Penghormatan Tertinggi Militer untuk Juwono Sudarsono

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Langkah tegap prajurit memecah keheningan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (29/3/2026) siang. Dentuman tembakan senjata bergema di udara, mengantar kepergian seorang tokoh yang lebih banyak menghabiskan hidupnya menggenggam pena ketimbang senjata.

Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan, berpulang pada usia 84 tahun. Di tempat peristirahatan terakhirnya, ia menerima penghormatan yang kerap identik dengan para jenderal, upacara kebesaran militer. Seorang akademisi murni sekaligus guru besar ilmu politik, diantar oleh barisan prajurit berseragam loreng dan dentuman tembakan yang menaruh hormat setinggi-tingginya.

Upacara pemakaman yang khidmat itu dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sebelum dimakamkan, jenazah Juwono terlebih dahulu disemayamkan di Ruang Hening Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan, guna menerima penghormatan terakhir dari lingkungan kementerian.

Sejumlah tokoh lintas generasi dan institusi hadir dalam pemakaman menundukkan kepala. Selain Sjafrie, Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, serta Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.

Sebagai figur sipil pertama yang memimpin Departemen Pertahanan (sekarang Kementerian Pertahanan) di era Reformasi, Juwono hadir untuk menjembatani jurang psikologis antara supremasi sipil dan kekuatan militer. Ia tidak menundukkan militer dengan paksaan, melainkan merangkulnya dengan wibawa dan kejernihan intelektual.

Kiprah Juwono Sudarsono di pemerintahan terentang dari rezim ke rezim, terutama sejak era pemerintahan Presiden ke-2 Soeharto. Di penghujung pemerintahan Soeharto, persisnya pada 1998, ia ditunjuk menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup. Setelah kepemimpinan beralih ke pemerintahan Presiden ke-3 BJ Habibie, ia kembali dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Seingat saya, kursus tersebut menjadi tolok ukur agar dialog hubungan sipil-militer menjadi suatu contoh terbaik dalam tata kelola pertahanan di bawah pemerintahan demokratis.

Selanjutnya, selama periode 1999-2000, Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid mempercayainya menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Ia pun tercatat sebagai Menhan pertama dari kalangan sipil sejak era Orde Baru. Sebelumnya, selama kepemimpinan Presiden Soeharto, jabatan strategis itu selalu diisi oleh figur yang berlatar belakang militer.

Catatan Kompas, ditunjuknya Juwono Sudarsono sebagai Menhan merupakan rekomendasi dari Panglima TNI saat itu, Jenderal Wiranto. ”Wiranto-lah yang pertama kali mengajukan nama Pak Juwono,” kata Gus Dur kepada wartawan seusai mengumumkan anggota Kabinet Persatuan Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 1999 (Kompas, 27/10/1999).

Baca JugaMengenang Juwono Sudarsono, Menhan yang Terbuka dan Inspiratif

Kiprah Juwono tak berhenti di era Gus Dur. Setelah Gus Dur lengser dan Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden ke-5, Juwono kembali dipercaya sebagai pembantunya. Kali ini, Juwono diutus sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI untuk Inggris pada 2003.

Selanjutnya, di era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Juwono kembali ditarik masuk ke dalam kabinet dan dipercaya menduduki kembali posisi Menhan sejak 2004-2009. Di periode itu, Juwono fokus pada penguatan profesionalisme TNI hingga penataan ulang hubungan sipil-militer agar sesuai dengan prinsip demokrasi.

Konsultan di Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis, berpandangan, penghormatan tertinggi militer di Kalibata adalah bukti pengakuan institusi atas rekam jejak sang begawan. Sebagai Menhan sipil pertama di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) dan kembali menjabat di era Presiden SBY (2004-2009), Juwono dikenal kompeten dalam menempatkan Kementerian Pertahanan sebagai otoritas sipil yang dihormati.

