Pernahkah kamu sangat bersemangat untuk bekerja karena ada hadiahnya, namun begitu hadiah tersebut hilang, semangat kamu juga ikutan hilang?. Mungkin itu tandanya kamu sedang dikendalikan oleh motivasi eksternal. Untuk berkomitmen pada suatu hal khususnya dalam jangka panjang, dibutuhkan motivasi internal yang kuat. Namun apa sebenarnya motivasi internal dan eksternal itu? Apa perbedaan dan darimana asalnya? Mari kita bahas dalam artikel ini.
Manusia pada dasarnya memiliki motivasi untuk terus berkembang. Ini didukung oleh teori hierarki kebutuhan manusia oleh seorang psikolog populer asal Amerika, yaitu Abraham Maslow. Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam sebuah tingkatan dengan bentuk piramida yang terbagi menjadi lima bagian. Di tingkatan pertama terdapat kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, bernapas, dan semacamnya, di tingkatan kedua ada kebutuhan akan rasa aman, di tingkatan ketiga yaitu kebutuhan akan afeksi, tingkatan keempat adalah kebutuhan akan penghargaan, dan tingkatan yang kelima merupakan kebutuhan untuk beraktualisasi.
Kebutuhan akan diri yang beraktualisasi ini dapat digambarkan dengan gairah atau passion. Ketika seseorang bekerja atau melakukan sesuatu bukan karena ingin mendapatkan imbalan dan bukan karena diminta oleh siapapun. Ia hanya menyukai apa yang dilakukannya dan dapat terus mengembangkan kemampuannya. Misalnya seorang pelukis yang meskipun ia tidak mendapatkan penghasilan yang membuatnya kaya dari pekerjaan tersebut, ia akan tetap melukis. Walaupun orang-orang mengaggap ia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, ia tetap akan melakukannya karena kebutuhan untuk aktualisasi diri yang dimilikinya ingin dipenuhi.
Sayangnya, banyak orang sudah merasa puas dan cukup hanya ketika mereka mencapai tingkatan kebutuhan yang keempat, yaitu kebutuhahn akan penghargaan. Misalnya, ketika seorang murid berhasil menjuarai lomba di tingkat kabupaten/kota. Ia dipuji oleh guru dan teman-temannya, sehingga merasa bahwa ia sudah cukup berbakat di bidang tersebut. Namun ketika mewakili daerahnya di tingkat provinsi, ia tidak mampu mendapatkan juara atau bahkan bersaing dengan murid-murid dari daerah lain yang lebih kompeten. Ini disebabkan cepatnya perasaan puas muncul, sehingga ia cenderung meremehkan kemampuan murid lain. Padahal, jika ia berlatih dengan sungguh-sungguh, maka ia dapat mencapai tahapan pengembangan diri (aktualisasi) dengan maksimal dan meraih juara.
Motivasi untuk beraktualisasi yang berasal dari dalam diri adalah motivasi internal atau dalam psikologi lebih dikenal dengan sebutan motivasi intrinsik. Ia ibarat "api dari dalam" diri yang membakar semangat. Ia dapat menjadi bahan bakar yang membuat sekalipun diri sedang berada pada titik terendah, namun tetap memiliki alasan dan semangat untuk melanjutkan atau mengerjakan sesuatu.
Motivasi eksternal atau yang dalam psikologi disebut motivasi ekstrinsik, identik dengan persamaan "angin dari luar" diri. Motivasi eksternal merupakan dorongan atau motif yang membuat diri ingin melakukan sesuatu karena tekanan dari luar diri. Misalnya ketika seseorang melakukan sesuatu karena mengharapkan pujian dan hadiah, yang ketika hilang akan membuat semangat menjadi menurun bahkan hilang. Jika dibandingkan, motivasi internal ini memang lebih baik dibandingkan dengan motivasi eksternal.
