OECD Ramal Ekonomi Dunia Hanya Tumbuh 2,9% di 2026, Efek Perang Iran

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Logo OECD (File REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global diproyeksikan melambat dari 3,3% tahun lalu menjadi 2,9% pada tahun 2026, sebelum nantinya diyakini meningkat menjadi 3,0% pada tahun 2027.

Proyeksi ini disampaikan oleh Organization for Economic Cooperation and Development atau OECD dalam OECD Economic Outlook, Interim Report berjudul Testing Resilience, yang dirilis pada minggu lalu (26/3/2026).


"Konflik di Timur Tengah menguji ketahanan ekonomi global. Prospeknya diselimuti ketidakpastian yang tinggi dan mencerminkan interaksi dua kekuatan yang berlawanan," tulis OECD dalam laporannya, dikutip Senin (30/3/2026).

Baca: Ramai Warga Korea Teriak Pajak Orang Kaya Terlalu Murah, Tuntut Ini

Pertama, dari sisi positif, OECD melihat pertumbuhan didukung oleh momentum yang kuat dalam investasi dan produksi terkait teknologi, tarif yang lebih rendah daripada yang diasumsikan sebelumnya, dan kelanjutan dari hasil yang kuat pada tahun 2025.

Sementara itu, di sisi negatif, penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz dan penutupan serta kerusakan beberapa infrastruktur energi telah menyebabkan lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan energi global dan komoditas penting lainnya, seperti pupuk.

"Hal ini meningkatkan biaya, menekan permintaan, dan menambah tekanan inflasi," ungkap OECD.

Foto: Real GDP growth. (Istimewa)
Real GDP growth. (Istimewa)
Baca: Dapen RI Kejar Standar Internasional, Bos OJK Ungkap Strateginya

Inflasi negara-negara G20 pun diperkirakan meningkat hingga 4% pada tahun 2026. Kondisi ini dipicu akibat tekanan harga minyak. Laju inflasi akan kembali melambat pada 2027, dengan proyeksi turun hingga 2,7%.

Adapun, inflasi inti di negara-negara maju G20 diperkirakan akan melemah, dari 2,6% pada tahun 2026 menjadi 2,3% pada tahun 2027.

OECD, dalam laporannya, menekankan ekspektasi pasar menunjukkan penurunan harga energi secara bertahap, sebuah asumsi yang mendasari proyeksi saat ini. Namun, OECD mengingatkan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz atau penutupan fasilitas minyak dan gas yang berkelanjutan dapat menyebabkan hasil yang jauh lebih buruk.

OECD pun membuat simulasi dalam laporan ini mengeksplorasi skenario di mana harga minyak dan gas naik jauh di atas proyeksi dasar - sekitar seperempat pada tahun pertama dan tetap tinggi setelahnya - dikombinasikan dengan kondisi keuangan global yang lebih ketat.

"Dalam hal ini, PDB global bisa sekitar 0,5% lebih rendah pada tahun kedua, sementara harga konsumen akan lebih tinggi sekitar 0,7 poin persentase pada tahun pertama dan 0,9 poin persentase pada tahun kedua," ungkap OECD.

Foto: Real GDP growth. (Istimewa)
Real GDP growth. (Istimewa)

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Prabowo Akan Perbaiki Kualitas SDM Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mulan Jameela Sebut Hoaks Pernyataan Rendahkan Profesi Guru Rugikan Dirinya
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
[FULL] Analisis Laga Timnas Indonesia Lawan Bulgaria di Final FIFA Series 2026
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Bahan Bakar Fosil yang Memanaskan Bumi, Dari Konflik ke Krisis Iklim
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Kevin Diks yakin timnas Indonesia akan kalahkan Bulgaria
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Analis Ungkap Biang Kerok IHSG Jatuh ke Bawah Level Psikologis 7.000
• 7 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.