Jakarta, VIVA – Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur (Jatim), KH Abdussalam Shohib menyerukan perang zionis Israel-AS dengan Iran diakhiri demi kemanusiaan dan perdamaian dunia.
"PBB harus segera mengakhiri perang zionis Israel-Amerika Serikat dengan Iran demi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Karena, tidak ada keuntungan yang didapat dari keangkuhan kecuali kehancuran," kata pria yang akrab disapa Gus Salam itu dalam keterangannya, Minggu, 29 Maret 2026.
Gus Salam menilai perang tersebut memiliki persaingan atau kompetisi atas berbagai motif. Hal serupa, kata dia, terjadi antara Rusia dengan Ukraina.
- AP News
"Kepentingan untuk memenuhi hasrat (nafsu), terutama para pemimpinnya yang mendorong sikap dan tindakan untuk menguasai, mendominasi dan melemahkan yang lain dengan berbagai cara," kata dia.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim periode 2018-2023 itu mengatakan, sejarah panjang peradaban manusia telah membentuk karakter negara-bangsa. Mulai dari peradaban Persia, Yahudi, Romawi, Yunani, Mesir, Babilonia, Byzantium, Mongol hingga Nusantara.
Lompatan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan perubahan kompleks dalam struktur sosial telah mendasari kemajuan peradabannya.
Namun, lanjut Gus Salam, lompatan kemajuan itu kerap digunakan untuk ambisi menundukkan yang lain secara segregatif dalam kategori kawan dan lawan.
"Berkawan atas ragam dasar-pertimbangan, mulai agama, ideologi, orientasi hingga kesamaan strategi dan kepentingan. Dan, menempatkan yang lain pada posisi pesaing (kompetitor) hingga menjadi lawan yang diwaspadai, dicurigai dan dilucuti kemampuannya," kata dia.
Di sisi lain, kata dia, dunia berkembang dengan normalitasnya dan bisa mengalami titik didih di sisi lain. Kontraksi sosial-politik selalu memicu ketidakseimbangan menuju benturan hingga berhadapan dalam perang.
"Keangkuhan, keserakahan dan ambisi berkuasa yang melekat pada kepemimpinan kerap menjadi penyebab terjadi tragedi kemanusiaan. Dan bila itu terjadi, dunia dipaksa untuk mencari keseimbangan baru demi kelangsungan dan keteraturan," ucap Gus Salam.
Menurut Gus Salam, negara Iran diremehkan dan dianggap lemah karena embargo dan tekanan politik global selama 47 tahun. Namun faktanya, Iran tidak hanya bertahan tapi sumbu perlawanan dengan membangkitkan ideologi bangsa, ilmu pengetahuan dan teknologinya.





