Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai industri otomotif menjadi salah satu sektor yang paling terdampak dari bayang-bayang ancaman krisis energi yang akan mengubah perilaku konsumsi masyarakat.
“Konflik Iran memang layak diwaspadai karena gangguan di Selat Hormuz terus menekan pasar energi dunia. Pada 27 Maret, harga minyak Brent masih berada di kisaran USD 110,74 per barel,” ujar Pardede kepada kumparan, Sabtu (28/3/2026).
Meski demikian, Pardede menyebut secara langsung Indonesia tidak menghadapi ancaman kelangkaan energi. Namun risiko utama datang dari lonjakan biaya impor energi yang berpotensi menekan fiskal negara dan daya beli masyarakat.
Meski pemerintah menjamin pasokan domestik masih aman dalam jangka pendek sekitar 27-28 hari ke depan dan juga belum menerapkan pembatasan pembelian BBM sehingga masyarakat diminta tetap tenang.
"Karena itu, yang perlu dilakukan masyarakat sekarang bukan panik atau menimbun, melainkan berhemat secara disiplin. Kurangi perjalanan yang tidak perlu, manfaatkan angkutan umum atau berbagi kendaraan bila memungkinkan, rawat kendaraan agar lebih irit," jelas Pardede.
Simulasi ekonomi menunjukkan tekanan fiskal bisa meningkat signifikan jika harga minyak tetap tinggi. Pardede menyebut kombinasi harga minyak dan pelemahan rupiah berpotensi memperlebar defisit anggaran negara.
“Bila minyak rata-rata USD 80 per barel dan rupiah sekitar 17.000 per dolar AS, tekanan subsidi dapat mendorong defisit APBN 2026 ke sekitar Rp 761 triliun,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat sektor otomotif berpotensi mengalami perubahan tren permintaan. Konsumen dinilai akan semakin mempertimbangkan efisiensi energi dalam memilih kendaraan di tengah ketidakpastian global.





