Gelombang Protes No Kings Guncang AS, Sentimen Anti Donald Trump Kian Meluas

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Gelombang protes No Kings kembali mengguncang Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/3) waktu setempat. Ini bukan sekadar sebagai aksi penolakan kebijakan, tetapi sebagai simbol kekhawatiran yang makin luas terhadap arah demokrasi negara itu di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Melansir BBC, untuk ketiga kalinya jutaan warga turun ke jalan, mulai dari sejumlah kota besar seperti New York City dan Los Angeles hingga kota kecil yang jarang tersorot. Aksi protes No Kings sebelumnya pernah dilakukan pada Juni dan Oktober 2025 yang juga menolak kepemimpinan Trump yang dianggap seperti raja atau otoriter.

Di Washington DC, ribuan orang memadati National Mall hingga tangga Lincoln Memorial, membawa simbol-simbol perlawanan, termasuk patung-patung satire pejabat pemerintah. Aksi serupa juga terjadi di St Paul yang menjadi titik emosional setelah kematian dua warga sipil dalam operasi imigrasi pemerintah federal.

Protes tidak hanya digerakkan aktivis, tetapi juga diperkuat oleh figur publik. Musisi legendaris Bruce Springsteen tampil di panggung aksi, menyuarakan kritik lewat lagu antipenegakan imigrasi berjudul Streets of Minneapolis.

Reuters melaporkan, bentrokan kecil terjadi di beberapa kota, termasuk penangkapan di Dallas dan insiden kekerasan di Los Angeles. Pemerintah federal pun merespons keras dengan pengerahan aparat dan penggunaan langkah pengendalian massa.

Lalu, yang membuat fenomena ini semakin signifikan adalah dimensinya yang melampaui batas negara. Warga Amerika di luar negeri ikut turun ke jalan di kota-kota seperti Paris, London, dan Lisbon.

Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump memang memperluas penggunaan kekuasaan eksekutif, termasuk pengerahan Garda Nasional dan kebijakan hukum yang kontroversial.

Para penyelenggara aksi menyatakan protes kebijakan yang dilakukan Trump ini selain penegakan hukum imigrasi federal juga termasuk perang di Iran. Begitu juga dengan meningkatnya biaya hidup.

“Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Tetapi ini Amerika, kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni miliarder mereka," kata para penyelenggara dikutip dari BBC, Minggu (29/3).

Seorang juru bicara Gedung Putih menyebut protes tersebut sebagai sesi terapi gangguan Trump. Gedung Putih juga menyebut satu-satunya orang yang peduli adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.

Menurut situs web No Kings yang dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (28/3), lebih dari 3.300 agenda No Kings direncanakan di seluruh 50 negara bagian. Kerumunan besar diperkirakan akan ada di kota-kota seperti New York, Los Angeles, dan Washington, DC. Acara serupa juga terjadi secara internasional di kota-kota seperti Roma, Paris, dan Berlin. 

“Kisah utama dari mobilisasi Sabtu ini bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berdemonstrasi, tetapi di mana mereka berdemonstrasi,” kata Leah Greenberg, salah satu pendiri organisasi nirlaba progresif Indivisible, yang memulai gerakan No Kings.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Terakhir KRYD: ETLE Drone Presisi Pantau KM 29 Tol Japek, Tindak Sumbu 3
• 4 jam laludetik.com
thumb
Seskab Ungkap 200 Ribu Masyarakat Serbu Bazar Rakyat di Monas
• 22 jam laludetik.com
thumb
Mobil Terseret Banjir Saat Hujan Deras di Kota Cimahi
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
BCA Dorong Pembiayaan Berkelanjutan, Nilainya Tembus Rp255 Triliun
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Korut Uji Coba Mesin Roket Terbaru, Dipantau Langsung Kim Jong Un
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.