JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah maraknya tren side hustle atau melakoni pekerjaan sampingan di kalangan pekerja muda, tidak semua kisah berakhir dengan kesuksesan finansial atau pengembangan diri.
Di balik narasi yang kerap viral di media sosial, sebagian Gen Z justru menghadapi realitas berbeda: kelelahan, tekanan waktu, hingga pendapatan yang tidak menentu.
Fenomena side hustle atau pekerjaan sampingan memang sering dipandang sebagai jalan alternatif untuk menambah penghasilan sekaligus memperluas keterampilan. Namun, dalam praktiknya, menjalani dua peran sekaligus tidak selalu berjalan mulus.
Tekanan waktu, kelelahan fisik, serta ketidakpastian pendapatan menjadi tantangan yang dihadapi sebagian pekerja muda. Dalam beberapa kasus, side hustle justru berubah menjadi beban tambahan yang menguras energi.
Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan kenyataan, sebagian pekerja akhirnya memilih berhenti dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaan utama.
Baca juga: Tak Cukup Satu Gaji: Fenomena Side Hustle dan Dilema Pekerja Muda
Kelelahan menjadi titik balikPengalaman tersebut dialami Evan (27), yang sempat menjalani side hustle di bidang fotografi sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti.
Ia mengaku, ketertarikannya berawal dari keinginan sederhana untuk memanfaatkan hobi sekaligus membuka peluang penghasilan tambahan. Selain faktor ekonomi, lingkungan pertemanan juga turut memengaruhi keputusannya.
Evan melihat banyak rekan seusianya menjalani pekerjaan sampingan, sehingga hal tersebut terasa sebagai sesuatu yang wajar untuk dicoba.
Ia mulai menjalankan side hustle sekitar satu setengah tahun lalu, saat bekerja di bagian pemasaran sebuah perusahaan e-commerce. Pada tahap awal, ia mengaku belum terlalu serius dan lebih fokus pada proses belajar.
"Tujuan awalnya sederhana, pengin dapat penghasilan tambahan dan pengalaman mengelola proyek sendiri. Awalnya masih coba-coba, enggak terlalu serius, cuma pengin belajar menangani klien dan deadline sendiri," ujar Evan kepada Kompas.com, Kamis.
Seiring waktu, ekspektasinya meningkat. Ia membayangkan tambahan penghasilan yang cukup signifikan setiap bulan, sekaligus pengalaman profesional yang lebih luas.
"Harapannya cukup tinggi di awal. Saya pikir bisa dapat tambahan beberapa juta rupiah tiap bulan dan punya pengalaman mengelola proyek freelance," katanya.
Namun, realitas tidak selalu sejalan dengan harapan tersebut.
"Tapi kenyataannya, klien enggak selalu datang rutin, pendapatan kadang enggak stabil, dan beberapa proyek malah bikin stres karena deadline yang ketat," kata Evan.
Baca juga: Gaji Rp 1,5 Juta per Bulan, Guru Honorer Ini Terpaksa Cari Kerja Sampingan
Dampak pada kesehatan dan kehidupan pribadiKeputusan untuk berhenti tidak datang secara tiba-tiba. Evan mengaku perlahan merasakan beban yang semakin berat seiring meningkatnya tuntutan pekerjaan.
"Pekerjaan kantor tetap prioritas, sedangkan side hustle mulai menumpuk, bikin tidur berkurang dan waktu sosial hampir hilang. Selain itu pendapatan enggak konsisten, jadi rasanya energi yang dikeluarkan nggak sebanding dengan hasilnya," ungkapnya.
Menurut dia, tantangan terbesar adalah membagi waktu dan energi di tengah rutinitas yang padat.
"Kadang deadline klien bentrok dengan meeting kantor, jadi sering harus lembur. Belum lagi harus belajar skill baru untuk memenuhi permintaan klien, itu bikin mental capek juga," ujar dia.
Tekanan yang berlangsung terus-menerus akhirnya berdampak pada kondisi fisik dan mentalnya.
"Kepala capek, badan lelah, kadang mood juga enggak stabil. Itu yang akhirnya bikin saya mikir ulang, apakah worth it lanjut side hustle atau fokus ke pekerjaan utama," ujar Evan.
Selain itu, waktu istirahat dan kehidupan sosial ikut terganggu.





