Untung Rugi Bisnis Mobil Bekas

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Tak ada rotan, akar pun jadi. Kiranya peribahasa ini masih sangat relevan bagi kelas menengah yang mendambakan kendaraan roda empat. Ketika isi dompet belum mampu membawa pulang mobil baru dari dealer, mobil bekas bisa menjadi opsi yang lebih terjangkau.

Seperti halnya jual-beli barang pada umumnya, pasar mobil bekas terbentuk seiring dengan munculnya penawaran dan permintaan dari masyarakat. Tingginya minat masyarakat untuk membeli mobil bekas pun cukup membuat para pedagang mendulang untung.

Namun, belakangan, industri otomotif nasional terpukul. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, total penjualan mobil ke konsumen merosot 6,3 persen, dari 889.680 unit pada 2024 menjadi 833.712 unit pada 2025.

Penurunan ini mengindikasikan ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Setali tiga uang, berkurangnya daya beli masyarakat pun turut dirasakan oleh para pedagang mobil bekas. Bahkan, penjualan mobil bekas yang biasanya melonjak saat menjelang Lebaran, kini justru lesu.

Pengalaman tersebut salah satunya dirasakan oleh Bimo (42), pemilik sebuah showroom mobil bekas di Madiun, Jawa Timur. Dalam dua tahun terakhir, ia cukup kesulitan untuk menjual beberapa unit mobil bekas dagangannya sekalipun menjelang Lebaran.

“Kalau sekarang, yang terpenting bisa bertahan dulu. Paling tidak balik modal, tidak sampai habis unitnya (gulung tikar),” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Menurut dia, persaingan bisnis mobil bekas di daerah saat ini jauh lebih ketat. Jika diperhatikan, jauh lebih banyak jumlah penjual mobil bekas ketimbang pembelinya. Di sisi lain, hampir setiap rumah kini sudah memiliki kendaraan roda empat.

Bisnis kendaraan (mobil bekas) seperti ini, kalau tahun ini ya bisa dibilang mungkin enggak menguntungkan. Sangat minim sekali (keuntungannya).

Tak jarang, beberapa showroom mobil bekas di sekitarnya pun terpaksa gulung tikar. Kondisi ini jauh berbeda ketika sebelum Covid-19. Dari semula hanya menjual satu unit, Bimo bisa menambah mobil bekas dagangannya menjadi tiga unit dari hasil keuntungan penjualan.

“Bisnis kendaraan (mobil bekas) seperti ini, kalau tahun ini ya bisa dibilang mungkin enggak menguntungkan. Sangat minim sekali (keuntungannya),” ujarnya.

Keadaan serupa juga dialami oleh Leo, pemilik sebuah showroom mobil bekas di WTC Mangga Dua, Jakarta. Selama dua tahun terakhir, jumlah mobil bekas yang laku terjual di lapak miliknya jauh menurun.

Selama periode menjelang Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya, Leo biasanya mampu melepas hingga 30 unit dalam kurun waktu sebulan. Kini, bila 10 unit bisa terjual dalam sebulan, ia sudah bersyukur. Apalagi, kini sudah banyak beberapa lapak di sekitarnya yang berguguran.

“Harapannya, semoga ekonomi bisa balik normal lagi. Soalnya, 6 bulan ini, sektor bisnis riil enggak ada yang jalan menurut saya,” katanya.

Baca JugaMobil Bekas Versus Baru untuk Mudik Lebaran 2024
Menikmati dagangan

Lain cerita lagi dengan Nugroho (43). Meski bukan mata pencaharian utamanya, jual-beli mobil bekas telah ia geluti sejak empat tahun lalu. Dalam menjalankan bisnis sampingannya tersebut, ia pun memiliki siasat tersendiri.

Alih-alih memasang target layaknya showroom, Nugroho tak memaksakan diri di tengah bisnis mobil bekas yang kini mulai meredup. Sebaliknya, ia menawarkan mobil dagangannya secara santai melalui kanal media sosial atau jejaringnya.

Tak mau ambil pusing untuk menjual dagangannya secara cepat, ia justru menikmati sambilannya dengan menjajal mobil bekas untuk aktivitas sehari-hari dalam beberapa waktu. Dengan cara demikian, ia pun menamai praktik jual-belinya sebagai “magang” alias memakai sembari berdagang.

“Tidak harus satu bulan keluar satu atau dua unit. Jual santai saja. Enggak mesti untung, kadang rugi pun enggak masalah. Tapi, paling tidak saya sempat memakainya. Jadi, keuntungan yang didapat sebagai penjual perorangan adalah memakai mobil yang belum pernah saya punya,” tuturnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Nugroho lebih sering kulakan unit mobil bekas melalui jasa pelelangan. Mekanisme ini dirasa cukup aman lantaran ia dapat mengatur sendiri batas maksimal harga sebuah unit mobil bekas. Bila dirasa terlalu mahal, ia pun tidak akan mengambilnya.

Untuk saat ini, untung Rp 5 juta sebenarnya sudah sangat lumayan. Berbeda dengan dulu, mungkin sebelum pandemi Covid-19, keuntungan dari jual-beli mobil bekas bisa sampai Rp 10-15 juta.

Untuk mobil kelas menengah atau jenis multi purpose vehicle (MPV), harga yang dibanderol biasanya dalam kisaran Rp 150 juta. Harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti kondisi mobil, kelengkapan administrasi, serta tahun keluaran mobil.

“Untuk saat ini, untung Rp 5 juta sebenarnya sudah sangat lumayan. Berbeda dengan dulu, mungkin sebelum pandemi Covid-19, keuntungan dari jual-beli mobil bekas bisa sampai Rp 10-15 juta,” ujarnya.

