Merenda Kenangan pada “Sarjana Muda”

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Sejarah pendidikan tinggi di Indonesia tidak akan pernah bisa menampik, bahwa “sarjana muda” pernah mengisi hari-hari keberadaannya bersama masyarakat kita di masa lalu. Penyanyi kondang Iwan Fals pun pada kisaran awal dekade 1980-an pernah menarasikan sarjana muda dalam larik-larik lagunya. Berikut penggalannya:

//Berjalan seorang pria muda/ Dengan jaket lusuh di pundaknya/ Di sela bibir tampak mengering/ Terselip sebatang rumput liar//

//Jelas menatap awan berarak/ Wajah murung semakin terlihat/ Dengan langkah gontai tak terarah/ Keringat bercampur debu jalanan//

//Engkau sarjana muda/ Resah mencari kerja/ Mengandalkan ijazahmu/ Empat tahun lamanya/ Bergelut dengan buku/Tuk jaminan masa depan//

//Langkah kakimu terhenti/ Di depan halaman sebuah jawatan/ Tercenung lesu, engkau melangkah/ Dari pintu kantor yang diharapkan/ Terngiang kata tiada lowongan/ Untuk kerja yang didambakan//

Guru SMP dan SMA

Tidak semua sarjana muda memiliki nasib seterpuruk sebagaimana tertuang di dalam lirik lagu di atas. Ketika saya bersekolah di SMP Negeri 1 Salatiga (1978 - 1981), ada guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Namanya Pak Soeroso. Gelarnya Bc.Hk. yang tersemat di belakang nama beliau. Kependekan dari Baccalaureat Hukum alias Sarjana Muda Hukum.

Selain beliau, ada Bapak Kepala Sekolah Moegijono. Lalu Pak Moehdi Djoenaidi. Guru Bahasa Indonesia. Di belakang nama beliau berdua ada gelar B.A. yang merupakan kependekan dari Bachelor of Art. Pak Moehdi melanjutkan studi sarjana penuh. Dan, pada tahun 1982 dari kabar putra beliau, Agung Martanto, teman seangkatan saya, beliau promosi mengajar di SMA Negeri 1 Tengaran, Kabupaten Semarang.

Saat bersekolah di SMA Negeri 1 Salatiga (1981 - 1984), saya memiliki guru Olahraga, Pak Soedijono (sapaan akrabnya Pak Do). Juga Pak Soegijono (karib dengan panggilan Pak Gik), guru Geografi. Serta, Ibu Kepala Sekolah Nyonya Soetami. Ketiga beliau ini juga memiliki gelar di belakang nama masing-masing, yaitu B.A.

Yah, B.A. sebutan gelar untuk sarjana muda di bidang pendidikan, sosial, politik, sastra, dan seni. Lalu Bc.Hk., yang memiliki variasi pemakaian gelar S.M.Hk (Sarjana Muda Hukum). Ada pula Baccalaureat Akuntansi yang versi singkatannya Bc.Ak. Sarjana muda yang memiliki kompetensi di bidang akuntansi.

Ada lagi B.Sc. Kependekan dari Bachelor of Science. Sarjana muda yang menggeluti bidang ilmu eksakta, seperti matematika, ilmu alam, dan teknik. Padanan variasi gelar, yaitu S.M.Sc. (Sarjana Muda Science). Lalu ada B.E. (Bachelor of Engineering). Sarjana muda di bidang teknik sebelum studi lanjut untuk menggapai gelar Ir. (Insinyur).

Ada pula B.Sc.Ost (Bachelor of Science in Obstetrics), sarjana muda di bidang kebidanan. Bc.IP. (Baccalaureat Ilmu Pemasyarakatan), gelar sarjana muda untuk alumni Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). Bc.Im. (Baccalaureat Imigrasi), gelar sarjana muda untuk lulusan Akademi Imigrasi (AIM).

Adopsi Sistem Belanda

Pascakemerdekaan, di kisaran 1950-an - 1970-an, pendidikan tinggi di Indonesia mengadopsi sistem Belanda, yaitu sistem kandidaat (sarjana muda) dan doctoral (sarjana). Pada masa itu, waktu tempuh studi untuk sarjana muda selama tiga tahun jika lancar.

