JAKARTA, KOMPAS.TV - Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga Mohammad Ayub Mirdad menilai Indonesia takut menunjukkan posisinya dalam merespons serangan-serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Situasi tersebut, kata Ayub, sangat berbeda dengan Malaysia yang justru secara blak-blakan berani memutuskan kesepakatan perdagangannya dengan Amerika Serikat.
Hal itu disampaikan Mohammad Ayub Mirdad merespons pertimbangan positif pemerintah Iran atas keamanan perlintasan di Selat Hormuz untuk kapal milik Pertamina sebagaimana tayangan Breaking News Kompas TV, Minggu (29/3/2026).
“(Malaysia) Langsung menyebutkan bahwa ini pelanggaran atas kedaulatan Iran dan pelanggaran hukum internasional,” kata Ayub.
Baca Juga: Trump Sebut Hormuz sebagai Selat Trump, Pengamat: Provokatif, Pasti Ada Respons Keras dari Iran
“Statement-statement seperti ini juga sebenarnya berpengaruh besar dalam hubungannya dengan Iran, karena Iran punya kunci selat Hormuz.”
Menurut Ayub, seharusnya Indonesia bisa menjadi mediator dalam perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
“Indonesia sebagai negara keempat demokrasi di dunia, dan negara terbesar muslim pertama di dunia, bisa mengajukan diri sebagai mediator, tapi Indonesia lost dari opportunity. Pakistan mengajukan diri, ambil kesempatan tersebut,” kata Ayub.
“Padahal, ini konflik yang cukup strategis, cukup serius, Indonesia (bisa) main di sana sebagai mediator kalau kita lihat rekam jejak Indonesia sebelumnya.”
Namun, kata Ayub, sejauh ini Indonesia justru bersikap sangat hati-hati dalam merespons perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Bahkan, Ayub menilai Indonesia justru kehilangan kesempatan dan peluang di kancah internasional.
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- mohammad ayub mirdad
- indonesia takut
- serangan as-israel ke iran
- as serang iran
- perang as iran





