan tajam ini terjadi seiring aksi jual yang lebih luas di pasar saham, obligasi, dan mata uang, yang mendorong investor menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain. Turki juga melepas cadangan emasnya untuk menopang mata uang domestik, dan meskipun bukan satu-satunya faktor penekan harga, muncul kekhawatiran bahwa semakin intensnya perang dapat mendorong lebih banyak bank sentral melakukan hal serupa.
Harga emas sempat merosot hingga 19 persen dari puncak penutupan pada Januari hingga akhir perdagangan Kamis (26/3), mendekati ambang 20 persen yang secara umum menandai awal pasar bearish. Namun pada Jumat (27/3), investor kembali masuk dan mendorong harga naik sekitar 3 persen, seiring sejumlah manajer investasi dan bank meyakini faktor fundamental seperti tingginya utang pemerintah dan kondisi geopolitik yang terfragmentasi masih mendukung emas.
Manajer investasi Fidelity International, George Efstathopoulos, menyebut koreksi ini sebagai peluang beli setelah ketegangan di Timur Tengah mereda. Ia menilai risiko inflasi, tekanan fiskal, dan kredibilitas obligasi tetap menjadi faktor pendorong struktural bagi harga emas.
Kenaikan hampir 150 persen harga emas sejak awal 2023 dipicu oleh pembelian besar-besaran bank sentral, yang meningkat setelah pembekuan cadangan devisa Rusia menyoroti risiko ketergantungan pada dolar AS. Setelah itu, hedge fund turut masuk, diikuti oleh gelombang investor ritel.
Peneliti senior di Brookings Institution, Robin Brooks, mengatakan lonjakan minat pasar yang sangat tinggi dalam beberapa waktu terakhir turut menarik banyak investor baru, yang kemudian berkontribusi pada aksi jual saat ini.
Tekanan tambahan terhadap harga emas juga datang dari kemungkinan perang Iran memicu penjualan emas oleh bank sentral atau setidaknya memperlambat pembelian. Beberapa negara yang selama ini mengakumulasi emas merupakan importir energi, sehingga kenaikan biaya minyak dan gas mengurangi cadangan dolar yang dapat dialihkan ke pembelian emas.
Salah satunya adalah Turki, yang menjual dan menukar lebih dari USD 8 miliar emas dalam dua pekan setelah perang Iran dimulai, guna menjaga stabilitas lira. Bank biasanya melakukan transaksi swap emas dengan mata uang lain sambil menyepakati pembelian kembali di kemudian hari, dan skema ini mencakup sebagian besar aktivitas tersebut.