Bisa juga lebih. Sebab, bila ada satu atau lebih mata kuliah tidak lulus dalam ujian akhir tahun (tingkat), maka mahasiswa atau mahasiswi bersangkutan tidak naik tingkat. Harus mengulang seluruh mata kuliah pada tingkat tersebut.

Setelah lulus sarjana muda, baru berhak menempuh studi tingkat sarjana penuh. Waktu tempuhnya bervariasi dua hingga tiga tahun. Bisa juga lebih. Tergantung pada kemampuan para mahasiswa dan mahasiswi bisa lolos dari kemungkinan tidak naik tingkat.

Gelar kesarjanaan yang mereka raih, yaitu Doktorandus (Drs.) untuk laki-laki, Doktoranda (Dra.) untuk wanita, atau Insinyur (Ir). Dengan demikian, waktu tempuh studi dari sarjana muda hingga sarjana penuh, jika tidak ada jeda alias langsung melanjutkan, sekitar lima hingga enam tahun.

Pada masa itu, tugas akhir sarjana muda adalah menyusun skripsi. Lebih sederhana daripada skripsi untuk para mahasiswa dan mahasiswi S-1 dewasa ini. Bahkan, terkadang hanya berupa laporan akhir praktikum atau magang. Kebijakan ini dipulangkan pada perguruan tinggi masing-masing.

Sementara itu, untuk tingkat sarjana, para mahasiswa dan mahasiswi mesti menyusun tugas akhir. Pada beberapa perguruan tinggi, ada yang menyebutnya dengan “tesis” (atau “thesis” pakai “th”). Termasuk di almamater saya di IKIP Negeri Semarang yang pada kemudian hari berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 124 Tahun 1999 bertanggal 7 Oktober 1999 tentang Jenjang Program Pendidikan Tinggi, telah berubah menjadi Universitas Negeri Semarang.

Dengan demikian, ketika saya menginjakkan kaki untuk studi pada tahun akademik 1984/1985, IKIP Negeri Semarang tengah memasuki masa akhir dari era sarjana muda. Pada 1979 hingga pertengahan dekade 1980-an, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0124/U/1979 menandai realisasi keputusan tertulis yang bersifat konkret, dan sekali selesai (einmalig) itu.

Boleh jadi, pada saat itu IKIP Negeri Semarang, tengah menerapkan isi dan tujuan Keputusan tersebut untuk melakukan pengaturan ulang jenjang pendidikan tinggi dengan secara bertahap menghapus tingkatan sarjana muda. Dan, menggantinya dengan sarjana Strata 1 (S-1) yang terdiri atas satu tingkat studi.

Keputusan yang tercetus pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Daoed Joesoef itu menerapkan penghapusan secara bertahap. Lulusan sarjana muda mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke Program Sarjana (S-1).

Adapun alasan Pemerintah Indonesia mengistirahatkan secara permanen tingkatan sarjana muda dari perjalanan sejarah dalam sistem pendidikan tinggi di Tanah Air, beranjak dari alasan penyetaraan kualitas dan standardisasi pendidikan tinggi. Proses pengadaptasian itu berjalan secara bertahap dari kurun 1980-an hingga awal 1990-an.

Alasan yang paling krusial adalah penyetaraan dengan standar internasional. Pemerintah menilai, bobot akademik sarjana muda berada dalam ranah kualitas yang kurang memadai. Untuk meningkatkannya, perlu adanya fokus yang sejalan. Sarjana muda lebih menekankan pada penguatan keahlian praktis atau vokasional. Adapun, sarjana menitikberatkan pada teori, analisis, dan penelitian.

Realitas tersebut, menjadikan kedua fokus tersebut, vokasi dan akademis, menjadi kurang berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan standar kualitas pendidikan terbentuklah dua jalur dengan fokus masing-masing. Di satu jalur, ada sistem yang terstandardisasi menjadi satu jenjang pendidikan sarjana (S-1).

Kemudian berlanjut ke S-2 dan S-3 ilmu murni, fokus pada pemahaman prinsip fundamental, teori, dan pengembangan ilmu pengetahuan, seperti Magister Matematika arau Doktor Fisika Teoretis. Bisa pula fokus pada ilmu terapan, yaitu penggunaan teori ilmiah guna menyentuhkan solusi untuk masalah riil dengan pengembangan teknologi atau aplikasi klinis/teknis, seperti Magister Teknik Elektro dan Doktor Ilmu Biomedis.