Contoh dari motivasi internal dan eksternal, misalnya ada dua orang mahasiswa yang sama-sama aktif di kelas. Mahasiswa A memiliki minat yang dalam untuk memahami materi perkuliahan, sehingga ia rajin bertanya agar mendapatkan pemahaman yang maksimal. Sementara mahasiswa B, hanya aktif bertanya karena merasa dosen akan memberikan nilai keaktifan jika ia sering bertanya di kelas.
Hasilnya, ketika nilai yang diberikan dosen sudah keluar akan muncul perilaku lanjutan yang berbeda dari kedua mahasiswa tersebut. Mahasiswa A akan tetap aktif bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya, sementara mahasiswa B akan mengurangi intensitasnya untuk bertanya atau berhenti bertanya sama sekali karena ia merasa nilainya tidak meningkat meski sudah rajin bertanya di kelas.
Tokoh lain yang membahas motivasi internal dan eksternal adalah psikolog Richard Ryan dan Edward Deci melalui teorinya yang bernama Self-Determination Theory (SDT). Teori ini menyebutkan bahwa motivasi terkuat justru lahir dari dalam diri dan bukan dari hadiah atau tekanan luar (reward and punishment). Teori ini menyatakan bahwa motivasi, kesejahteraan, dan kepribadian dibentuk oleh tiga kebutuhan psikologis bawaan dan universal, mereka adalah otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Meski begitu, motivasi eksternal bukan berarti motivasi yang kurang baik apalagi buruk. Motivasi eksternal dapat menjadi pemicu munculnya motivasi internal. Untuk memulai suatu hal, motivasi internal dapat dipicu terlebih dahulu oleh tekanan atau dorongan dari eksternal. Ia biasanya terasa lebih "nyata" atau terasa secara langsung, seperti pemberian hukuman jika sesuatu tidak tercapai. Hal ini biasanya lebih efektif dan banyak diterapkan pada anak-anak.
Misalnya, agar anak mau rajin belajar maka ia dijanjikan untuk diberi mainan sebagai hadiah dari hasil jerih payahnya namun hanya jika ia mendapatkan hasil ujian yang baik. Jika anak berhasial belajar dengan maksimal dan mendapatkan nilai serta hadiah yang dijanjikan, anak dapat terpicu untuk mulai belajar tanpa disuruh atau tanpa harus diiming-imingi oleh hadiah terlebih dahulu kedepannya. Anak juga dapat diberikan pujian atau dukungan secara emosional untuk menggantikan hadiah dalam bentuk barang dan tetap dapat meningkatkan semangat belajarnya.
Maka, baik motivasi internal maupun eksternal, keduanya memiliki peran penting bagi seseorang untuk memulai atau terus mengerjakan sesuatu. Meski begitu, motivasi internal dapat membuat seseorang memiliki keterlibatan yang lebih kuat dan tahan lama pada suatu hal. Motivasi eksternal juga dapat menjadi pemicu munculnya motivasi internal. Motivasi eksternal biasanya lebih dibutuhkan pada usia anak-anak. Manusiapun memang memiliki kebutuhan yang dapat menjadi fondasi terbentuknya motivasi internal sejak awal.
Jadi, sudah tahu selama ini kamu atau orang disekitarmu lebih cenderung mengerjakan sesuatu didasarkan motivasi internal atau eksternal?. Mari sadari apa yang menjadi alasan kita melakukan sesuatu sehingga prosesnya akan berjalan dengan lebih bersemangat dan penuh makna. Ini juga dapat menghindari risiko kita berhenti mengerjakan sesuatu di tengah jalan. Jika bingung mulai darimana, kamu dapat mulai dengan refleksi diri dan membuat jurnal agar dapat lebih memahami diri sendiri. Berikan pertanyaan-pertanyaan ringan yang mengulik motif dari perilakumu. Ia dapat dilatih secara bertahap dan akan berkembang menjadi pemahaman akan diri yang lebih baik.