Meski demikian, jual-beli mobil bekas memiliki risiko penipuan, salah satunya berbentuk penipuan segitiga. Pelaku modus kejahatan ini menipu penjual dan pembeli sekaligus dengan memosisikan diri sebagai perantara palsu untuk membawa kabur uang.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku akan menyalin iklan mobil dan menawarkannya dengan harga yang lebih murah. Bahkan, pelaku juga melarang pembeli bertemu dengan penjual secara langsung guna melancarkan aksinya.

“Jadi, kalau memang murah unitnya, pembeli harus tahu penjualnya itu yang mana. Jangan sampai dia diajak orang (tidak dikenal), padahal pemiliknya bukan dia,” kata Nugroho.

Baca JugaSiasati Lesunya Penjualan Mobil Baru, Multifinance Sasar Pasar Mobil Bekas
Peluang pembiayaan

Di sisi lain, perkembangan bisnis mobil bekas turut memberikan peluang bagi industri keuangan. Peluang ini salah satunya ditangkap oleh lembaga pembiayaan alias multifinance. Kini, bukan hanya pembiayaan mobil baru, multifinance pun merambah ke pembiayaan mobil bekas.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan kendaraan roda empat sepanjang 2022-2025 rata-rata tumbuh 6,8 persen secara tahunan. Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan roda empat tercatat sebesar Rp 229,43 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya, Agusman, mengatakan, kendaraan roda empat bekas mencatat rata-rata pertumbuhan lebih tinggi sebesar 12,75 persen secara tahunan.

Ke depan, perbaikan pasar otomotif pada awal tahun menjadi sinyal positif bagi pembiayaan kendaraan, dengan prospek pertumbuhan positif selama 2026. “Perusahaan dapat mengoptimalkan kedua segmen dengan memperluas jaringan dan menjaga kualitas pembiayaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Sementara itu, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) Dewa Made Susila berpandangan, ceruk pasar untuk pembiayaan mobil bekas masih cukup menjanjikan. Apalagi, tingkat peneterasi kendaraan roda empat di Indonesia masih terbilang rendah.

Pasar mobil bekas itu memperlebar segmen konsumen mobil baru karena harganya lebih rendah. Jadi, dari sebelumnya belum mampu membeli mobil baru, sementara mulailah belajar mempunyai mobil lewat mobil bekas.

Berdasarkan data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian RI (Polri), jumlah mobil pribadi yang dimiliki oleh masyarakat per 22 Maret 2026 mencapai 21,1 juta unit. Adapun jumlah penduduk Indonesia pada akhir 2025 mencapai 288,3 juta jiwa. Artinya, rasio kepemilikan mobil pribadi oleh masyarakat di Indonesia baru mencapai 7,31 persen.

“Pasar mobil bekas itu memperlebar segmen konsumen mobil baru karena harganya lebih rendah. Jadi, dari sebelumnya belum mampu membeli mobil baru, sementara mulailah belajar mempunyai mobil lewat mobil bekas,” kata Made saat dihubungi pada Jumat (20/3/2026).

Meski demikian, pengembangan pasar mobil bekas memiliki kendala tersendiri, yakni terkait dengan pendataan. Berbeda dengan penjualan mobil baru yang terdistribusi melalui jaringan dealer, penjualan mobil bekas umumnya dilakukan antarkonsumen alias consumen to consumen (CtC).

Maka dari itu, Adira pun meluncurkan platform digital yang mempertemukan antara penjual dengan pembeli mobil bekas secara daring, bernama Momobil. Selain itu, pengguna juga dapat memanfaatkan akses pembiayaan yang ditawarkan oleh Adira melalui aplikasi tersebut.

Direktur Bisnis PT BFI Finance Indonesia Tbk Tan Rudy Eddywidjaja menjelaskan, BFI Finance masih melihat adanya peluang dalam pasar mobil bekas. Untuk mendapatkan ceruk pasar tersebut, perusahaan pun membentuk bursa mobil yang bisa dijangkau oleh konsumen.

Bursa mobil dengan kapasitas hingga 300 unit tersebut bernama Bursa Mobil SOBAT BFI di BG Junction, Surabaya. Bursa mobil ini diharapkan dapat memberikan aneka variasi pilihan masyarakat dalam memilih mobil bekas.

“Kami melihat showroom yang dikelola dengan manajemen yang baik dan kuat tetap dapat survive bahkan mampu mencatat penjualan dengan pertumbuhan positif,” kata Rudy.

Serial Artikel

Penjualan Mobil Bekas Meningkat

Pedagang mengaku terdapat peningkatan hingga 30 persen penjualan mobil bekas menjelang akhir tahun.

Baca Artikel

Meski demikian, menurutnya, pasar mobil bekas tengah menghadapi tantangan seiring masuknya berbagai jenama mobil asal China yang harganya cederung lebih terjangkau. Selain itu, turunnya penjualan mobil secara nasional turut menekan pasar mobil bekas.

Di tengah berbagai tantangan itu, BFI Finance masih mencatatkan pertumbuhan pembiayaan mobil bekas sebesar 10 persen secara tahunan pada 2025. Capaian ini antara lain didukung dengan peawaran bunga yang menarik untuk masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Lebaran, Ribuan Wisatawan Padati Bukit Merese Mandalika
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Siapkan Aksi Korporasi, Bank Mandiri (BMRI) Segera Audit Lapkeu Kuartal I/2026
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Iran Izinkan 20 Kapal Pakistan Lintasi Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Mulai Mereda
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Israel Klaim Komandan Angkatan Laut Iran Alireza Tangsiri Tewas dalam Serangan
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Video: Tambah Skill Korban PHK, Kemnaker Buka BLK dan Bagi Info Loker
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.