Donald Trump-May L Trump Contoh Nyata Tak Selamanya Paman-Keponakan Sejalan dalam Urusan Politik

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keponakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Mary L. Trump, melontarkan kritik tajam yang menyindir klaim pamannya soal ambisi untuk mengubah rezim di Iran.

Sebaliknya, ia memprediksi bahwa pergantian kekuasaan justru akan segera terjadi di Amerika Serikat.

"Pada akhirnya, Donald akan mendapatkan perubahan rezim, tetapi di Amerika, bukan di Iran. No Kings," tulis Mary di akun media sosialnya.

Pernyataan itu lantas dengan cepat menuai puluhan ribu dukungan di media sosial. Hal itu dikatakan Mary merespons klaim Donald Trump pada 24 Maret lalu yang bilang ingin mengganti rezim di Teheran.

"Kita benar-benar mengalami perubahan rezim, karena semua pemimpinnya kini berbeda," klaim Trump kepada wartawan saat itu.

Hubungan Mary dan pamannya memang sudah lama retak dan eskalasi di Timur Tengah memperumit hubungan keluarga antar paman dan keponakan.

Mary berargumen bahwa manuver perang terhadap Iran sama sekali tidak didasarkan pada kalkulasi strategi geopolitik maupun ancaman keamanan yang mendesak.

Menurut analisis Mary, konflik tersebut sengaja dikobarkan sebagai taktik manuver politik domestik. Tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian publik dari berbagai tekanan politik yang saat ini sedang mengancam kekuasaan pamannya di dalam negeri.

"Ia sedang dalam masalah, dan ia menyadari hal itu," ungkap Mary.

Mary yang juga seorang psikolog menilai eskalasi militer ini hanyalah alat untuk menutupi kelemahan kepemimpinan Trump di panggung global.

Lebih lanjut, Mary secara terbuka menolak narasi pemerintah AS yang menyebutkan bahwa aksi militer tersebut bertujuan untuk membebaskan rakyat Iran dari pemerintahan otoriter.

Ia menegaskan, pamannya tidak memiliki ketertarikan nyata pada kesejahteraan rakyat Iran maupun rencana untuk membangun kebebasan di wilayah tersebut.

Sebaliknya, Mary memperingatkan bahwa "perang pilihan" ini hanya akan menelan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya, menghamburkan anggaran hingga miliaran dolar, dan semakin merusak kredibilitas Amerika Serikat di mata negara-negara sekutu.

Krisis Timur Tengah ini, dalam kacamata Mary, adalah cerminan skala besar dari pola perilaku destruktif Donald Trump yang telah lama ia amati dalam dinamika internal keluarga mereka.

Ia menyebut sang presiden memiliki rekam jejak kebiasaan buruk untuk "menciptakan kekacauan dan kemudian mengharapkan orang lain yang membersihkan puing-puing kehancurannya."


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga BBM Non-Subsidi Diramal Naik per 1 April 2026, Ini Besarannya
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menlu: Kecam Keras Insiden yang Tewaskan Pasukan Perdamaian di Lebanon
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Realisasi Bantuan Jadup Meningkat, Nafas Baru bagi Penyintas Bencana Bangkit dari Keterbatasan
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Appi Tantang Kader IMM Garap Dua Lorong Urban Farming di Makassar
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
• 5 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.