”Pak Juwono Sudarsono dikenal sangat kompeten dan konsisten dalam menempatkan Kementerian Pertahanan sebagai otoritas sipil di bidang pertahanan negara,” ungkap Beni.

Almarhum adalah sosok negarawan sekaligus akademisi yang telah memberikan kontribusi besar bagi sektor pertahanan Indonesia.

Hal ini diwujudkan melalui berbagai agenda reformasi pertahanan. Salah satunya adalah meningkatkan profesionalisme militer agar lebih fokus pada bidang pertahanan sesuai dengan UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Di masa kepemimpinannya, Juwono juga menaruh perhatian besar pada upaya mengurangi peran bisnis militer agar TNI murni berfokus pada tugas pokoknya.

Beni mengingat bagaimana pada 2005, Juwono sempat menerima hasil rekomendasi kebijakan Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) terkait pengalihan bisnis militer. Meski tak seluruh rekomendasi ditindaklanjuti secara instan, arah kebijakan Juwono untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas SDM militer sangat jelas.

Pada tahun 2000, Juwono mengeluarkan surat rekomendasi agar Dephan bisa bekerja sama dengan lembaga think tank dalam dan luar negeri. Langkah ini berbuah konkret melalui dukungan Belanda yang menyelenggarakan kursus hubungan sipil-militer dan tata kelola pemerintahan hingga empat kali.

”Seingat saya, kursus tersebut menjadi tolok ukur agar dialog hubungan sipil-militer menjadi suatu contoh terbaik dalam tata kelola pertahanan di bawah pemerintahan demokratis,” tegas Beni.

Baca JugaJuwono Sudarsono Berpulang, Sosok Menteri di Empat Era Presiden

Senada dengan Beni, Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Dave Laksono menyatakan duka cita mendalam atas wafatnya Juwono Sudarsono. Dia menilai Juwono merupakan tokoh penting di era Reformasi dalam membangun hubungan sipil-militer yang demokratis.

”Almarhum adalah sosok negarawan sekaligus akademisi yang telah memberikan kontribusi besar bagi sektor pertahanan Indonesia. Dengan kiprahnya, beliau menorehkan sejarah penting bahwa pertahanan negara bukan hanya urusan militer semata, melainkan bagian dari tata kelola demokrasi yang menempatkan kepentingan rakyat sebagai pusatnya,” ucapnya.

Di sisi lain, Dave juga menyinggung sikap Juwono yang tenang, bijaksana, dan penuh integritas. Bagi dia, hal itu menjadi teladan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan pertahanan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dave berharap, keteladanan itu terus menginspirasi generasi berikutnya, terutama dalam membangun pertahanan yang kuat, modern, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. Kehadiran Juwono akan selalu dikenang sebagai inspirasi lintas generasi yang meneguhkan keyakinan bahwa pertahanan negara harus selalu berpijak pada semangat kebangsaan dan kemanusiaan.

”Beliau selalu menekankan pentingnya dialog, rasionalitas, dan moralitas dalam setiap kebijakan, sehingga bangsa ini kehilangan seorang guru besar yang mampu menjembatani dunia pemikiran dengan praktik kebijakan,” kata Dave.

Kini, sang pendidik telah purna tugas. Di TMP Kalibata, di antara deretan pusara para pahlawan bersenjata, terbaring tenang seorang pemikir. Ia membuktikan bahwa penghormatan tertinggi militer diraih lewat ketajaman nalar, dedikasi, dan warisan reformasi yang kokoh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emiten Kesehatan (MDLA) Catat Laba Bersih Rp 398 Miliar di 2025, Naik 16 Persen
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
5 Manfaat Minum Matcha Setiap Hari
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Divestasi Saham ESSA, TP Rachmat Kantongi Rp45,87 Miliar
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
10 Orang Tersambar Petir Saat Berlibur di Pantai Selatan Lumajang, 1 Orang Meninggal
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Harga Emas Naik atau Turun? Ini Proyeksi Terbaru Pekan Ini
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.