REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA - Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah merancang skenario serangan darat ke Iran untuk beberapa pekan di tengah pengerahan personel AS ke Timur Tengah. Namun, keputusan operasi darat tetap di tangan Presiden Donald Trump dan hingga kini belum diputuskan.
Menurut laporan Washington Post, para pejabat mengatakan rencana tersebut dapat menandai "fase baru perang" yang akan "lebih berbahaya secara signifikan" bagi pasukan AS dibanding dengan yang sudah berlangsung selama empat pekan terakhir.
Baca Juga
Listrik Padam di Ibu Kota Iran Usai Serangan AS-Israel
Pendukung Setia Kecewa, Sebut Donald Trump 'Pengkhianat' America First
Bantu Warga Hadapi Lonjakan Harga BBM, Dua Negara Bagian di Australia Gratiskan Transportasi Umum
Operasi darat yang direncanakan itu tidak akan menjadi invasi berskala penuh, tetapi dapat mencakup penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri, menurut pejabat yang tak disebutkan namanya. Tetapi, operasi semacam itu membuat personel AS terpapar ancaman dari "drone dan rudal, tembakan darat, dan peledak rakitan".
"Tugas Pentagon adalah membuat persiapan agar Panglima Tertinggi mendapatkan pilihan yang paling optimal," ucap juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, sebagaimana dikutip media AS itu, Ahad (29/3/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan," kata Leavitt.
Di antara skenario yang dibahas yaitu operasi terhadap Pulau Kharg, titik ekspor minyak yang penting bagi Iran, dan operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman pelayaran.
Para pejabat menyebut misi tersebut dapat berlangsung "beberapa pekan, bukan beberapa bulan", sementara pejabat lainnya memperkirakan operasi berlangsung "beberapa bulan".
Adapun Trump sebelumnya berkata bahwa ia "tidak akan mengerahkan personel ke manapun".
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)