Thailand, VIVA - Krisis energi akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak nyata di Thailand. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, tidak hanya memukul sektor transportasi, tetapi juga mengganggu operasional kendaraan dan mesin di sektor pertanian.
Dilansir VIVA Otomotif dari The Guardian, Minggu 29 Maret 2026, dii kawasan Ayutthaya, para petani padi harus antre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mendapatkan solar. Namun, tidak sedikit yang pulang dengan tangan kosong karena stok habis sebelum giliran mereka tiba.
Salah satu petani, Thanadet Traiyot, mengaku kesulitan menjalankan mesin pompa air di sawahnya akibat keterbatasan bahan bakar. Padahal, distribusi air yang merata sangat penting untuk menjaga kualitas tanaman padi. Dengan pasokan solar yang terbatas, ia terpaksa mengurangi penggunaan mesin dan memilih area yang paling membutuhkan air.
“Kami sangat bergantung pada bahan bakar untuk operasional, mulai dari merawat tanaman hingga memompa air,” ujarnya.
Lonjakan harga solar menjadi salah satu penyebab utama kondisi ini. Jika dikonversi ke rupiah, harga diesel di Thailand kini mencapai sekitar Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter, naik signifikan dari sebelumnya sekitar Rp13.000 per liter sebelum konflik terjadi. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah mulai mengurangi subsidi BBM.
Dari perspektif otomotif, situasi ini menegaskan pentingnya bahan bakar dalam menunjang operasional kendaraan berbasis mesin diesel. Tidak hanya alat pertanian, kendaraan niaga seperti truk pengangkut hasil panen, kapal nelayan, hingga alat berat juga ikut terdampak.
Efek domino pun mulai terasa di berbagai sektor. Layanan taksi di Bangkok dilaporkan berkurang karena keterbatasan BBM. Aktivitas kapal wisata juga terhenti, bahkan beberapa fasilitas umum seperti krematorium di kuil sempat menghentikan operasional akibat kekurangan bahan bakar.
Sektor perikanan turut mengalami tekanan. Banyak kapal nelayan memilih tidak melaut karena biaya operasional yang melonjak tinggi. Jika kondisi ini berlanjut, industri perikanan Thailand yang bernilai miliaran dolar berpotensi terhenti.
Selain itu, krisis energi juga mulai merambat ke sektor pendukung seperti industri pupuk. Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat produksi pupuk di sejumlah negara Asia menurun. Padahal, pupuk merupakan komponen penting dalam menjaga produktivitas pertanian.





