Dentuman silih berganti di Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (29/3/2026) siang, menjadi pusat perhatian warga sekitar. Jalan yang hanya dapat dilalui dua mobil itu dipenuhi warga yang ingin mendatangi sumber suara. Dentuman keras itu berasal dari tradisi masyarakat yang bernama adu kuluwung.
Nasa (37) mengerutkan mata dan dahinya sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat saat peluit berbunyi. Suara peluit merupakan pertanda bahwa kuluwung akan segera dibunyikan. Hanya beberapa detik, nyaring suara peluit berganti menjadi dentuman hebat yang keluar dari moncong kuluwung.
Gelegar hebat yang bertubi-tubi itu disambut meriah warga yang menyaksikan. Tidak selesai di sana, gemuruh kuluwung dilanjut dengan suara petasan yang dibakar warga. Kemeriahan pun semakin menjadi-jadi.
”Berisik banget, Kang, harus pakai penutup kuping,” ujar Nasa sambil perlahan menjauhi kerumunan warga.
Ledakan keluar dari moncong kuluwung. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Menutup telinga saat ledakan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Ledakan menggetarkan arena adu kuluwung. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Setiap tahun Nasa hampir tidak pernah absen menyaksikan adu kuluwung. Acara ini menjadi ajang silaturahmi Nasa dengan teman-temannya seusai Lebaran.
Adu kuluwung atau meriam karbit ini memang menjadi tradisi yang lekat digelar masyarakat Bogor timur, khususnya Sukamakmur, setelah Lebaran. Menurut warga, tradisi ini sudah digelar sejak 1960-an dan terus-menerus diwariskan kepada generasi saat ini.
Pada mulanya penggunaan kuluwung hanya sebagai hiburan saat ngabuburit pada bulan Ramadhan serta menjadi alat untuk membangunkan warga untuk sahur. Seiring waktu, kuluwung menjadi alat pemersatu warga setelah Lebaran.
Biasanya, acara adu kuluwung selalu diikuti dua desa. Adu kuluwung kali ini, misalnya, mempertemukan Desa Sukaresmi dan Desa Sukadamai.
Acara ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 29 dan 30 Maret. Kedua desa itu dipisahkan oleh hamparan persawahan. Warga dari kedua desa saling lempar suara meriam dari kejauhan. Saling balas dentuman itu menjadi penanda silaturahmi yang terus terjaga.
Tertidur saat menunggu antrean menuju lokasi acara. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN.
Berdesakan menuju lokasi adu kuluwung. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN.
Merekam setiap ledakan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Satu kuluwung biasanya menghabiskan setengah sampai 1 kilogram karbit untuk sekali dentuman suara. Kali ini terdapat sekitar 30 kuluwung yang disiapkan untuk memeriahkan acara. Dalam satu hari, mereka bisa menghabiskan ratusan kilogram hingga 1 ton karbit.
Acara ini lambat laun tidak hanya dinikmati warga Bogor ataupun warga desa yang mengadakan acara. Warga dari daerah di luar Bogor pun tertarik mengunjungi acara ini. Sani (32) adalah salah satunya. Pria asal Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ini rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk menyaksikan adu kuluwung.
”Sejak zaman Covid-19 atau sekitar 2021, saya sudah menyaksikan adu kuluwung. Asyik aja lihat ledakan-ledakan dari dekat,” ucapnya.
Hari semakin sore, awan mendung menggelayuti langit Sukamakmur. Tak berselang lama, hujan turun mengguyur. Warga berlarian mencari tempat berteduh. Pesta kuluwung pun harus ditunda beberapa saat hingga hujan sedikit reda. Sampai sekitar pukul 17.20 WIB, suara dentuman sudah tidak lagi terdengar, menandakan acara telah selesai.
Gemuruh yang berlangsung selama dua hari sejak pagi itu kini berganti sunyi. Warga desa ataupun kota berduyun-duyun pulang untuk bersiap menghadapi aktivitas normal di keesokan hari.