Sementara itu, dewasa ini sarjana muda yang fokus pada vokasi menemukan penjelmaannya pada pada program-program studi diploma. Pilihannya menempuh D-3 (Ahli Madya/A.Md.) yang mirip sekali dengan sarjana muda untuk waktu tempuh studi ideal tiga tahun. Ada pula D-1 (Ahli Pratama/A.P.) dan D-2 (Ahli Muda/A.Ma).

Dalam pengembangannya lebih lanjut, ada D-4 (Sarjana Terapan) dengan waktu tempuh studi ideal empat tahun (setara S-1). Pilihannya antara lain Bisnis/Akuntansi (Perpajakan), Teknologi (Teknik Mesin, Teknologi Informasi), Kesehatan (Fisioterapi, Rekam Medis).

Untuk alumnus D-4 yang ingin melanjutkan ke S-2, biasanya mengikuti matrikulasi selama satu hingga dua semester, guna menyelaraskan kurikulum vokasi ke teori akademik.

Tinggal Kenangan

Penghapusan sarjana muda otomatis mengantarkan gelar-gelar masa lalu ke dalam gua sejarah hingga tinggal kenangan, seperti yang sangat populer terutama B.A. Dari tarikan contoh di masa lalu, gelar inilah yang begitu banyak disebut-sebut. Mungkin karena disiplin ilmu yang berada di bawah naungan gelar ini relatif banyak.

Kemudian Bc.Hk. Yang sudah saya sebut pada uraian terdahulu, mengingatkan saya pada Pak Soeroso. Guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang menurut sebagian besar dari kami para siswa-siswinya di SMP Negeri 1 Salatiga saat itu, cara mengajarnya sungguh menyenangkan. Dengan cara penyajian menarik, wawasan luas (setidaknya untuk ukuran saya dan teman-teman pada waktu itu). Tambahan lagi, kami bangga, karena nama beliau tercantum pada buku teks mata pelajaran yang menjadi rujukan utama bagi kami semua.

Lalu B.Sc. yang mengingatkan saya pada primadona wanita pemain ketoprak di Yogyakarta pada 1970-an hingga 1980-an, namanya Marsidah, yang memiliki gelar ini. Bersama suaminya, Widajat, yang juga maestro di bidang seni pertunjukan yang sama, keduanya sering berpasangan dalam memerankan karakter-karakter yang saling kasmaran. Dalam siaran ketoprak di radio, warna suara mereka sungguh pas, serasi, dan begitu romantis.

Dari sini, saya masih ingin mengenang beberapa penggal kisah saat pertama kali menginjakkan kaki di IKIP Negeri Semarang tahun akademik 1984/1985. Saat itu, perguruan tinggi tersebut agaknya telah berada pada masa ketika program sarjana muda berada di titik akhir penghapusan. Terbukti saat itu, sudah tidak ada program studi yang berada di bawah program Sarjana Muda.

Kala itu, program Diploma (D-2 dan D-3, sedangkan D-1 sudah tidak dibuka lagi) relatif lebih mendominasi dalam hal jumlah mahasiswa dan mahasiswi. Bisa jadi, hal tersebut bertautan dengan kebijakan pemerintah tentang pendidikan tinggi pada era 1980-an yang menempatkan prioritas pengembangan program diploma untuk mencetak tenaga ahli menengah.

Kalau ada secuil kisah tentang sarjana muda yang masih tergolek sebagai kenangan yang tersemat di memori. Itu tak lebih dari tetesan terakhir yang masih membasahi problema masa transisi. Tersebutlah Mas Cipto. Dia masih satu indekos dengan saya. Ceritanya dia itu banyak tahun sebelumnya adalah laskar terakhir sarjana muda. Pilihan Program Studinya Pendidikan Sejarah.

