Tumpukan sampah setinggi sekitar 6 meter di tempat pembuangan sementara (TPS) di kawasan Pasar Induk Kramat Jati menuai keluhan dari pedagang dan juga warga.
Sampah yang menggunung tepat di depan lapak pedagang sayur itu menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas jual beli di pasar.
Sugiat (55), salah satu warga sekitar yang juga bekerja sebagai tukang parkir, mengaku terganggu dengan bau busuk yang ditimbulkan dari tumpukan sampah tersebut. Bahkan, bau disebut dapat tercium hingga ratusan meter dari lokasi.
“Ya dampaknya ya mengganggu warga inilah, jelas baunya itu yang ini. Kalau yang punya penyakit bengek (asma) mah langsung ini, sesak napas gitu,” katanya saat ditemui di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (29/3).
“Ya sampai, sampai permukiman belakang sampai (baunya). Ya kira-kira lah 100-an meter lah,” lanjutnya.
Ia juga mengaku, bau dari sampah kerap menempel hingga ke pakaian dan tubuhnya setelah beraktivitas di sekitar pasar.
“Ya itu kalau lagi ini baunya kadang-kadang kalau lagi pas nggak sehat, sesak di napas. Iya karena baunya itu kadang-kadang sampai kayak pengap gitu,” ungkap Sugiat.
"Kalau sampai rumah juga masih nempel baunya kan di badan, di baju,” tambah dia.
Sugiat menyebut, sampah yang masuk ke TPS itu selalu ada setiap hari.
“Selalu ada tiap hari. Sampah kol, sampah jerami, buah-buahan semua. Iya sampah-sampah sayur itu tiap hari kan masuk,” kata Sugiat.
Sampah Menumpuk Berbulan-bulanSugiat menyebut, tumpukan sampah tersebut sudah terjadi sejak Januari 2026 lalu dan terus bertambah hingga kini.
“Iya, semenjak itu sampai sekarang. Berarti berapa bulan? Ini bulan apa? Maret kan ini? Ya, 2 bulan. Ini mau April ini kan, berarti mau 3 bulan,” kata Sugiat.
“Iya, terus menumpuk tiap hari,” sambung dia.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena volume sampah yang masuk lebih banyak dibandingkan yang diangkut keluar dari TPS.
“Ya gara-garanya ya, yang dari depan ke sini semua. Banyak ke sini terus mengangkut keluarnya sedikit. Jadi tiap hari itu nyisa gitu. Akhirnya banyak kayak begini,” jelas Sugiat.
Ia memperkirakan, idealnya diperlukan lebih banyak armada untuk mengangkut sampah agar tidak terus menumpuk.
“Diangkut (setiap hari). Cuma armadanya kurang di sininya. Jadi kapasitas tiap hari kalau 15 mobil kali, mungkin ya bersih. Ini kan paling tujuh, enam yang diangkut keluar,” katanya.
“Jadi sampah itu sisa tiap hari. Kalau berbulan-bulan ya jadinya begini,” lanjutnya.
Sugiat berharap pengangkutan sampah dapat dilakukan lebih maksimal agar tidak terus menumpuk.
“Ya sebagai warga ya penginnya bersih diangkut tiap hari biar bersih biar nggak menimbulkan bau itu, yang bisa menimbulkan penyakit kalau tumpukan kayak begini. Iya khawatir juga,” ujar Sugiat.
Pedagang Keluhkan Pembeli MenurunKeluhan juga datang dari pedagang yang berjualan di Pasar Induk Kramat Jati.
Suratno (52), pedagang sembako yang lapaknya tepat berada di seberang tumpukan sampah itu mengaku kondisi itu berdampak pada penurunan jumlah pembeli.
“Ya, tetep mengeluh, soalnya per bulan itu bayar (sampah) kan, mau nggak mau. Sedangkan usaha kayak begini anjlok drastis usaha. Sewa lapak mahal, pedagang makin banyak, yang belanja bekurang banyak,” kata Suratno.
Ia mengatakan, bau menyengat membuat pembeli enggan mendekat ke area lapaknya.
“Ya masalah sampah ini ya dikit banyaknya tetep banyak yang ngeluh. Satu, tuh, kemungkinan menyempitlah pembelanja lah. Baunya, baunya nggak tahan, baunya. Apa lagi kayak saya di jejeran kan,” ujar Suratno.
Selain itu, menurutnya kondisi jalan di pasar juga menjadi semakin sempit sehingga mengganggu aktivitas jual beli maupun distribusi barang.
“Tadinya jalan-jalan lancar karena lega, kan. Sekarang makin menyempit, ya kan. Ya kemungkinan ya tahu sendiri tempatnya keadaan begitu,” kata Suratno.
“Jadi aturan yang parkir itu enak sekarang ya udah menyempit begitu. Ya kemungkinan ya yang belanja maupun yang bongkar dagangan ya kemungkinan bisa resah juga, bisa resah,” sambungnya.
Menurutnya, kemacetan di depan lapaknya juga kerap terjadi, terutama saat aktivitas bongkar muat pada malam hari.
“Gitu tadi aturan bongkar jam sembilan malam, terhambat jadi jam dua belas malam karena macet,” ujarnya.
“Terus saat ini waktu kemarin macet-macet total, yang turun dagangan malam. Kalau pagi-pagi begini mah lancar. Pokoknya habis Magrib nyampe jam dua belas malam tuh macet,” lanjut Suratno.
Tetap Bayar Iuran, tapi Sampah MenumpukSuratno mengaku, para pedagang tetap membayar iuran kebersihan setiap bulan. Namun, kondisi sampah yang terus menumpuk membuat mereka mempertanyakan pengelolaannya.
“Waktu dulu saya bayar harian, ya kayaknya tuh sampah dulu harian, sekarang bulanan kurang lebih kalo nggak 600, 620 (ribu rupiah) dah. Per bulan, ya, per bulan,” ungkap Suratno.
Ia juga menyebut banyak pedagang yang telah mengeluhkan kondisi tersebut.
“Ya kemungkinan banyak yang protes, cuma ilmunya menang dia-dia gitu loh. Keluhan begitu tuh banyak, banyak sekali,” tutur Suratno.
“Ya ada lah (perbedaan). Waktu sampah sering dibuangin itu ya enak-enak aja. Jalanan lega, baunya nggak menyengat begini, apalagi ini kalo pagi udah full sama beco, katrol, ya udah baunya menyengat,” tutupnya.





