REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Amerika Serikat bersiap melaksanakan apa yang digambarkan sebagai salah satu operasi militer paling rumit dalam sejarah modernnya, yang bertujuan untuk merebut uranium Iran yang telah diperkaya—sebuah misi yang tampaknya hampir mustahil.
Para analis sepakat pelaksanaan operasi penyitaan ini mengharuskan Amerika Serikat mengerahkan seluruh kemampuan militer dan teknologinya, sambil memastikan keamanan pasukannya di wilayah yang dikelilingi oleh ancaman yang mengintai.
Baca Juga
Kemlu: Iran Berikan Lampu Hijau Kapal Tanker Pertamina Melintasi Hormuz
Serangan-Serangan Iran Bongkar Titik Lemah Zionis Israel yang Selama Ini Klaim Paling Digdaya
Pakar Militer Rusia: AS Ulangi Kesalahan di Vietnam Selama Perang Iran, Makanya Kalah
Penulis Michael Evans mengatakan—dalam laporannya di surat kabar The Times Inggris—meskipun pasukan khusus AS sudah siap, keberhasilan misi ini bergantung pada beberapa faktor kompleks, termasuk intelijen yang akurat, koordinasi internasional, dan penanganan risiko keamanan yang mungkin timbul akibat eskalasi militer.
Uji coba yang sesungguhnya
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dia menambahkan, jika operasi tersebut disetujui Presiden AS Donald Trump, misi ini akan menjadi uji coba yang sesungguhnya bagi pasukan khusus AS dan kemampuannya dalam melaksanakan operasi yang rumit di bawah tekanan tinggi, dalam waktu yang sangat singkat.
Evans menjelaskan bahwa operasi yang akan dipimpin Trump—jika disetujui—oleh tim elit "Delta Force" AS, akan menguji kemampuan pasukan khusus, intelijen, dan operasi dukungan logistik dalam salah satu misi paling rumit yang mungkin dihadapi AS dalam beberapa dekade terakhir.
Dia menambahkan, diperkirakan ada 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen di fasilitas nuklir Natanz, jumlah yang ingin disita oleh pasukan Amerika.
Dia mengungkapkan, tantangannya adalah sekitar 200 kilogram uranium tersebut terkubur di bunker bawah tanah di fasilitas Natanz, sementara sisanya mungkin terkubur di lokasi Fordow dekat ibu kota Teheran.
Operasi ini bukan sekadar misi untuk menemukan uranium, tetapi juga memerlukan upaya untuk menghindari deteksi, selamat dari pertempuran yang mungkin terjadi, dan memastikan pengangkutan bahan bakar nuklir tersebut dilakukan dengan aman, jelas Evans.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)