Hadiri Halalbihalal Muhammadiyah Jaksel, HNW: Ini Bagian Perkuat Persaudaraan

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengungkapkan tradisi halalbihalal bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

HNW sapaan akrabnya menyebutkan itu adalah salah satu warisan ijtihad dari kalangan Muhammadiyah dengan hadirkan terminologi yang awalnya dipopulerkan oleh Rahmad warga Muhammadiyah dari Gombong Jawa Tengah

BACA JUGA: Prabowo Ingin Mediasi AS-Iran, HNW Ingatkan Soal Ini, Silakan Disimak

Dia menuliskan dalam Majalah Soeara Moehammadijah edisi 5 tahun 1924 dalam rubrik khusus yang memfasilitasi pembaca untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjalin silaturahmi melalui media massa, dengan menggunakan istilah “Alal Bihalal”.

Kemudian pada jelang Idulfitri 1926, majalah Soeara Moehammadijah itu menampilkan iklan terkait dengan istilah yang sekarang populer yaitu “Halal bil Halal” “Maka tradisi yang dengan sebutan “Halal bi Halal” yang dikenal hari ini tidak lepas dari peran (warga) Muhammadiyah yang mempopulerkan istilah tersebut dalam kehidupan umat.

BACA JUGA: Soal Usul Ketum NasDem, HNW PKS: PT 4 Persen Angka Moderat

"Ini bagian dari upaya menghadirkan Islam yang mencerahkan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Hidayat dalam agenda Silaturahim Idulfitri 1447H bersama PD Muhammadiyah Jakarta Selatan. 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PP Muhammadiyah tahun 2005-2015 Prof. Din Syamsudin, Rektor UTM Jakarta Prof. Agus Suradika, Ketua PDM Jakarta Selatan Dr. Edi Sukardi, bersama pengurus dan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah se Jakarta Selatan. 

BACA JUGA: Harap Negara Tak Menutup Bantuan Asing, HNW: Itu Bukan Buat Mengecilkan Indonesia

HNW menambahkan, dalam perjalanan sejarahnya, tepatnya pada 1948, istilah Halalbihalal kemudian diadopsi dalam konteks kebangsaan. 

KH Wahab Hasbullah pada 1948 merespons permintaan Presiden Soekarno yang meminta diselenggarakannya event yang menarik kehadiran para tokoh bangsa selain dengan istilah “Silaturahim”. 

Mereka mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk menggunakan istilah Halalbihalal untuk dapat mempertemukan dan mendamaikan para tokoh bangsa yang saat itu tengah mengalami ketegangan politik. 

Presiden Soekarno menerimanya dan jadilah tradisi yang berlaku di istana negara khususnya di Indonesia. 

“Momentum Halalbihalal pada masa awal kemerdekaan menjadi sarana strategis untuk mempererat persatuan melawan politik devide et imperanya kolonialis Belanda. Ini menunjukkan bahwa tradisi keislaman dapat diterima, dilanjutkan dan berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa, dan mempererat ukhuwah tali persaudaraan di antara para Pimpinan Bangsa dan sesama warga Bangsa,” jelasnya. 

Menurut Hidayat, momentum Halalbihalal pada tahun ini memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai tradisi sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi permasalahan global, termasuk agenda besar tahunan Umat Islam pasca Ramadhan, yakni Ibadah Haji. 

“Tahun ini pertama kali penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia dilaksanakan oleh Kementerian Haji dan Umrah. Sebagai hasil perjuangan kami di Komisi VIII, tentu diharapkan dapat menghadirkan penyelenggaraan yang lebih baik, profesional, terbebas dari kasus hukum, dan berorientasi pada kemaslahatan jamaah, dan itu semua harus berbasiskan kepada prinsip yang “halal” dan dilakukan dengan “bil halal”. Agar tak terjadi lagi kasus Menteri Agama yang bermasalah dengan KPK,” tegas HNW. 

“Komitmen perbaikan penyelenggaraan haji dulunya ternyata juga dimulai oleh Muhammadiyah. Ketika KH A Dahlan melakukan tuntutan perbaikan penyelenggaraan Haji dengan Ordonansi Haji dengan kemudian membentuk Bagian Penolong Haji pada tahun 1922, yang langsung diketuai oleh murid beliau KH M Sudja”, sambungnya. 

Selain itu, Hidayat juga mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Halalbihalal sebagai sarana memperkuat solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina, juga untuk menyelamatkan masjid Al Aqsha. 

Sikap yang dalam konteks Indonesia, ternyata juga diawali oleh kader muda Muhammadiyah yang nantinya menjadi Bangsa dan Pahlawan Nasional, yaitu Abdul Kahar Mudzakkir.

Saat itu 1931, beliau masih berusia 24 tahun, tetapi sudah dipercaya oleh Mufti Jerusalem asSayyid M Al Amin alHusaini, untuk memperjuangkan Palestina dan Masjid Al Aqsha dalam Konferensi Dunia Islam di Al Quds, di mana Kahar Mudzakkir bahkan dipercaya menjadi “Katib”/Sekretarisnya. 

“Saat-saat sekarang ini Palestina (Gaza, Tepi Barat) nasibnya bukan makin damai, makin baik, tapi bahkan dengan diberlakukannya perang Israel & AS atas Iran, kondisi mereka makin parah. Perdamaian makin jauh saja,” ungkap Hidayat. 

Apalagi ketika militer Israel menutup masjid Al Aqsha sejak awal perang Israel & AS dengan Iran. 

Peristiwa yang baru kali ini terjadi sejak pendudukan di wilayah Al Quds pada 1967 oleh Israel, untuk pertama kalinya salat Tarawih, I’tikaf, sholat Jumat dan salat Idulfitri dilarang diselenggarakan di Masjid Al Aqsa. Dan penutupan tersebut masih berlangsung hingga bulan Syawal, hingga tanggal 15 April 2026. 

Bila tidak ada solidaritas global yang kuat dan tekanan lembaga-lembaga internasional yang efektif, maka bisa jadi penutupan masjid Al Aqsha akan permanen, bahkan masjid kiblat pertama umat Islam itu akan dirobohkan diganti dengan Solomon Temple, sesuai program zionis untuk wujudkan klaim negara Israel Raya. 

Bila itu terjadi maka cita-cita hadirkan negara Palestina habis sudah karena tidak akan bisa diwujudkan.

“Halalbihalal harus menjadi momentum untuk kembalinya umat Islam pada fitrahnya yaitu dengan memperkuat solidaritas terhadap Masjid Al Aqsha dan dukungan bangsa Indonesia untuk penyelamatan Masjid Al Aqsha dan kemerdekaan Palestina, melanjutkan apa yang dulu sudah diperjuangkan oleh Prof Dr. KH Abdul Kahar Mudzakkir, kader muda Muhammadiyah, yang menjadi anggota BPUPK, Panitia 9, dan kemudian menjadi Bapak Bangsa dan Pahlawan Nasional,” pungkasnya. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Presiden Prabowo Tampil di PBB, HNW: Patut Diapresiasi


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, JPNN.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepala BPJPH: Pasar Kramat Jati Percontohan Pasar Halal
• 5 jam laludetik.com
thumb
Wamenhaj Pastikan Haji 2026 Berjalan, Jadi Simbol Perdamaian Dunia
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia pada 29 Maret-1 April 2026
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Seniman Bikin Zebra Cross di Tebet Berkarakter Pac-Man, Dinas Bina Marga Buka Suara
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Senegal Tetap Pamer Trofi Piala Afrika 2025 Meski Gelar Dicabut
• 16 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.