Entahlah apa yang terjadi. Pada saat itu fokus perhatian Mas Cipto dalam menyelesaikan studi sarjana mudanya agak terbengkalai. Belum lagi lulus, dia malah memutuskan untuk menikahi pacarnya. Fokus perhatian terhadap studi pun kemudian berbagi dengan fokus terhadap keluarganya. Begitulah hingga rentang masa studi maksimal berlalu tiada terasa. Tak kunjung juga Mas Cip memenuhi kewajibannya, sehingga layak melenggang sebagai alumnus.

Persoalannya terletak pada penyelesaian tugas akhir atau skripsi yang mesti terlewati bagi mahasiswa sarjana muda. Sebetulnya inilah inti persoalan Mas Cip. Dia kurang memiliki konsentrasi untuk menggarap dengan fokus yang serius. Dan, solusi pun ditawarkan kepadanya. Pihak IKIP Negeri Semarang, meminta Mas Cip pindah ke Program D-3 Pendidikan Sejarah. Tanpa perlu menyusun tugas akhir.

Dan, bisa diselesaikan dengan jalur kuliah biasa setelah dilakukan konversi mata kuliah yang pernah ditempuh saat sarjana muda dengan mata kuliah di program D-3. Alhasil perlu ada penambahan sedikit mata kuliah yang tidak dapat dikonversi. Sebelum pada akhirnya Mas Cip diwisuda sebagai Ahli Madya Pendidikan.

Sentuhan sarjana muda terhadap saya dan teman-teman seangkatan pada pada tahun akademik 1984/1985 sempat terasa pada salah satu materi kuliah. Oh ya, saat itu saya tercatat sebagai salah seorang mahasiswa D-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Itu episode pertama saya kuliah di sana. Saya lulus tahun 1987. Lalu episode kedua, saya kuliah lagi (istilahnya Transfer S-1 pada program studi yang sana) tujuh tahun kemudian (tahun akademik 1994/1995) dan lulus pada 1998.

Pada episode pertama kuliah saya di IKIP Negeri Semarang itu, program sarjana muda memang belum terlalu lama berlalu dari realisasi penerapan sebagai kurikulum. Bisa dikatakan saat itu, medio 1980-an, sarjana muda memang dalam masa transisi penghapusan. Nah, oleh karena itu tidak mengherankan jika materi kuliah yang semula untuk konsumsi sarjana muda, manakala masih relevan, beberapa dosen memberikannya kepada para mahasiswa dan mahasiswi program D-3.

Saya dan teman-teman seangkatan pada waktu itu juga pernah merasakannya. Adalah Ibu Dra. Sri Rahajoe, dosen kami untuk mata kuliah Kesusastraan Lama, mengajarkan materi dari buku yang semula untuk program sarjana muda. Oh ya, selain itu, saya masih ingat betul, ibu dosen yang sangat fasih berbahasa Belanda itu, ketika mengucapkan nama bulan, seperti Juni atau Juli, yang terucapkan dari beliau adalah /ˈjyni/ atau /ˈjyːni/ serta /ˈjyli/ atau /ˈjyːli/.

Menurut transkripsi fonetis International Phonetic Alphabet (IPA) untuk nama bulan Juni dan Juli dalam bahasa Belanda, bunyi ‘j’ terucapkan seperti ‘y’ dalam bahasa Indonesia. Atau, ‘y/y:’ menjadi bunyi vokal depan tertutup membulat (bibir monyong) khas Belanda. Huruf 'u' di sini diucapkan hampir seperti gabungan bunyi 'i' dan 'u'. Yang paling jelas tertangkap dalam indra pendengaran kami, saat itu beliau mengucapkan dengan aksen Belanda: /Yuni/ dan /Yuli/.

Ada lagi yang masih terkait dengan keberadaan sarjana muda, meskipun ini tidak terkait secara langsung. Ini lebih berhubungan dengan keberadaan program sarjana penuh. Pada tahun akademik 1984/1985, di IKIP Negeri Semarang, para mahasiswa angkatan 1982 atau 1983, masih tetap menyelesaikan studi mereka dengan kurikulum paket (lama) yang sedang berjalan. Dalam pada itu, untuk kurikulum Sistem Kredit Semester untuk jenjang S-1 mulai berjalan secara penuh untuk Angkatan 1984.

