Bahan Bakar Fosil yang Memanaskan Bumi, Dari Konflik ke Krisis Iklim

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Perang di Timur Tengah kerap dibaca sebagai konflik geopolitik, identitas, atau perebutan wilayah. Namun, di balik itu, ada juga perebutan dan pengendalian sumber daya energi fosil. Minyak dan gas bukan hanya bahan bakar ekonomi global, melainkan juga bahan bakar konflik yang menggerakkan aliansi, intervensi, dan rivalitas antarnegara.

Ironisnya, sumber energi yang sama juga menjadi penyebab krisis yang lebih luas, yaitu ketidakstabilan iklim Bumi. Ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil menciptakan lingkaran krisis yang memicu perang di satu sisi dan pada saat yang sama mendorong pemanasan global yang mengancam kehidupan manusia di seluruh planet.

Jumlah panas yang terperangkap oleh Bumi mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025 karena konsentrasi gas rumah kaca mendorong pemanasan atmosfer dan lautan berkelanjutan. Es pun mencair lebih cepat. Pemanasan ini menyebabkan iklim Bumi limbung dan cuaca semakin ekstrem.

Laporan tahunan ”State of the Global Climate” yang dikeluarkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut, selama 11 tahun terakhir, yaitu sejak 2015 hingga 2025, suhu di Bumi mengalami rekor terpanas. Suhu tahun lalu menjadi yang terpanas kedua atau ketiga yang pernah tercatat, yaitu 1,43 derajat celsius di atas rata-rata tahun 1850-1900.

”Umat manusia baru saja mengalami 11 tahun terpanas yang pernah tercatat. Ketika sejarah terulang 11 kali, itu bukan lagi kebetulan. Ini adalah seruan untuk bertindak,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengiringi laporan yang dikeluarkan pada Senin (23/3/2026).

Untuk pertama kali laporan iklim tahunan WMO juga menyertakan perhitungan neraca energi planet ini. Neraca energi Bumi mengukur laju masuk dan keluarnya energi dari sistem Bumi. Dalam iklim stabil, energi yang masuk dari matahari hampir sama dengan jumlah energi yang keluar.

Namun, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang memerangkap panas, karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida hingga mencapai tingkat tertinggi dalam setidaknya 800.000 tahun telah mengganggu keseimbangan ini.

Umat manusia baru saja mengalami 11 tahun terpanas yang pernah tercatat. Ketika sejarah terulang 11 kali, itu bukan lagi kebetulan. Ini adalah seruan untuk bertindak.

Laporan WMO menyebutkan, ketidakseimbangan energi Bumi telah meningkat sejak catatan pengamatannya dimulai pada tahun 1960, terutama dalam 20 tahun terakhir. Ketidakseimbangan ini mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2025.

”Kemajuan ilmiah telah meningkatkan pemahaman kita tentang ketidakseimbangan energi Bumi dan realitas yang dihadapi planet kita serta iklim kita saat ini,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. Aktivitas manusia makin mengganggu keseimbangan alam dan kita akan hidup dengan konsekuensi ini selama ratusan dan ribuan tahun.

Indikator bahaya

Laporan WMO ini menerakan sejumlah indikator yang menandai Bumi kian limbung. Pertama, emisi gas rumah kaca. Data dari stasiun pemantauan sejumlah negara menunjukkan bahwa kadar karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida terus meningkat pada tahun 2025.

Pada tahun 2024, konsentrasi karbon dioksida mencapai tingkat tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir, sementara metana dan dinitrogen oksida tertinggi dalam setidaknya 800.000 tahun.

Peningkatan karbon dioksida atau CO₂ tahunan pada 2024 menjadi yang terbesar sejak pengukuran modern dimulai pada 1957, didorong oleh emisi fosil yang berkelanjutan serta melemahnya kemampuan darat dan laut menyerap karbon.

Indikator kedua adalah kenaikan suhu global. Periode 2015-2025 menjadi 11 tahun terpanas dalam sejarah pencatatan. Tahun 2025 mencatatkan suhu 1,43 ± 0,13 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Ketiga, kandungan panas laut. Menurut WMO, lebih dari 91 persen panas berlebih akibat perubahan iklim diserap oleh lautan. Hanya sekitar 1 persen yang memanaskan atmosfer dan sekitar 5 persen tersimpan di daratan. Sebanyak 3 persen energi berlebih lainnya digunakan untuk mencairkan es.

Pada 2025, panas laut hingga kedalaman 2.000 meter mencapai rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1960. Selama sembilan tahun berturut-turut, lautan terus mencetak rekor panas baru.

Laju pemanasan laut pada periode 2005-2025 bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode 1960-2005, berkisar 11,0-12,2 zetajoule per tahun, sekitar 18 kali lipat penggunaan energi manusia setiap tahun.

Kondisi ini berdampak luas, yaitu degradasi ekosistem laut, hilangnya keanekaragaman hayati, berkurangnya kemampuan laut menyerap karbon, serta meningkatnya intensitas badai tropis.

