Rupiah Terus Melemah Imbas Sentimen Perang Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.957 per Jumat, 27 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 54 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.903 pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026.

Baca Juga :
Bursa Asia Terjun Bebas, Rudal Houthi ke Israel Picu Tekanan Global
IHSG Dibuka Memerah dan Dibayangi Pelemahan Seiring Gejolak Harga Energi Global

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 30 Maret 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.981 per dolar AS. Posisi itu melemah 1 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.980 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diprediksi bakal makin melemah, disebabkan sentimen dari ekskalasi perang di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump mengatakan, pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran berjalan dengan baik, sehingga dia akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara itu selama 10 hari.

"Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 30 Maret 2026.

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan kepada Teheran melalui Pakistan, adalah "sepihak dan tidak adil".

Perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, dengan Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk daripada dua guncangan minyak tahun 1970-an dan perang gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.

Selain itu, pasar juga memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka. 

Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani Emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan

Baca Juga :
Trump Klaim Amerika Serikat Mulai Kendalikan Selat Hormuz
Pejabat Iran Tantang AS: Kami Tunggu Kedatangan Tentara Amerika di Darat!
Panas! Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Menentang Trump di Berbagai Kota

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekayasa one way lokal Presisi di Tol Trans Jawa resmi ditutup
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Menteri PU Dukung Pembangunan Giant Sea Wall di Pekalongan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Kakorlantas: Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 Terkendali, Angka Kecelakaan Turun
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kunjungi Makassar, Sherly Tjoanda Pelajari Peningkatan PAD dan Inflasi
• 6 jam laluterkini.id
thumb
Arus Lalu Lintas Tol Cipali Kembali Normal Setelah Rekayasa One Way Dihentikan
• 2 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.