Dengan demikian, posisi saya jelas. Sebagai bagian dari Angkatan 1984, teman-teman saya yang mengambil S-1 saat itu, merupakan merupakan pengkonsumsi sistem SKS perdana yang paling mungkin baru akan menyelesaikan studinya paling cepat pada tahun 1988.

Kakak-kakak tingkat Angkatan 1982 dan 1983 saat itu masih menggunakan kurikulum paket dan menyelesaikan studi sarjana penuh mereka paling cepat pada 1986 atau 1987. Ketika lulus, mereka akan memiliki gelar Drs. dan Dra. Demikian pula untuk lulusan tahun 1988 - 1992. Sebab pemberlakuan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) baru setelah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 036/U/1993.

Oleh karena itu, manakala saya menjadi mahasiswa IKIP Negeri Semarang pada tahun akademik 1984/1985, kakak-kakak tingkat Angkatan 1982 dan 1983 masih mengerjakan penelitian akhir, dan masih saya ingat, istilah adalah “tesis” (ada pula yang menulis “thesis” dengan “th”).

Saat itu ada guyonan untuk menyebut kakak tingkat angkatan tersebut, dengan memelesetkan, seperti kalimat “Mas Eri sedang eksis di jalur tensis”. Bisa jadi kata plesetan “tensis” ini, maksudnya versi pengucapan dari kata bahasa Inggris tenses yang transkripsi fonetisnya /ˈtɛnsɪz/.

Ada pula guyonan lain, mentang-mentang ada yang menulis “thesis”, lalu the-nya diucapkan seperti the sebagai kata sandang tentu (definite article), dengan struktur fonetis /ðə/. Lalu terucap candaan, “Mas Eri sedang eksis di jalur ndesis”, sebagaimana ketika the bertemu dengan konsonan.

Dan, memang benar Angkatan 1982 dan 1983 itu menulis tugas akhir bernama tesis. Sebelum ada standardisasi terminologi lewat Kurikulum 1984, IKIP Negeri Semarang memang termasuk salah satu dari banyak perguruan tinggi di Tanah Air yang mengadopsi tradisi akademik Eropa (terutama Belanda) yang menamai karya ilmiah akhir untuk sarjana penuh (Drs/Dra) dengan tesis.

Adapun penyebutan skripsi sebagai karya ilmiah akhir, diawali oleh para mahasiswa dan mahasiswi IKIP Negeri Semarang Angkatan 1984. Nah, kalau seandainya saja pada tahun akademik 1984/1985 saya langsung mengambil jenjang S-1, tentu termasuk generasi pertama yang menyusun skripsi. Tapi, saya cukup sabar menunggu, sehingga baru pada 1998 berkesempatan menyusun skripsi.

Meskipun tidak benar-benar sama persis, alur saya dalam menempuh studi di IKIP Semarang tidak ubahnya seperti menjalani Kurikulum SKS dengan sentuhan rasa Kurikulum Lama. Saya seolah-olah berjuang terlebih dahulu menyelesaikan “sarjana muda” saya lewat Program D-3 (1984 - 1987). Dan, kemudian seolah-olah melanjutkan perjalanan ke “sarjana penuh” dengan menjalani Program Transfer S-1 (1994 - 1998).

Yah, waktu telah berlalu. Sarjana muda kini tinggal kenangan. Dan, waktu adalah yang fana. Manusia abadi dalam kenangan, karya, dan jejak yang mereka tinggalkan. Seperti kata penyair Sapardi Djoko Damono dalam Puisi “Yang Fana Adalah Waktu” (1978): //Yang fana adalah waktu./ Kita abadi: memungut detik demi detik,/ merangkainya seperti bunga/ sampai pada suatu hari/ kita lupa apa./ “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu./ Kita abadi.// ***


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kamar Dagang Umum Indonesia Shanghai Resmi Dibentuk untuk Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia-China
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Stasiun Bogor Kembali Dipadati Pekerja Usai Libur Lebaran
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Ramalan Zodiak 31 Maret 2026: Scorpio dan Pisces Diajak Lebih Jujur Soal Perasaan
• 47 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Asisten pelatih JST sebut Dewa United Banten lawan yang sulit
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Arus Kendaraan di Jaktim Kembali Macet Usai Libur Lebaran, Senin 30 Maret 2026
• 7 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.