Lautan, yang selama ini menjadi penyangga utama, kini justru menjadi sumber ancaman baru. Menurut proyeksi IPCC, pemanasan laut dan kenaikan permukaan laut akan terus berlangsung selama berabad-abad. Bahkan, jika emisi dihentikan hari ini, sebagian perubahan ini tidak dapat dibalik dalam skala waktu manusia.

Pemanasan laut juga memicu kenaikan muka air laut. Permukaan laut global kini 11 sentimeter (cm) lebih tinggi dibandingkan awal pengukuran satelit pada 1993, dengan laju kenaikan yang semakin cepat sejak tahun 2012.

Selain itu, 29 persen emisi CO₂ manusia diserap oleh laut, menyebabkan pengasaman laut. Rata-rata pH laut telah menurun selama 41 tahun terakhir. Menurut IPCC, kondisi ini belum pernah terjadi setidaknya dalam 26.000 tahun.

Indikator lain adalah mencairnya es. Tahun hidrologi 2024/2025 mencatat kehilangan massa gletser terparah sejak pencatatan dimulai pada 1950. Delapan dari sepuluh tahun dengan kehilangan es terbesar terjadi sejak 2016. Luas es Laut Arktik dan Antartika juga terus menyusut, dengan beberapa tahun terakhir mencatatkan rekor terendah dalam sejarah pengamatan satelit.

Baca JugaRekor Suhu dan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2024, Bagaimana Resolusi 2025?
Lingkaran krisis

Dampak ketidakseimbangan iklim ini makin nyata. Menurut Saulo, secara harian, cuaca kita menjadi makin ekstrem. Pada tahun 2025, gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, siklon tropis, badai, dan banjir menyebabkan ribuan kematian, berdampak pada jutaan orang, dan menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar.

Di Indonesia, dampak ini terlihat dari munculnya siklon tropis Senyar yang melintasi Sumatera yang memicu banjir besar dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini menyebabkan ribuan korban jiwa dan kerusakan yang belum terpulihkan hingga kini.

Perubahan iklim juga mengganggu produksi pangan, memicu ketidakamanan pangan, serta meningkatkan risiko konflik sosial dan migrasi. Dalam banyak kasus, wilayah yang paling terdampak adalah wilayah yang sudah rapuh secara ekonomi dan politik.

Dampak kesehatan juga meningkat. Penyakit seperti demam berdarah, yang ditularkan nyamuk, menjadi salah satu penyakit dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa sekitar setengah populasi global kini berisiko.

Tekanan panas juga jadi ancaman serius. Lebih dari sepertiga tenaga kerja global—sekitar 1,2 miliar orang—menghadapi risiko panas ekstrem tiap tahun, terutama di sektor pertanian dan konstruksi. Semua ini menunjukkan krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan krisis sistemik yang memengaruhi kesehatan, ekonomi, dan stabilitas sosial.

Dalam konteks ini, peringatan Guterres menjadi semakin relevan. ”Di era perang ini, tekanan iklim juga mengungkap kebenaran lain: ketergantungan kita pada bahan bakar fosil memicu ketidakstabilan iklim dan keamanan global,” ujarnya.

Ketergantungan pada energi fosil menciptakan paradoks. Di satu sisi, dunia terus bergantung pada sumber energi yang sama yang memperbesar risiko konflik sekaligus mempercepat krisis iklim.

”Iklim global berada dalam keadaan darurat. Planet Bumi didorong melampaui batas kemampuannya. Setiap indikator iklim utama menunjukkan tanda bahaya,” kata Guterres.

”Umat manusia baru saja mengalami 11 tahun terpanas dalam sejarah. Ketika sejarah terulang 11 kali, itu bukan lagi kebetulan. Ini adalah seruan untuk bertindak.”

Faktanya, hingga hari ini, dunia tergantung pada bahan bakar fosil. Data International Energy Agency (IEA) menyebut, 80-82 persen konsumsi energi primer global berasal dari bahan bakar fosil, baik dari minyak, batubara, maupun gas. Sementara energi terbarukan modern baru menyumbang 18-20 persen dan tenaga surya serta angin mengambil porsi relatif kecil.

Ketimpangan ini menunjukkan transisi energi berjalan jauh lebih lambat dibandingkan laju krisis yang dihadapi, sekaligus menjelaskan mengapa kawasan kaya minyak tetap menjadi pusat ketegangan geopolitik dunia.

Namun, laporan WMO ini harus disertai dengan ”label peringatan keras” bahwa kekacauan iklim semakin cepat. Penundaan aksi nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, selain akan memicu perang lebih besar, juga bakal membuat Bumi semakin tidak stabil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Geledah 14 Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Crazy Rich Samin Tan
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Kinerja Matahari (LPPF) Tertekan, Penjualan Turun ke Rp11,05 Triliun di 2025
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Presiden Prancis mengaku berdialog dengan pemimpin Kurdistan Irak
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Munafri–Aliyah Hadiri Silaturahmi Akbar Sulsel, Perkuat Sinergi Lintas Daerah
• 9 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Satu Personel TNI di UNIFIL Gugur, Pemerintah Kecam Serangan Ke Lebanon
• 7 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.